Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Tumpas Kebrutalan Zionis dengan Solusi Hakiki

Saturday, September 13, 2025 | Saturday, September 13, 2025 WIB Last Updated 2025-09-13T00:28:33Z

 


Oleh: Sartinah

(Pegiat Literasi)


Derita warga Gaza belum berakhir. Tetesan air mata dan darah masih terus membanjiri tanah Palestina. Hal ini disebabkan oleh serangan brutal Zionis Yahudi yang dilakukan tanpa kenal waktu. Setelah sekian lama menargetkan rakyat sipil Gaza, entitas Yahudi pun menyasar para jurnalis. Zionis Yahudi menyerang Rumah Sakit Nasser yang terletak di Khan Younis, Gaza bagian selatan.


Dalam serangan tersebut sekitar 20 orang tewas. Lima dari jumlah tersebut merupakan para jurnalis dari media-media internasional, seperti Al Jazeera, Reuters, Middle East Eye, dan lainnya. Lembaga Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga mengkonfirmasi tentang tewasnya empat petugas medis dalam serangan tersebut. Sejak terjadinya genosida di Gaza, yakni Oktober 2023, jurnalis yang terbunuh sudah berjumlah sekira 200 orang. (Bbc.com, 26-8-2025)


Pembunuhan terhadap para jurnalis disebut oleh media Al Jazeera sebagai upaya pembungkaman suara-suara yang ingin mengungkap rencana Zionis untuk menguasai wilayah Gaza. Merespons pembunuhan terhadap jurnalis, seorang eksekutif Al Jazeera menyebut bahwa para jurnalis tidak akan mundur untuk meliput tentang Gaza. Dirinya bahkan menyerukan agar organisasi media lain di berbagai negara merekrut banyak jurnalis. Seruan tersebut dilakukan untuk memastikan informasi di lapangan tentang Gaza dapat diberikan kepada dunia secara riil.


Bungkamnya Dunia


Kebrutalan entitas Zionis Yahudi memang sudah di luar nalar. Mereka tidak hanya membunuh warga sipil, menyerang fasilitas medis dan sekolah, tetapi juga membunuh para jurnalis. Padahal pembunuhan terhadap jurnalis merupakan pelanggaran hukum internasional. Tak hanya itu, pembunuhan tersebut merupakan pelanggaran terhadap kebebasan pers.


Para jurnalis seharusnya bisa bekerja di mana saja. Mereka yang sedang memberi informasi dari lapangan seharusnya tidak diintimidasi, dilecehkan, apalagi menjadi sasaran pembunuhan. Sayangnya, hal itu tidak berlaku saat terjadi konflik di Gaza. Bahkan, disebutkan bahwa konflik yang terjadi di Gaza menjadi yang paling mematikan bagi jurnalis.


Genosida terhadap rakyat Gaza dan pembunuhan jurnalis media internasional memang mendapat perhatikan banyak negara. Negara-negara di dunia juga mengetahui dengan baik apa yang dilakukan Zionis Yahudi di Palestina. Namun, para penguasa dunia itu tetap diam membisu. Tak ada satu pun dari mereka yang benar-benar tergerak untuk membantu Palestina dengan mengerahkan pasukannya.


Kata-kata yang keluar dari lisan mereka hanyalah kecaman yang sejatinya tidak berefek apa pun. Andaipun membantu, sifatnya hanyalah bantuan kemanusiaan yang secara hakiki tidak mungkin membebaskan Palestina dari penjajahan. Mirisnya lagi, sebagian penguasa bahkan memberi solusi dua negara dengan dalih mencari perdamaian. Padahal solusi dua negara merupakan pengakuan secara tidak langsung terhadap eksistensi Zionis Yahudi.


Tak hanya itu, di antara para penguasa muslim bahkan ada yang tetap menjalin kerja sama dengan Zionis Yahudi tanpa rasa bersalah dan canggung. Terhadap genosida rakyat Palestina, mereka bungkam. Padahal, bungkamnya para pemimpin dunia makin membuat entitas Yahudi makin berani menzalimi rakyat Palestina. Para penguasa muslim tetap bergeming di balik tembok rapuh bernama nasionalisme meski darah rakyat Palestina terus ditumpahkan.


