Oleh Tri Sundari, A.Ks
Pegiat Literasi
Beberapa hari terakhir kita menyaksikan berita duka yang mendalam. Gedung lantai 4 Pondok Pesantren Al Khoziny yang terletak di Buduran, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, ambruk, dan menimpa santri yang sedang melaksanakan salat Asar di lantai 2. Terdapat sekitar 160 korban, sebagian besar korban selamat, akan tetapi ada pula yang ditemukan dalam keadaan meninggal dunia.
Tim SAR gabungan bersama BNPB sejak hari Kamis, 2 Oktober 2025 telah mengerahkan alat berat agar dapat mempercepat pembersihan puing-puing reruntuhan bangunan. Beberapa titik difokuskan yang disinyalir merupakan lokasi adanya korban. (Metro TV, 4/10/2025)
Lima puluh tujuh jenazah telah ditemukan dan Tim DVI Polda Jawa Timur telah berhasil mengidentifikasi 40 jenazah korban ambruknya bangunan musala dan asrama Ponpes Al Khoziny, Sidoarjo. Adapun enam jenazah baru dapat teridentifikasi pada hari Rabu (8/10) setelah proses pencocokan data antemortem dan postmortem yang dilakukan secara menyeluruh. (Detiknews, 9/10/2025)
Duka yang mendalam dirasakan oleh sejumlah orang tua yang anaknya menjadi korban. Harapan untuk menjadikan anak-anak mereka memiliki pemahaman agama yang baik, pupus saat mendapati anaknya ditemukan tidak bernyawa. Tidak dapat dipungkiri bahwa itu merupakan takdir yang harus diterima, akan tetapi hal ini dapat dihindari jika pengelola Ponpes memperhatikan dengan baik standar mendirikan sebuah bangunan.
Bangunan pondok pesantren yang ambruk tersebut disinyalir memiliki konstruksi bangunan yang tidak kokoh. Foto yang beredar di sosial media memperlihatkan tiang-tiang penyangga bangunan yang tidak proporsional. Fakta di lapangan juga menunjukkan bahwa bangunan yang ambruk tersebut ternyata tidak memiliki izin pendirian bangunan.
Umumnya dana yang digunakan untuk pembangunan sebuah pondok pesantren berasal dari wali santri dan donatur yang terbatas, demikian juga halnya dengan Ponpes Al Khoziny. Ketika melakukan pembangunan para santri juga turut dilibatkan dalam prosesnya. Padahal para santri tersebut masih anak-anak yang belum mengerti tentang konstruksi sebuah bangunan. Mereka turut membantu karena memiliki keyakinan bahwa perbuatan yang mereka lakukan adalah kebaikan dan akan mendapatkan pahala.
Sejatinya sebuah bangunan yang dipergunakan untuk pendidikan atau kepentingan umum harus memiliki izin untuk mendirikan bangunan. Pengelola Ponpes juga harus meminta pendapat atau mempekerjakan orang-orang yang memiliki keahlian di bidang bangunan, karena menyangkut keselamatan banyak orang.
Musibah yang terjadi di Ponpes Al Khoziny seharusnya tidak perlu terjadi, jika pemerintah melakukan tugasnya sebagai ra'in bagi rakyatnya. Pemerintah sejatinya memiliki tanggung jawab untuk menyediakan fasilitas pendidikan yang layak. Pajak yang diambil dari rakyat harusnya dapet dikelola dengan baik untuk memberikan kesejahteraan rakyat tanpa membebani lagi rakyatnya.
Dalam sistem kapitalis, mencari keuntungan sebesar-besarnya merupakan tujuan utama mereka. Berusaha mengeluarkan modal seminimal mungkin untuk mendapatkan keuntungan yang besar. Mereka tidak memikirkan dampak buruk yang ditimbulkan ketika misalnya bangunan tersebut terdapat masalah ketika digunakan. Kondisi tersebut akan berbeda jika sistem Islam yang ditetapkan.
Di dalam Islam, negara memiliki kewajiban untuk menyediakan fasilitas pendidikan dengan standar keamanan, kenyamanan dan kualitas yang baik. Orang tua tidak akan merasa khawatir ketika menitipkan anak-anaknya di sekolah atau pondok pesantren. Negara bertanggung jawab penuh kepada rakyatnya, sehingga akan berusaha memberikan yang terbaik.
Adapun pendanaan fasilitas pendidikan dalam Islam diatur melalui sistem keuangan yang sangat baik yaitu baitul mal. Negara bertanggung jawab terhadap fasilitas pendidikan tanpa membedakan sekolah negeri atau swasta, kaya atau miskin. Setiap warga negara memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan yang layak dan belajar dengan tenang, sehingga menghasilkan generasi muda yang unggul.
Islam telah memberikan panduan dengan sangat teliti dan jelas. Solusi Islam akan menuntaskan segala permasalahan yang ada hingga tuntas dan tidak akan ada yg terzalimi.
Wallahu'alam bisawwab.

No comments:
Post a Comment