Oleh. Sri Rahayu Lesmanawaty (Aktivis Muslimah Islam Kaffah)
“Tidak masalah tidak punya teman di dunia nyata, masih ada dunia maya untuk memperluas jaringan pertemanan”. Pada Hari Persahabatan Dunia (Friendship Day) yang dirayakan secara global pada 30 Juli 2025, mayoritas generasi Z justru merasa kesepian. Menurut survei yang dilakukan Redbox Rx, sebuah platform yang menyediakan layanan dan konsultasi medis online, pada 2024 menunjukkan 53% generasi Z dan 44% milenial mengaku kesepian sebagai masalah mental. Saat representasi digital kerap dianggap lebih riil daripada realitas itu sendiri, sebetulnya masalah sepi sudah menggerogoti hidup dalam sunyi.
Data Reportal Global Digital Insights menyebutkan jumlah pengguna aktif media sosial di dunia per awal 2025 mencapai sekitar 5,31 miliar orang atau 64,7% dari total populasi global. Angka ini tumbuh signifikan dari tahun-tahun sebelumnya, mendorong lebih banyak orang beralih ke platform daring untuk berbagai aktivitas.
Keramaian dalam platform media sosial ternyata belum memudarkan rasa sepi. Sekadar pelipur sementara sebatas menyediakan komunitas, interaksi virtual, memberikan rasa senang dan kepuasan sesaat, menghilangkan kepenatan hidup, belum memberi ruang sepi hilang dari hidup mereka.
Kapitalisme Sekuler Kamuflase Kesunyian
Mengutip kalimat seorang komika Wira Nagara, “Tingkat sepi paling mengerikan adalah sepi dalam keramaian.” Demikianlah saat kapitalisme sekuler menjadikan relung-relung kehidupan penuh sensasi keramaian. Sayangnya di tengah keramaian tersebut terciptalah kesepian yang dijawab dengan berbagai kamuflase.
Saat kapitalisme menciptakan sistem kehidupan berikut cara pandang tentangnya, masyarakat pun terseret dengan arus globalnya. Pola konsumtif tercipta saat urbanisasi menyebabkan pertumbuhan ekonomi terkonsentrasi di kota-kota besar disertai berdirinya pusat-pusat perdagangan dan industri. Pencapaian materi salah satunya diproduksi dalam konten media sosial. Rasa sepi seolah bisa hilang dengan memuaskan diri dalam lautan materi via media sosial yang menyediakan fasilitas live atau menjadi afiliator dalam rangka hasilkan cuan. Keasyikan membuat konten yang mampu hasilkan cuan seakan cukup meramaikan hidup.
Kapitalisme pun telah membuat nilai-nilai individualisme dan materialistis mengorbankan nilai dan kualitas hubungan dalam keluarga karena waktu tergerus oleh pencapaian materi. Materi seakan mampu menggantikan kebutuhan relasi. Alhasil ikatan dan interaksi emosional antaranggota keluarga pun kian lemah. Kapitalisme telah membuat produktivitas kerja mewujudkan kesunyian dan kerenggangan antara anggota keluarga. Saat bertemu gawai menggantikan pentingnya kebersamaan. Ramai digital sepi di ruang nyata.
Kapitalisme telah menyebabkan berbagai tekanan ekonomi. Pengangguran, kenaikan harga barang, serta komersialisasi layanan publik dan yang lainnya, ketidaktenangan pun meningkat. Kondisi ini membuat masyarakat merasa butuh hiburan, sekadar untuk hilangkan kepenatan. Ponsel pintar pun menjadi pilihan. Melaluinya media sosial menjadi kebutuhan dan pelarian sejenak dari kekalutan akibat tekanan ekonomi yang dihadapi. Industri digital kapitalistik pun membaca hal ini. Media sosial sebagai platform bisnis yang menguntungkan diperhatikan dengan menjadikan manusia sebagai komoditas. Berbagai cara dilakukan agar manusia betah berlama-lama menikmati konten yang disuguhkan, dan yang lainnya sibuk membuat berbagai konten sebagai capaian cuan. Tentunya para korporat kapitalis lah yang meraup untung fantastis dari kondisi ini.
