Oleh : Dartem
Dalam serangan udara Israel di Gaza tercatat ada enam jurnalis Palestina yang dibunuh, kejadian tersebut mendapat kutukan dari sekjen (Sekretaris Jenderal) PBB Antonio Guterres, ungkap Stephane Dujarric, seorang juru bicara Guterres pada Senin, 11 Agustus 2025. Penyelidikan yang imparsial dan independen terhadap pembunuhan tersebut diserukan oleh sekjen PBB. Ada 242 korban pembunuhan jurnalis sejak perang berlangsung di Gaza, ANTARA,com (12/8/2025)
Perang di Palestina masih terus berlangsung hingga saat ini. Entah sudah berapa banyak nyawa menjadi korban kekejaman zionis.
Para jurnalis yang ingin meliputi keadaan atau kondisi di Gaza, tak luput dari incaran zionis. Mereka (para jurnalis) diburu karena dianggap akan menyebarkan informasi dan situasi yang sebenarnya terjadi di Gaza.
Sungguh miris nasib para jurnalis, mereka berusaha memberikan informasi tentang apa yang terjadi di Gaza, namun mereka berusaha dibungkam.
Pembungkaman media memang sengaja dilakukan dalam rangka menutupi aksi kejahatan yang dilakukan zionis. Bagi zionis, kehadiran para jurnalis itu sangat berbahaya karena akan membongkar fakta kebenaran pada dunia. Oleh karena itu, maka mereka berusaha melenyapkan para jurnalis tersebut, serta membuat propaganda.
Pembunuhan para jurnalis adalah sebuah kejahatan besar, bukan hanya karena mereka jurnalis, akan tetapi karena mereka adalah seorang manusia. Nyawa manusia dalam Islam itu sangat berharga dan dilindungi.
Sementara di Palestina, nyawa manusia justru dihabisi seperti halnya membunuh seekor binatang. Kelemahan dan keputusasaan zionis dalam menghadapi kegigihan rakyat Palestina dalam berjuang mengakibatkan perlakuannya makin brutal. Termasuk kepada para jurnalis yang sedang berusaha meliput kondisi saat perang.
Sesungguhnya, Itulah nyali pengecut dan tidak ksatria yang nampak dalam diri zionis Israel. Sebaliknya, warga Gaza itulah para ksatria sejati yang tidak gentar menghadapi gempuran zionis. Namun sayang, ketika perang sudah memakan korban yang sangat banyak, hingga kini tidak ada penguasa negeri muslim yang bersuara. Mereka (penguasa negeri muslim) tidak melakukan pembelaan dan mengeluarkan bantuan kecuali hanya kecaman serta bantuan obat-obatan dan makanan semata, itupun belum tentu sampai kepada korban di Gaza. Penguasa tidak tergerak memberikan bantuan pasukan untuk melawan kedzaliman tersebut.
Sungguh, sekat nasionalisme telah membutakan mata para pengusaha negeri muslim di seluruh dunia. Mereka tidak peduli dengan kondisi muslim di Gaza, padahal mereka adalah saudara kita yang diikat oleh akidah Islam. Cengkraman nasionalisme sudah menancap kuat dalam dada-dada kaum muslim sehingga tidak mampu lagi berfikir jernih menggunakan akalnya.
Penguasa negeri muslim tidak menyadari bahwa ketidakpedulian mereka terhadap nasib warga Gaza adalah sebuah pengkhianatan besar.
Walaupun begitu, semangat perlawanan rakyat Gaza tetap membara dan tidak pernah redup. Perjuangan terus berlanjut tanpa rasa putus asa. Akidah yang kuat selalu menjadi kekuatan besar bagi rakyat Palestina, sehingga mereka tidak merasa gentar sedikitpun ketika menghadapi zionis Israel.
Ancaman dan rintangan bukan hal yang menakutkan bagi rakyat Palestina.
Mereka yakin dengan pertolongan dan janji Allah. Rakyat Palestina sadar bahwa Allah telah memberikan amanah untuk menjaga tanah yang diberkahi.
Begitupun dengan kita sebagai kaum muslim, harus ikut merasakan penderitaan mereka di Palestina. Umat Islam harus ikut berperan dan menolong, yaitu dengan mengobarkan semangat dan mendukung perjuangan rakyat Gaza agar bisa bebas. Kaum muslim harus bangkit secara pemikiran dan memahami bahwa Islam punya solusi hakiki untuk Palestina. Caranya adalah dengan aktif berdakwah dalam rangka membangun kesadaran politik umat.
Memahamkan tentang pentingnya sebuah kekuatan besar untuk menghancurkan zionis, yaitu kekuatan ideologi Islam.
Jadi, umat Islam harus percaya diri dan yakin bahwa Islam pasti menang. Islam akan berjaya kembali seperti yang sudah pernah terjadi pada masa kekhilafahan dulu. Allah sudah mengabarkan pada kita sebagai kabar gembira yang harus disambut dengan gembira. Ketika kita meyakini itu, maka sudah seharusnya kita berlomba-lomba untuk mendapatkan ridhaNya dengan melakukan amalan, yaitu dakwah. Berjuang bersama dengan kelompok dakwah ideologis.
Perjuangan ini memang tidak mudah, penuh rintangan yang akan dihadapi. Karena yang diperjuangkan adalah sebuah institusi negara yang sudah dijanjikan oleh Allah Swt. Institusi itu tidak lain adalah khilafah.
Khilafah lah yang akan mengusir penjajah dari tanah Palestina yang diberkahi. Jika umat Islam bersatu dalam naungan daulah Islam, maka Islam takkan bisa dikalahkan dan dijajah oleh siapapun.
Wallahu a'lam bishawab

No comments:
Post a Comment