Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Fatherless Meluas, Dampak dari Sistem Kapitalisme

Thursday, October 23, 2025 | Thursday, October 23, 2025 WIB Last Updated 2025-10-22T23:44:50Z




Oleh Ummu Kholda 

Pegiat Literasi 


Fatherless atau kondisi ketika anak tumbuh tanpa kehadiran figur ayah belakangan ini semakin meluas. Kondisi ini tidak hanya memengaruhi perkembangan anak secara emosional, tetapi juga secara sosial dan kognitif. Menurut data yang dipublikasikan Kompas tanggal 8 Oktober 2025, sekitar seperlima anak Indonesia atau 20,1 persen (15,9 juta anak), tumbuh tanpa pengasuhan ayah atau mengalami kondisi tersebut. Angka ini bukan sekadar statistik, akan tetapi cermin persoalan mendalam dalam struktur keluarga dan budaya kerja di Indonesia yang sering menempatkan ayah sebagai sosok pencari nafkah semata buka sebagai pendidik dan teladan bagi anak-anaknya. 


Ketiadaan ayah dalam pengasuhan anak sebenarnya tidak selalu berarti tidak adanya ayah secara fisik, bahkan sebagian besar kasus fatherless di Indonesia justru ayah hadir secara fisik tetapi absen secara emosional dan pengasuhan. Banyak ayah yang bekerja 60 jam per pekan sehingga waktu untuk anak-anak terbatas. Selain Itu, fatherless juga disebabkan karena faktor dari orang tua, baik karena perceraian maupun kematian. (Tagar.co, 8/10/2025) 


Kapitalisme Meminggirkan Peran Ayah 


Fenomena fatherless ini ternyata bukan semata masalah keluarga, tetapi cerminan budaya patriarki dan sistem sosial yang menempatkan tanggung jawab domestik hampir seluruhnya di pundak ibu. Sementara ayah sudah merasa perannya selesai ketika sudah memenuhi kebutuhan ekonomi keluarganya. Padahal pengasuhan anak membutuhkan kehadiran seorang ayah secara emosional, teladan moral dan interaksi sehari-hari dalam membangun kedekatan. (Tagar.co, 8/10/2025) 


Di sisi lain, Dekan Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada, Dr Rahmat Hidayat, mengatakan jika ketidakhadiran figur ayah dalam keluarga berdampak pada perkembangan anak meliputi aspek psikologis hingga aspek sosial. Pekerjaan ayah yang menuntut mobilitas tinggi misalnya, membuat minimnya waktu kebersamaan dengan anak karena sibuk mencari nafkah, padahal kehadiran ayah tetap dibutuhkan untuk mendukung perkembangan emosional dan sosial anak. (Detik.com, 17/10/2025) 


Munculnya fatherless memang bisa disebabkan oleh berbagai faktor. Selain faktor yang tersebut di atas, penyebab utamanya adalah  sistem yang diemban saat ini yakni kapitalisme sekuler. Sistem yang berasaskan sekuler ini telah meniadakan peran agama dalam urusan kehidupan, termasuk dalam hubungan keluarga, di mana peran ayah sebagai pendidik anak semakin minim. Baik karena terbatasnya waktu maupun kesibukan lainnya. Sistem ini juga telah banyak menjadikan sebagian orang tua lebih mementingkan mengejar capaian materi (harta dan jabatan) dari pada meluangkan waktu untuk membersamai dan mendidik anak. Meskipun kondisi ini juga tak lepas dari kebijakan kapitalis dari negara. Sebut saja misalnya minimnya lapangan kerja sementara kebutuhan kian meningkat; harga barang pokok terus melambung;  biaya pendidikan dan kesehatan mahal, sehingga peran orang tua terpaksa banyak di luar mencari tambahan rupiah. Ditambah lagi gempuran teknologi digital melalui gadget juga semakin menjauhkan ayah dari anak, masing-masing sibuk dengan gadgetnya. 


Hal lain yang tidak kalah pentingnya adalah hilangnya fungsi ayah sebagai pemimpin (qawwam) di dalam keluarga baik sebagai pemberi nafkah maupun pemberi rasa aman bagi anak-anak. Dalam hal pengasuhan dan pendidikan anak tidak jarang yang menyerahkan semuanya kepada ibu, peran ayah seolah cukup hanya pencari nafkah. Akibatnya krisis teladan kepemimpinan pun tak terhindarkan. Dampaknya, anak-anak rentan mengalami stress, depresi, hingga bunuh diri.


Sementara pemerintah sendiri belum maksimal menangani anak-anak yang mengalami fatherless ini. Meski telah mengeluarkan program seperti Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI), yang dimaksudkan untuk membangun kesadaran kolektif para ayah untuk mendampingi tumbuh kembangnya, akan tetapi gerakan ini terkesan sebatas seremonial belaka. Karena lebih bersifat anjuran, tidak komprehensif dan tidak berkesinambungan, yang disebabkan kebijakan sistemik yang justru menjadi penyebab meluasnya fatherless. 


