Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Insiden Ponpes Al Khoziny: Bukti Kegagalan Pelayanan Pendidikan dalam Kapitalisme

Wednesday, October 22, 2025 | Wednesday, October 22, 2025 WIB Last Updated 2025-10-22T08:01:35Z



Oleh Kiki Ariyanti 

Aktivis Muslimah


Al Khoziny adalah salah satu pondok pesantren (ponpes) yang ada di kota Sidoarjo, Jawa Timur. Beberapa Minggu lalu suasana haru dan panik sedang menyelimuti pondok pesantren Al Khoziny. Publik dibuat terkejut karena adanya insiden yang menimpa Pondok Pesantren tersebut. Tidak disangka dan sungguh memprihatinkan sebuah bangunan Pondok Pesantren ambruk sampai menelan banyak korban. 

Dikutip dari CNNIndonesia.com Selasa (07/10/2025). Gedung tiga lantai termasuk mushola di asrama putra Pondok Pesantren Al Khoziny itu ambruk pada Senin (29/9) sore. Saat kejadian ratusan santri tengah melaksanakan salat Ashar berjamaah di gedung yang masih dalam tahap pembangunan. Sejumlah santri ada yang berhasil selamat, namun puluhan lainnya masih terjebak dan ditemukan telah meninggal dunia.

Kepala badan SAR Nasional (Kabasarnas), Marsekal Madya TNI Muhammad Syafie, secara resmi menyatakan operasi SAR di lokasi runtuhnya bangunan mushola ditutup pada Selasa, 07 Oktober 2025 setelah sembilan hari penuh operasi tanpa henti dengan total 171 korban berhasil dievakuasi, yang terdiri dari 104 korban selamat dan 67 korban meninggal dunia. (Antaranews.com Selasa, 07/10/2025)

Ambruknya bangunan di pondok pesantren Al Khoziny telah membawa duka tersendiri terutama pada keluarga korban. Insiden ini tidak semata tentang tragedi yang memilukan, tapi sebelum musibah ini terjadi ada hal yang seharusnya perlu ditinjau yaitu tentang prosedur bangunan pondok pesantren tersebut. Apabila dipahami bentuknya, ambruknya bangunan pondok pesantren diduga karena kegagalan kontruksi bangunan yang tidak kuat dan pengawasan yang buruk. Sehingga bagunan tidak dapat berfungsi dengan baik yang menyebabkan bangunan runtuh. Selain itu muncul sebuah video yang katanya menunjukkan jika para santri lagi ngecor bangunan pesantren. Hal ini memunculkan kontroversi publik soalnya ini bukan hanya soal bangunan yang roboh tapi juga soal keselamatan dan hak anak-anak yang belajar disana.

Adapun untuk dana pembangunan pondok pesantren umumnya berasal dari wali santri dan donatur yang terbatas. Padahal pendidikan adalah salah satu kebutuhan pokok yang wajib disediakan oleh negara. Dan negara harus mampu memfasilitasinya agar seluruh anak bangsa bisa mendapatkan pendidikan yang baik dan layak. Namun sayang, tragedi ini sudah menunjukkan bahwa tanggung jawab pemerintah dalam menyediakan fasilitas pendidikan sangatlah minim dan malah tanggung jawab itu dibebankan kepada masyarakat. Justru, saat ini negara malah menjadikan pendidikan sebagai barang komersial. Dunia pendidikan menjadi sektor strategis untuk mendongkrak pemasukan ekonomi. Inilah paradigma sistem kapitalisme. 

Penerapan sistem kapitalis sekuler saat ini sudah melekat pada negeri ini. Dalam kapitalisme segala kebijakan yang dibuat diupayakan untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya dari berbagai pihak. Akibatnya hanya masyarakat yang mempunyai dana besar mampu mengeyam pendidikan yang baik dan layak. Sedangkan masyarakat yang ekonominya rendah kesulitan untuk mendapatkan pendidikan berkualitas, butuh upaya yang maksimal agar bisa mengeyam pendidikan yang tak jarang justru mengancam nyawa mereka sendiri.

Dari insiden pondok pesantren Al Khoziny hendaknya menjadi bahan introspeksi semua pihak bahwa beginilah sistem kapitalis bekerja. Dari lemahnya tanggung jawab yang mengakibatkan kegagalan dalam pembangunan infrastruktur hingga serakahnya penguasa yang mengakibatkan kapitalisasi pendidikan terjadi. Karena itu kita harus sadar bahwa negara berbasis kapitalisme jelas telah gagal dalam memberikan pelayanan pendidikan pada rakyatnya.

Maka dari itu agar permasalahan ini tidak terulang kembali solusinya hanya kembali kepada Islam. Islam menetapkan bahwa setiap rakyat harus mendapatkan kualitas pendidikan baik. Dan negara wajib menyediakan fasilitas pendidikan dengan standar keamanan, kenyamanan dan kualitas pendidikan terbaik tanpa ada diskriminasi si kaya atau si miskin. Sedangkan untuk pendataan fasilitas pendidikan sepenuhnya berasal dari negara dan sudah diatur dalam sistem keuangan Baitul mal. Sehingga dapat melahirkan pembiayaan pendidikan yang murah bahkan gratis.

Disinilah negara dalam sistem Islam sangatlah berperan dalam menjaga kualitas pendidikan. Semua kebijakan yang ditetapkan oleh pemimpin dalam sistem Islam tujuannya hanya untuk kepentingan rakyat bukan untuk kepentingan penguasa dan para pemilik modal. Maka pendidikan yang layak bagi generasi hanya bisa diperoleh dalam negara yang menerapkan sistem Islam secara kaffah. Wallahu 'alam bisshawwab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update