Oleh Rena Malinda
Aktivis Dakwah
Fenomena fatherless generation atau “generasi tanpa ayah” kini kian marak di tengah masyarakat modern. Saat ini semakin banyak anak-anak yang tumbuh tanpa kehadiran figur ayah di sisi mereka, baik secara fisik, emosional, maupun spiritual. Anak-anak tumbuh tanpa kehadiran sosok ayah yang seharusnya menjadi pelindung, pemimpin, sekaligus teladan dalam keluarga. Di Indonesia, fenomena ini kian terasa di tengah meningkatnya angka perceraian, orang tua tunggal, serta ayah yang sibuk bekerja tanpa waktu bagi anak, menjadi wajah nyata dari keluarga yang kehilangan kehangatan dan arah.
Seperti yang dikutip dari laman www.kompas.id (Jumat, 10/Oktober/2025) “Olahan data tim Jurnalisme Data dari data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2024, ada 15,9 juta anak atau setara dengan 20,1 persen dari total 79,4 juta anak yang berusia kurang dari 18 tahun yang berpotensi mengalami fatherless. Sebanyak 4,4 juta karena tidak tinggal bersama ayah. Adapun 11,5 juta anak karena ayahnya sibuk bekerja atau separuh harinya lebih banyak bekerja di luar rumah.”.
Fenomena ini bukan sekadar persoalan rumah tangga, melainkan buah dari sistem kehidupan sekuler kapitalis yang telah merusak tatanan keluarga sampai ke akar-akarnya. Sistem ini menjadikan manusia terobsesi pada materi, memaksa laki-laki bekerja keras tanpa henti demi memenuhi kebutuhan hidup di tengah biaya hidup yang tinggi. Peran ayah direduksi menjadi mesin pencetak uang, bukan lagi pemimpin yang mendidik dan membimbing keluarga menuju ketaatan kepada Allah.
Lebih parah lagi, sistem sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan telah mencabut nilai-nilai spiritual dari keluarga. Keluarga tidak lagi dibangun atas dasar ibadah dan tanggung jawab di hadapan Allah, melainkan atas dasar kesenangan, kebebasan, dan kesetaraan semu. Budaya populer dan media Barat turut menanamkan pemikiran bahwa peran ayah tidak begitu penting, bahkan bisa digantikan. Narasi seperti ini menjadikan banyak laki-laki kehilangan jati diri sebagai pemimpin keluarga, dan perempuan dipaksa mengambil peran ganda karena dorongan ide kesetaraan gender yang kebablasan.
Dalam sistem sekuler kapitalis, keluarga bukan lagi institusi suci, melainkan bagian dari roda ekonomi. Istri bekerja di luar rumah demi menutupi kebutuhan, anak-anak diasuh oleh sekolah atau gawai, sementara ayah bekerja tanpa henti hingga kehilangan fungsi sosial dan spiritualnya. Akibatnya, muncul generasi yang rapuh secara mental, kehilangan arah hidup, dan tidak mengenal makna tanggung jawab. Inilah generasi tanpa ayah yang kini menjadi realita pahit di banyak negara, termasuk di Indonesia.
Berbeda dengan sistem kapitalisme, Islam menempatkan keluarga sebagai pondasi utama peradaban. Dalam Islam seorang ayah bukan hanya sekedar sosok pencari nafkah, melainkan qawwam atau pemimpin, pelindung, dan pendidik keluarga. Islam juga menegaskan bahwa negara memiliki tanggung jawab memastikan kestabilan keluarga. Negara tidak boleh membiarkan rakyat hidup dalam tekanan ekonomi yang memaksa mereka meninggalkan keluarganya. Dalam sistem Islam, negara menjamin kebutuhan dasar rakyat seperti pendidikan, kesehatan, dan keamanan secara cuma-cuma. Dengan demikian, para ayah tidak perlu terjerat lembur tanpa akhir hanya untuk sekadar bertahan hidup.
Dalam sistem Islam, aturan syariat ditegakkan secara menyeluruh. Sistem ekonomi Islam menjamin kesejahteraan keluarga, sistem sosial Islam mengatur peran laki-laki dan perempuan secara adil berdasarkan kodratnya, dan sistem pendidikan Islam membentuk generasi berkepribadian Islami. Negara tidak membiarkan rakyatnya hanyut dalam krisis moral dan ekonomi.
Jika sistem Islam diterapkan, tak akan ada “fatherless generation”. Sebab, keluarga dibangun atas dasar takwa, bukan ambisi materi. Negara melindungi mereka dari kesulitan, dan masyarakat menjadi benteng moral. Hanya dengan sistem Islam, generasi penerus akan tumbuh dalam kasih sayang, keimanan, dan keteladanan.
Wallahualam bissawab.

No comments:
Post a Comment