Menyedihkankannya lagi, di tengah hingar bingarnya industri kapitalistik menderaskan arus di media sosial, dampak buruk tercipta di kehidupan masyarakat. Sikap asosial yang cenderung menghindari interaksi sosial atau memiliki kesulitan berinteraksi dengan orang lain, tercipta pada kehidupan masyarakat . Merasa puas hanya dengan berinteraksi secara virtual, memenuhi kesenangan dengan standar-standar dalam konten media sosial, telah mengubah paradigma bahwa menjalin hubungan dengan manusia tidaklah penting karena semua sudah tergantikan di ruang media sosial.
Terlebih lagi, senyatanya media digital telah menjadi alat penjajahan. Perang peradaban telah menghantam. Penyebaran informasi yang luas sehingga membuka peluang untuk manipulasi dan disinformasi yang bisa memengaruhi opini publik via media digital mengeliminir penyebaran informasi yang merugikan kepentingan para penjajah. Tentunya ini akan kontraproduktif dengan pemberdayaan pemuda muslim. Generasi muda yang notabene memiliki potensi menghasilkan karya-karya produktif dan edukatif akan sibuk sendiri dengan dunia virtualnya. Mereka ramai secara digital namun sepi dari potensi sebagai pembangun peradaban.
Kapitalisme telah membuat kesehatan mental generasi diragukan kestabilanhya. Mereka sepi di tengah keramaian. Pemikiran mereka sunyi dari pemikiran Islam. Mereka dipengaruhi berbagai pemikiran negatif saat mengakses pemikiran kufur yang menyesatkan. Potensi yang harusnya dibangun untuk membangkitkan pemikiran umat, teralihkan dengan kepuasan digital yang diaruskan.
Islam Melibas Kesunyian, Teknologi Digunakan Hanya Untuk Kebaikan
Saat ini penggunaan internet dan aktivitas di media sosial memang tidak bisa dihindari. Sebagai produk teknologi digital Islam tidak melarang memanfaatkannya selama untuk kebaikan. Tentunya Islam mengaturnya untuk aktivitas yang dapat membangkitkan pemikiran umat, bukan menenggelamkan pada aktifitas tak berguna.
Jika 'lonely in the crowd' terjadi terutama di kalangan generasi muda, akibat dari dangkalnya pemahaman tentang tujuan hidup dan identitasnya sebagai manusia, di mana dunia maya memanipulasi hiburan sebagai tipuan yang mewujudkan kesepian akut dalam keramaian, maka tidak demikian dengan Islam. Dalam Islam dijelaskan bahwa tujuan penciptaan manusia adalah beribadah kepada Allah Swt.. Identitas manusia sebagai hamba Allah Swt. haruslah tertanam kuat dalam diri seorang muslim. Standar hidup tidak terjebak konten duniawi, namun sangat ketat terikat pada aturan Allah Ta'ala. Seorang muslim tidak akan mudah terbawa arus kehidupan yang dipaksakan oleh sistem sekuler kapitalisme menjadi pakem yang dipegang erat.
Dalam Islam, identitas hidup seorang muslim harus tegas. Berislam kaffah harus jadi pilihan hidup. Butuh kesadaran penuh dalam memahami hubungan dengan Allah Swt. sebagai pengatur kehidupan. Konsekuensi sebagai hamba, adalah pilihan asasi hakiki dalam memahami, menerima, dan mengikuti ajaran Allah Ta'ala berdasarkan akal dan kesadaran penuh. Firman Allah Ta'ala,
لَآ اِكْرَاهَ فِى الدِّيْنِۗ قَدْ تَّبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّۚ فَمَنْ يَّكْفُرْ بِالطَّاغُوْتِ وَيُؤْمِنْۢ بِاللّٰهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقٰى لَا انْفِصَامَ لَهَاۗ وَاللّٰهُ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ ٢٥٦
“Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam). Sungguh, telah jelas jalan yang benar dari jalan yang sesat. Siapa yang ingkar kepada tagut dan beriman kepada Allah sungguh telah berpegang teguh pada tali yang sangat kuat yang tidak akan putus. Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (TQS Al-Baqarah: 256).
