Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

FENOMENA SUMBU PENDEK TANPA ISLAM

Friday, October 17, 2025 | Friday, October 17, 2025 WIB Last Updated 2025-10-17T02:55:07Z

Oleh: Liza Khoirina (Ibu Rumah Tangga)


Perkara sepele, tapi menjadi peristiwa bumerang. Sebab pemikiran pendek yang akhir-akhir ini menimpa pasangan muda-mudi. Baik mereka yang terikat pernikahan ataupun di luar pernikahan. Misalnya salah satunya ini. Hanya karena tidak ada makanan dan permintaan didihkan air untuk susu anak, suami kalap dan tega bunuh istri. Sungguh hidup begitu keras hingga bertindak beringas, tanpa pikir panjang.


Beberapa pekan ini. Kita sering disuguhi fakta aksi kekerasan yang berujung kematian, bahkan sadisnya hingga memutilasi korban sampai di luar batas sifat manusiawinya. Masyarakat benar-benar berada pada posisi jatuhnya mental, krisis pada semua sisi. Krisis agama, keluarga, moral, sosial, bahkan budaya politik yang tak lagi bisa diharapkan perbaikannya ke depan.


Sistem hari ini yang meniadakan peran agama dalam kehidupan telah menjadikan masyarakat berpikir pendek. Tekanan hidup sebab tidak ada sandaran iman, ditambah susahnya pemenuhan kebutuhan pribadi dan masyarakat menjadikan mental down, kosong ruh. Pandangannya hanya tentang hari ini, bukan esok yang kekal.


Persoalan ketimpangan ekonomi sosial telah mewujud peristiwa-peristiwa mengerikan. Goncangan demi goncangan di tubuh umat menjadikan pondasi kasih sayang dalam keluarga hilang, berubah malapetaka yang meninggalkan luka menganga. Pelampiasan yang berujung penyesalan panjang.


Tentu, ini bukan potret rusaknya person sebagaimana kebanyakan orang katakan. Tapi rusaknya tatanan masyarakat sebab membuang agama dalam kehidupan. Agama hanya dipahami pada porsi ritual dan spritual. Padahal agama adalah aturan hidup yang menjangkau semua bidang. Termasuk terjaminnya kesejahteraan yang menjadikan keluarga sakinah wa rahmah.


Islam telah menempatkan takwa (takut pada Allah swt) dalam setiap aktivitas umat. Menjadikan hidup berpikir jauh ke depan. Pertanggungjawaban amal di hadapan manusia dan Tuhan akan menjadikan pribadi-pribadi tenang, tidak buru-buru mengambil keputusan. Apalagi sampai gelap mata menyakiti orang-orang tersayang. 


Islam memiliki kunci konsep bagaimana interaksi berjalan sesuai fitrah. Itulah takwa sebagaimana wasiat Alquran dan Sunnah. Juga cermin hidup masyarakat dalam peradaban Islam. Bangunan rumah tangga yang terikat takwa akan menumbuhkan komunikasi baik dengan pasangan. Saling support melaksanakan tugas rumah dan di luar rumah. 


Tanggung jawab membesarkan anak dengan saling mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran, akan menambah harmoninya rumah tangga. Suami tidak arogan karena telah berjuang di medan nafkah. Begitupun istri, tidak akan merasa tertindas karena kodrat rumahan. Balasan pahala melimpah jadi dambaan manakala mengatur rumah suami dan membesarkan anak tercinta.


Gambaran sejuknya rumah yang dibangun dengan iman dan Islam tergambar dalam hadits Rasul saw. Beliau kias demikian kalimat penuh makna, "Rumahku adalah Surgaku."


Rumah tempat ternyaman suami pulang menghilangkan penat selama perjuangan. Rumah tempat sejuk anak-anak setelah seharian berlarian. Dan rumah tempat mengumpulkan pahala dan kebaikan bagi ibu dan istri yang senantiasa siap menyediakan tikar dan sajian bagi penghuni rumah yang diamanahkan. Islam selalu punya porsi dalam setiap bentuk kehidupan. Tidak seperti kapitalisme yang mencukupkan kehidupan pada kesenangan duniawi, lalu  mengabaikan yang lebih utama, yakni negeri yang abadi.[]

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update