Genosida di Gaza bukan sebuah konflik, melainkan sebuah pembersihan etnis yang disaksikan oleh dunia dalam diam. Di tengah reruntuhan rumah sakit dan ribuan syahid, komunitas internasional bersikukuh menawarkan solusi usang (Solusi Dua Negara). Narasi ini bukan hanya tidak relevan, tetapi merupakan penipuan besar yang melanggengkan penjajahan Zionis.
Setiap promosi solusi ini sama dengan mengkhianati perjuangan rakyat Palestina yang berdarah-darah. Saatnya kita menolak ilusi dan menyatakan kebenaran: Solusi Dua Negara adalah batu nisan bagi keadilan di Palestina.
*Diplomasi sebagai Senjata Penjajahan*
Kondisi Gaza hari ini membuktikan kegagalan moral peradaban global yang mengaku modern. Zionis Israel dengan dukungan mutlak Amerika Serikat tidak hanya mengepung dan membombardir, tetapi menghancurkan sistem kehidupan secara sistematis. Norman Finkelstein dalam _Gaza: An Inquest Into Its Martyrdom_ membongkar bagaimana serangan Israel didesain untuk menciptakan "martyrdom" yang dipaksakan.
Fondasi kehidupan dari air, listrik, hingga pertanian sengaja diluluhlantakkan. Ini bukan perang, melainkan pemusnahan etnis yang terencana.
Sementara Gaza berdarah, dunia sibuk dengan simbolisme kosong pengakuan diplomatik. Pengakuan 156 negara terhadap Palestina (Tribunnews, 27/9/2025) ternyata hanyalah fatamorgana politik yang tak menyelamatkan nyawa.
Justru ketika pengakuan bertebaran, 158 perusahaan asing tetap mengeruk keuntungan dari pemukiman ilegal Israel (Kompas, 27/9/2025). Realitas ini menunjukkan skizofrenia politik internasional yang memprihatinkan. Mereka mengakui negara sambil membiarkan tubuhnya dicabik-cabik penjajahan.
Bantuan darurat 12 negara untuk Otoritas Palestina (Kompas, 27/9/2025) hanyalah perban di atas luka tembak yang dalam. Tindakan ini justru memperkuat status quo penjajahan yang mematikan. Otoritas Palestina sengaja dibuat bergantung dan tidak berdaya secara finansial. Mekanisme ini menjadi alat efektif untuk menekan perlawanan sah rakyat Palestina. Pada akhirnya, bantuan menjadi bagian dari sistem penjajahan itu sendiri.
*Membongkar Ilusi Solusi Dua Negara*
Solusi Dua Negara adalah proyek cacat yang dirancang untuk gagal sejak awal. Noam Chomsky dan Ilan Pappé dalam _On Palestine_ mengurai bagaimana kerangka ini melindungi kepentingan Israel. Solusi ini sengaja mengabaikan hak-hak fundamental rakyat Palestina yang paling dasar. Setiap kompromi dalam kerangka ini hanya memperkuat posisi penjajah. Pada hakikatnya, ini adalah bentuk penyerahan diri yang dilegalisasi.
Menerima Solusi Dua Negara berarti melegitimasi pencurian tanah secara besar-besaran. Palestina diharap berterima kasih atas sisa 22% tanahnya yang terkotak-kotak dan terfragmentasi. Ini sama dengan mengakui keabsahan perampasan 78% wilayah historis Palestina. Konsep ini mengharuskan pengorbanan hak pulang jutaan pengungsi Palestina. Solusi seperti ini hanya akan melahirkan negara boneka yang tak berdaulat.
Dalam _The Fateful Triangle_, Noam Chomsky membongkar mitos Amerika Serikat sebagai perantara netral. Chomsky menunjukkan bukti dokumentasi bagaimana AS memblokir setiap inisiatif diplomatik yang mengancam Israel. Retorika "proses perdamaian" digunakan untuk mencegah solusi nyata yang adil bagi Palestina. Solusi Dua Negara dalam analisis Chomsky hanyalah alat kontrol narasi yang canggih. Tujuannya melumpuhkan perlawanan Palestina sambil memberi Israel waktu memperkuat fakta di lapangan.