Sungguh Islam telah mengajarkan betapa pentingnya interaksi sosial sesuai syari'at, sesuai dengan batasan yang dibenarkan dalam Islam. Firman Allah Ta'ala,
وَاعْبُدُوا اللّٰهَ وَلَا تُشْرِكُوْا بِهٖ شَيْـًٔا وَّبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسَانًا وَّبِذِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنِ وَالْجَارِ ذِى الْقُرْبٰى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْۢبِ وَابْنِ السَّبِيْلِۙ وَمَا مَلَكَتْ اَيْمَانُكُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُوْرًاۙ ٣٦
“Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuatbaiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahaya yang kamu miliki. Sungguh Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri.”(QS. Annisa:36)
Dalam kitab Ajhizatu ad-Daulah al-Khilâfah fi al-Hukmi a al-Idarati hlm.246, dijelaskan bahwa negara akan mengeluarkan undang-undang yang menjelaskan garis-garis umum politik negara dalam mengatur informasi sesuai dengan ketentuan hukum-hukum syariat. Hal itu dalam rangka menjalankan kewajiban negara dalam melayani kemaslahatan Islam dan kaum muslim, juga dalam rangka membangun masyarakat islami yang kuat, selalu berpegang teguh dan terikat dengan tali agama Allah Swt., serta menyebarluaskan kebaikan dari dan di dalam masyarakat islami tersebut.
Di dalam masyarakat islami tidak ada tempat bagi pemikiran-pemikiran yang rusak dan merusak; juga tidak ada tempat bagi berbagai pengetahuan yang sesat dan menyesatkan. Masyarakat islami akan membersihkan keburukan berbagai pemikiran atau pengetahuan, memurnikan dan menjelaskan kebaikannya, serta senantiasa memuji Allah, Tuhan semesta alam.
Sejatinya Islam menjaga produktivitas generasi muda dan berkontribusi positif dalam menyelesaikan problem umat. Tentunya negara akan mengelola platform digital secara strategis. Mekanismenya dijalankan dengan baik, di antaranya:
Pertama, negara mendorong cendekiawan muslim menciptakan teknologi atau platform media sosial yang mengedukasi bagi seluruh lapisan masyarakat. Negara tidak akan membiarkan konten porno atau nirfaedah bertebaran di media sosial.
Kedua, negara memastikan kehadiran media digital semata-mata untuk menyebarkan dakwah amar makruf nahi mungkar serta menebar kebaikan untuk seluruh umat manusia. Jika dahulu dakwah Islam tersebar dengan melewati berbagai wilayah dan menjelajahi bumi yang luas. Kini, dakwah Islam bisa tersebar luas melalui media sosial.
Ketiga, negara mempermudah akses informasi dan komunikasi publik negara kepada rakyat sehingga dapat meminimalkan salah paham atau salah tafsir kebijakan negara kepada rakyat.
Keempat, negara menjadikan media sosial untuk mempermudah akses rakyat terhadap layanan publik, kritik, dan saran yang ditujukan kepada pengusa dan pejabat pemerintah.
Demikianlah dalam memanfaatkan media digital dan memberdayakan generasi muda Islam tak akan biarkan mereka terjerwt pada perkara-perkara yang sia-sia. Islam akan mengarahkan generasi muda terisolasi dalam dekapan kesepian dari keutamaan sebagai makhlukNya. Sepi dalam keramaian bukan pilihan generasi. Islam akan menjaga generasi dalam aktivitas produkrif yang bermanfaat untuk kebaikan umat pada masa depan sebagai generasi penjaga Islam Kaffah yang terpercaya hingga terwujud kembali dalam bingkai Khilafah Islamiyyah yang Allah Ta'ala meridhoinya. In syaa Allaah.
Wallaahu a'laam bisshawaab.

No comments:
Post a Comment