Akibat kebijakan yang lahir dari sistem kapitalis ini, peran ayah sebagai pendidik anak terpinggirkan dikarenakan ketidakpahaman peran masing-masing dalam keluarga. Kedudukan seorang ayah merasa lebih tinggi dibandingkan seorang ibu sehingga menganggap urusan anak adalah urusan perempuan, dirinya lepas tangan dalam hal mendidik dan memberi rasa aman. Akibatnya anak semakin jauh dari ayahnya. Jika sistem ini dibiarkan, maka permasalahan fatherless tidak akan tersolusikan, bahkan semakin bertambah luas. 


Mengembalikan Peran Ayah dalam Keluarga


Dalam Islam, ayah dan ibu sama-sama mempunyai fungsi yang sangat penting. Allah Swt. telah menciptakan laki-laki sebagai pemimpin dan penanggung jawab bagi keluarganya termasuk anak-anaknya. Seorang ayah tidak hanya sebagai pencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan pokoknya seperti sandang, pangan, dan papan saja, akan tetapi dalam hal mendidik anak pun menjadi tanggung jawabnya, sama pentingnya dengan peran ibu. Dalam Al-Qur'an peran ayah digambarkan pada surah Luqman ayat 17, yang artinya: "Wahai anakku! Dirikanlah shalat, suruhlah (manusia) berbuat yang makruf dan cegahlah dari yang mungkar, dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara yang penting."


Dari ayat tersebut, ayah berperan penting dalam penanaman tauhid, pembiasaan ibadah, menasehati untuk takwa, pergaulan secara makruf, dan menjadi teladan dalam kepemimpinan. Peran ibu pun tak kalah pentingnya, seperti mengasuh, menyusui, mendidik, dan mengatur urusan rumah tangga. 


Selain itu, negara yang menerapkan aturan Islam akan mensupport peran ayah. Negara akan menyediakan layanan publik seperti kesehatan, pendidikan, dan keamanan secara gratis, sehingga para ayah tidak stress memikirkan biayanya. Selain itu, negara juga akan menyediakan lapangan kerja yang luas, agar para ayah mampu memberikan nafkah secara makruf. Karena dalam Islam, SDA yang melimpah akan dikelola oleh negara, dan hasilnya untuk kemaslahatan rakyat, dan kebijakan ini akan berpeluang dibutuhkannya banyak tenaga kerja. 


Para ayah juga tidak akan diforsir tenaganya ketika bekerja, karena tidak mengejar capaian materi semata. Keluarga muslim memahami konsep qana'ah (merasa cukup) dan tujuan yang mulia dalam membangun rumah tangga. Negara juga membangun infrastruktur secara berkualitas untuk menunjang para ayah agar dapat dengan mudah menuju tempat kerja, sehingga tidak menghabiskan waktu di jalan, baik karena macet ataupun infrastruktur yang buruk. Dengan begitu para ayah akan memiliki banyak waktu untuk keluarganya, terutama anak-anaknya. 


Dalam hal perwalian, Syekh Taqiyuddin an-Nabhani menjelaskan dalam Nizham al-ijtima'i fi al-Islam (Sistem Pergaulan dalam Islam) bab 'Perwalian Ayah' bahwa karena ayah adalah kepala rumah tangga, pemimpin sekaligus pengurus rumah tangga, sudah seharusnya ia memiliki perwalian (wilayah) atas rumah tangganya. Ayah adalah wali bagi anak-anaknya, baik yang masih kecil maupun sudah besar, tetapi belum balig, baik laki-laki maupun perempuan, baik terikat jiwa maupun harta. Dari sistem perwalian juga Islam akan menjamin setiap anak akan tetap memiliki figur ayah, karena setiap walinya akan bertanggung jawab. 


Tak hanya itu, sistem pendidikan yang digunakan berasaskan akidah Islam, sejalan dengan  tugas ayah menanamkan tauhid/akidah sehingga mendukung peran ayah di rumah. Sistem Islam juga menyiapkan para calon ayah untuk faqih terhadap agama termasuk paham ilmu pendidikan anak. Ilmu tersebut diajarkan baik secara formal dalam sistem pendidikan maupun nonformal di masjid-masjid oleh para ulama sehingga mampu menjangkau semua laki-laki. Semua diajarkan secara kontinu oleh negara dan gratis karena biayanya ditanggung baitulmal. 


Demikianlah gambaran peran ayah di dalam keluarga yang didukung oleh sistem sahih (benar) yakni Islam. Dengan konsep seperti ini, para ayah akan dapat memaksimalkan fungsinya, menjadi pemimpin rumah tangga sekaligus mendidik anak-anaknya serta membersamai tumbuh kembangnya, sehingga tidak ada solusi lain untuk fatherless saat ini kecuali kembali kepada sistem atau aturan Allah Swt. yang dengan penerapannya secara total akan mampu menjadi solusi bagi kehidupan seluruh manusia. 


Wallahu a'lam bi ash-shawab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update