Gaza berfungsi sebagai laboratorium penindasan teknologi mutakhir. Antony Loewenstein dalam _The Palestine Laboratory_ mendokumentasikan eksperimen sistem penindasan di Palestina. Teknologi pengawasan, senjata, dan strategi penindasan diuji coba di sini sebelum diekspor global. Solusi Dua Negara adalah bagian dari eksperimen politik tersebut. Tujuannya mengukur sejauh mana sebuah bangsa bisa dihancurkan sementara dunia hanya menawarkan teori diplomatik.
Promosi Solusi Dua Negara oleh penguasa Muslim seperti Prabowo Subianto (Tribunnews, 27/9/2025) adalah bentuk pengkhianatan terselubung. Mereka menjadi bagian dari mesin propaganda yang dipaparkan Chomsky. Kata-kata manis tentang perdamaian digunakan untuk meredam amarah umat yang seharusnya bangkit. Sikap ini mencerminkan ketidakmampuan memahami akar masalah penjajahan. Pada akhirnya, mereka menjadi algojo berkedok juru damai.
*Kembali kepada Poros Islam*
Di tengah kepalsuan solusi buatan manusia, Islam menawarkan jalan tegas tanpa kompromi. Solusi syar'i mengharuskan pengerahan pasukan kaum Muslimin untuk jihad fi sabilillah. Ini adalah kewajiban kolektif (fardhu kifayah) yang jika diabaikan, seluruh umat memikul dosa. Kekuatan militer negeri-negeri Muslim yang disatukan mampu menghancurkan tembok apartheid Zionis. Sejarah membuktikan kekuatan umat Islam ketika bersatu dengan satu komando.
Ketakutan Zionis terhadap perlawanan Gaza membuktikan kelemahan struktural mereka. Pasukan gabungan negeri Muslim akan mengubah peta kekuatan regional secara drastis. Kemenangan bisa diraih dalam waktu singkat jika semua potensi dikerahkan. Kekuatan sebenarnya terletak pada persatuan umat Islam dengan satu panji. Tidak ada kekuatan yang bisa menghentikan umat Islam yang bersatu dengan iman.
Jihad memerlukan kepemimpinan yang menyatukan seluruh potensi umat. Khilafah Islamiyah adalah institusi yang menjadi otak dan jantung pergerakan umat. Hanya Khilafah yang memiliki otoritas syar'i untuk membebaskan tanah jajahan. Sistem ini akan meruntuhkan tembok nasionalisme sempit yang melemahkan. Khilafah akan mengembalikan umat Islam sebagai satu tubuh yang kuat dan disegani.
*Penutup*
Solusi Dua Negara adalah nisan bagi hak pulang pengungsi dan kedaulatan Palestina. Ini adalah produk sistem internasional zalim yang harus ditolak, bukan dirayakan. Seperti diungkap Chomsky, ini adalah trik untuk mengabadikan penjajahan dengan bungkus diplomatik. Setiap dukungan terhadap solusi ini adalah pengkhianatan terhadap perjuangan rakyat Palestina.
Para pemimpin Muslim harus berhenti menjadi corong penjajah dengan dalih perdamaian. Umat Islam harus bangkit dari tidur panjang dan menyadari tanggung jawabnya. Gaza tidak membutuhkan belas kasihan dan diplomasi palsu dari para penjajah. Pembelaan sejati hanya bisa diwujudkan dengan persatuan.
Pilihan kita sangat jelas dan tegas di hadapan fakta yang ada. Terbuai dalam ilusi Solusi Dua Negara yang palsu dan mengkhianati. Atau bangkit mengejar kemenangan sejati dengan Islam sebagai panduan. Tidak ada pilihan ketiga dalam pertarungan antara hak dan batil ini. Sejarah akan mencatat setiap pilihan yang kita ambil hari ini.
Allahu a'lam bishawwab.

No comments:
Post a Comment