Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Pemuda Terjebak Pengangguran, Kapitalisme Terbukti Gagal

Monday, September 15, 2025 | Monday, September 15, 2025 WIB

 




Oleh : Nikmatul Khasanah, S.Pd. (Praktisi Pendidikan)


Krisis tenaga kerja global kembali menjadi fenomena besar yang menghantui dunia. Negara-negara dengan ekonomi mapan seperti Inggris, Prancis, Amerika Serikat, hingga Cina kini mengalami peningkatan signifikan dalam angka pengangguran. Fenomena baru yang mengkhawatirkan juga muncul, seperti “pura-pura kerja” atau “kerja tanpa digaji” yang dijalani masyarakat hanya demi tetap dianggap produktif. Kondisi ini merupakan cerminan nyata bahwa sistem ekonomi yang dominan saat ini, kapitalisme, semakin gagal menjawab persoalan mendasar masyarakat, yakni hak atas pekerjaan dan kesejahteraan.

Krisis Tenaga Kerja Global


Krisis tenaga kerja global bukanlah isu yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari kegagalan sistem kapitalisme dalam mengelola sumber daya manusia dan kekayaan alam. Di Inggris dan Prancis, misalnya, tingkat pengangguran meningkat signifikan akibat ketidakstabilan ekonomi pascapandemi, kenaikan biaya hidup, dan tekanan inflasi. Di Amerika Serikat, fenomena quiet quitting (diam-diam berhenti berusaha lebih) dan gig economy yang tidak stabil menjadi tanda lemahnya kualitas pekerjaan. Bahkan di Cina, yang dikenal sebagai negara dengan basis produksi dunia, terjadi gelombang pengangguran terutama di kalangan lulusan perguruan tinggi yang sulit mendapatkan pekerjaan sesuai bidang mereka.


Fenomena “pura-pura kerja” atau “kerja tanpa digaji” juga menjadi gambaran nyata bahwa pasar tenaga kerja semakin rapuh. Orang rela bekerja tanpa upah hanya demi status sosial bahwa dirinya bekerja. Hal ini menunjukkan betapa pekerjaan dalam sistem kapitalisme bukan lagi dimaknai sebagai jalan untuk memenuhi kebutuhan hidup secara layak, tetapi sekadar untuk bertahan dalam sistem yang menuntut produktivitas tanpa jaminan kesejahteraan.


Di Indonesia, fakta pengangguran 

Ketimpangan ekonomi yang semakin parah turut memperburuk masalah. Dengan kekayaan segelintir elit yang setara dengan puluhan juta rakyat, akses generasi muda terhadap modal, lahan, maupun sumber daya ekonomi menjadi sangat terbatas. Mereka dipaksa bersaing dalam sistem yang berat sebelah, di mana keberhasilan hanya berpihak pada mereka yang memiliki akses dan koneksi.


Pada akhirnya, krisis tenaga kerja ini memperlihatkan wajah asli kapitalisme yang kejam dan diskriminatif. Krisis tenaga kerja global sesungguhnya merupakan bukti nyata kegagalan kapitalisme dalam mengatur roda perekonomian dunia. Kapitalisme berorientasi pada keuntungan segelintir pemilik modal, bukan pada pemenuhan kebutuhan masyarakat secara adil.


Logika sistem ini selalu menempatkan tenaga kerja sebagai beban biaya, bukan sebagai manusia yang berhak memperoleh kesejahteraan. Maka tidak heran jika pengangguran dan pemutusan hubungan kerja (PHK) berulang kali menjadi “keniscayaan” dalam kapitalisme, sebab perusahaan lebih mementingkan efisiensi biaya dibandingkan kelangsungan hidup pekerja.


Kapitalisme bukan hanya gagal menyediakan lapangan kerja, tetapi juga menimbulkan paradoks: di satu sisi ada surplus tenaga kerja muda, di sisi lain kekayaan terkonsentrasi di segelintir elit. Kegagalan sistem ini tidak bisa ditambal sulam dengan kebijakan teknis, melainkan memerlukan perubahan mendasar terhadap paradigma ekonomi yang mendominasi dunia.