Di sisi lain, banyaknya jumlah kaum muslim di dunia belum mampu menghentikan kekejian Zionis Yahudi. Jangankan menyerukan persatuan umat seluruh dunia, sekadar meminta penguasa mengerahkan pasukan militernya untuk membebaskan Gaza pun tidak mampu. Berlarutnya masalah penjajahan di Palestina menunjukkan bahwa solusi hakiki, yakni jihad belum menjadi kesadaran umum di tengah kaum muslim dunia.


Solusi Hakiki 


Palestina harus segera dibebaskan. Hal ini karena rakyat Palestina berhak bebas dan merdeka dari penjajahan. Cukup sudah penjajahan dan genosida yang dilakukan entitas Yahudi selama puluhan tahun lamanya. Tanah Palestina harus dikembalikan kepada pemiliknya yang sah, yakni kaum muslim. Hal ini karena tanah Palestina sejatinya milik kaum muslim yang telah dirampas dan dikuasai oleh Zionis Yahudi.


Satu-satunya cara membebaskan Palestina dari penjajahan adalah dengan jihad. Jihad adalah metode syar'i yang harus ditempuh oleh kaum muslim, bukan menyetujui solusi dua negara, mengirim bantuan, apalagi sekadar kecaman. Jihad fi sabilillah bahkan sudah diperintahkan oleh Rasulullah saw. untuk membebaskan negeri-negeri, memerangi musuh-musuh Islam, dan menegakkan agama. 


Contohnya adalah pembebasan Palestina di masa lalu yang dilakukan dengan jihad. Tentu kaum muslim belum lupa tentang pembebasan Palestina dari tangan tentara Romawi. Pembebasan Palestina pertama kali dilakukan oleh Khalifah Umar bin Khattab ra. Kemudian Palestina kembali dikuasai orang-orang kafir. Setelah itu, jihad merebut tanah milik kaum muslim tersebut kembali dilakukan pada masa kepemimpinan Shalahuddin al-Ayyubi dan berhasil membebaskannya. 


Karenanya, Palestina menjadi tanah kharajiyah yang selamanya milik kaum muslim. Tanah kharajiyah, sebagaimana disebutkan dalam kitab Shakhshiyyah Islamiyyah karya Syekh Taqiyuddin an-Nabhani, adalah tanah yang dibebaskan dengan paksa oleh kaum muslim dengan pasukan militernya. Karena itu, tanah kharajiyah tidak dibagi-bagi kepada pasukan yang ikut berperang. Atas tanah tersebut maka akan dikenakan kharaj.


Dengan demikian, bebasnya Palestina dari cengkeraman entitas Yahudi hanya bisa dilakukan dengan jihad fi sabilillah. Namun, terlaksananya jihad membutuhkan institusi yang menaunginya dan memberikan komando, yakni Khilafah. Di bawah naungan Khilafah, tentara muslim akan dikerahkan untuk berjihad merebut kembali Palestina dari tangan entitas Yahudi. 


Khatimah


Wahai kaum muslim, persoalan Palestina bukanlah persoalan kaum muslim yang ada di sana semata. Namun, ini ada persoalan umat Islam seluruhnya. Kaum muslim Palestina adalah saudara seakidah dengan kaum muslim lainnya di seluruh dunia. Karena itu, saat ada kaum muslim yang sakit dan terzalimi, saudaranya yang lain pun seharusnya ikut merasakan sakit.


Hal ini sebagaimana disebutkan dalam surah Al-Hujurat ayat 10, "Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara ...." Karena itu, kita pun wajib menolong kaum muslim Palestina dari berbagai kesulitan termasuk penjajahan. Langkah yang bisa kita lakukan adalah bersungguh-sungguh berjuang menegakkan kembali Khilafah Islamiah. Karena dengan adanya Khilafah, jihad bisa dilakukan secara maksimal. Dengan jihad, Palestina dan kaum muslim yang ada di sana akan terbebas dari penjajahan.

Wallahualam bissawab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update