Islam sebagai solusi


Islam sebagai sistem hidup yang kaffah menawarkan solusi yang berbeda secara fundamental dari kapitalisme. Dalam Islam, negara dipimpin oleh seorang khalifah yang berfungsi sebagai raa’in (pengurus rakyat) dan junnah (pelindung rakyat).


Negara tidak boleh melepaskan tanggung jawab penyediaan pekerjaan kepada mekanisme pasar semata, melainkan berkewajiban memfasilitasi rakyat agar dapat bekerja. Fasilitasi ini diwujudkan dengan penyediaan pendidikan yang relevan, distribusi lahan produktif, bantuan modal bagi usaha, serta pengembangan sektor industri berbasis sumber daya alam milik rakyat. Dengan penerapan prinsip ini, generasi muda akan memiliki akses lebih luas terhadap sumber daya ekonomi dan peluang kerja.


Islam juga menekankan pendidikan yang tidak sekadar menyiapkan manusia untuk menjadi pekerja, tetapi membentuk pribadi beriman, bertakwa, dan ahli dalam bidangnya. Dengan sistem pendidikan Islam, generasi muda akan tumbuh menjadi tenaga kerja yang produktif sekaligus pemimpin peradaban. Lebih dari itu, negara dalam Islam menjamin pemenuhan kebutuhan pokok setiap individu—pangan, sandang, papan, kesehatan, pendidikan, dan keamanan—sehingga meski ada yang belum bekerja, mereka tetap terjamin kehidupannya. Inilah yang menjadikan solusi Islam lebih manusiawi, adil, dan menyeluruh dibandingkan sistem kapitalisme.


Negara wajib menjamin tersedianya pekerjaan bagi rakyat.Negara dalam Islam tidak menyerahkan urusan lapangan kerja kepada mekanisme pasar. Khalifah akan memfasilitasi rakyat dengan pendidikan yang berkualitas dan sesuai kebutuhan umat Bantuan modal bagi masyarakat yang ingin berusaha.


Industrialisasi yang berbasis pada pengelolaan sumber daya alam milik umat. Distribusi tanah kepada petani agar bisa produktif. Distribusi kekayaan yang adil yakni sistem ekonomi Islam menolak konsentrasi kekayaan hanya pada segelintir orang. Rasulullah SAW bersabda: “Kekayaan itu tidak boleh hanya berputar di antara orang-orang kaya saja di antara kalian” (QS. al-Hasyr: 7). Dengan mekanisme kepemilikan dalam Islam (individu, umum, dan negara), kekayaan akan terdistribusi secara adil dan membuka peluang kerja lebih luas.


Sistem pendidikan Islam yang menyiapkan SDM berkualitas. Pendidikan dalam Islam tidak hanya menyiapkan generasi untuk siap kerja, tetapi juga menumbuhkan keahlian sesuai bidang masing-masing. Pendidikan diarahkan untuk melahirkan insan beriman, bertakwa, sekaligus cakap dalam mengelola sumber daya.


Islam tidak hanya menekankan aspek penciptaan lapangan kerja, tetapi juga menjamin terpenuhinya kebutuhan pokok setiap individu rakyat (pangan, sandang, papan, kesehatan, pendidikan, dan keamanan). Dengan begitu, problem pengangguran tidak akan melahirkan krisis kesejahteraan sebagaimana terjadi dalam kapitalisme.


Krisis tenaga kerja global yang membuat pemuda terjebak dalam pengangguran adalah bukti nyata kegagalan kapitalisme. Sistem ini tidak hanya gagal menyediakan lapangan kerja, tetapi juga menimbulkan ketimpangan kekayaan yang menutup jalan generasi muda menuju kesejahteraan. Fenomena pengangguran saat ini yang didominasi anak muda adalah gambaran kecil dari kerusakan sistem kapitalisme yang lebih luas.


Islam kaffah menawarkan solusi mendasar yang berbeda dengan kapitalisme. Dengan peran aktif negara sebagai pengurus rakyat, distribusi kekayaan yang adil, sistem pendidikan yang berkualitas, serta jaminan kebutuhan pokok, Islam memberikan jawaban nyata atas persoalan pengangguran. Sudah saatnya umat Islam meninggalkan tambal sulam kapitalisme dan kembali pada sistem Islam kaffah yang terbukti mampu menghadirkan keadilan, kesejahteraan, dan keberkahan bagi seluruh manusia.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update