Oleh Lina Nuraeni
(Komunitas Ibu Peduli Generasi)
Bagi seorang Muslim, isu Palestina bukan sekadar konflik geopolitik biasa. Melainkan, salah satu masalah terkait dengan rasa kemanusian yang diikat oleh akidah, sejarah yang mendalam. Opini yang terbentuk ini juga merupakan jalinan dari ikatan keimanan, solidaritas kemanusiaan, dan panggilan untuk keadilan. Ikatan akidah dan sejarah yang tak terpisahkan. Yang saya ketahui dari akar kepedulian umat Islam terhadap Palestina tertanam kuat dalam fondasi ajaran dan sejarah Islam.
Palestina, khususnya kota Yerusalem (Al-Quds), memiliki kedudukan yang sangat istimewa. Di sanalah berdiri Masjid Al-Aqsa, kiblat pertama umat Islam sebelum dipindahkan ke Ka'bah di Makkah, Al-Qur'an secara eksplisit juga menyebutkan keberkahan Masjid Al-Aqsa termasuk area sekelilingnya, ada dalam QS al-Isra ayat 1. Mengabarkan didalamnya ada peristiwa Isra' Mi'raj Nabi Muhammad saw. Dalam peristiwa ini, Al-Aqsa menjadi salah satu dari tiga masjid paling suci dalam Islam. Di Makkah ada masjidil haram, dan masjid nabawi ada di Madinah.
Keutamaan Palestina juga ditegaskan dalam berbagai hadis Nabi Muhammad saw, yang menyebutnya sebagai bagian dari Negeri Syam" yang diberkahi. Sejarah mencatat bagaimana para nabi, seperti Nabi Daud dan Sulaiman, memiliki ikatan dengan tanah ini. Bahkan, pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab, Yerusalem menjadi bagian dari dunia Islam dengan jaminan kebebasan beragama bagi seluruh penduduknya, sebuah preseden bersejarah tentang tata kelola yang adil. Ikatan historis dan spiritual inilah yang membuat setiap muslim merasa memiliki hubungan batin yang kuat dengan Palestina.
Solidaritas kemanusiaan dan ukhuwah Islamiyah, dari pandangan saya sebagai seorang Muslim terhadap Palestina adalah prinsip ukhuwah Islamiyah
atau persaudaraan sesama Muslim. Ini juga menggambarkan umat Islam sebagai satu tubuh yang mana jika satu bagian merasakan sakit, maka seluruh tubuh akan merasakannya
Penderitaan yang dialami rakyat Palestina, kehilangan tempat tinggal, kekerasan, dan pembatasan. Adalah luka bagi seluruh umat Islam. Banyak juga tokoh dan organisasi Islam, seperti Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), juga menekankan bahwa konflik ini adalah masalah kemanusiaan universal, bukan sekadar perang agama. Penindasan, penjajahan, dan pelanggaran hak asasi manusia adalah isu-isu yang melampaui batas agama dan ras. Oleh karena itu, dukungan terhadap Palestina juga
merupakan panggilan untuk menegakkan nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan bagi semua.
Adapun bentuk dukungan dari doa hingga aksi nyata sebagai respons terhadap situasi di Palestina, umat Islam di Indonesia, melalui berbagai ormas (organisasi masyarakat) seperti (MUI) Majelis Ulama Indonesia, (NU) Nahdlatul Ulama. Muhammadiyah, dan Persatuan Islam, menyalurkan dukungannya dalam berbagai bentuk.
Ada bantuan Kemanusiaan, penggalangan dana untuk bantuan makanan, medis, dan kebutuhan pokok. Bagi warga Palestina adalah bentuk dukungan yang paling umum dan konsisten dilakukan.
Ada aksi Boikot, MUI telah mengeluarkan fatwa yang mendukung aksi boikot terhadap produk-produk yang terafiliasi atau mendukung Israel. Langkah ini bertujuan untuk menekan ekonomi Israel agar menghentikan agresinya. Meskipun demikian, Prof. M. Quraish Shihab, mengingatkan aksi boikot, agar dilakukan dengan teliti dengan penuh pertimbangan. Agar tidak merugikan pihak-pihak yang tidak seharusnya terdampak.
Lalu ada dukungan diplomasi dan Politik: Ormas-ormas Islam secara aktif mendorong pemerintah Indonesia untuk terus memainkan peran di garda depan dalam memperjuangkan kemerdekaan Palestina melalui jalur diplomasi internasional, seperti di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB)
dan Organisasi Kerja Sama Islam.
Ada juga bentuk doa dan dukungan spiritual. Seperti doa bersama, shalat ghaib untuk para korban, dan menyebarkan kesadaran tentang isu Palestina melalui berbagai platform adalah bentuk dukungan spiritual yang tidak pernah putus.
Ada pula bentuk aksi solidaritas. Demonstrasi damai dan aksi akbar bela Palestina merupakan wujud penampakan aspirasi dan tekanan publik untuk menunjukkan solidaritas nyata kepada rakyat Palestina
Harapan untuk kemerdekaan dan keadilan Pada akhirnya, opini pribadi saya sebagai seorang Muslim mengenai masalah Palestina mengerucut pada satu harapan utama: terwujudnya kemerdekaan dan kedaulatan penuh bagi bangsa Palestina.
Ini sejalan dengan amanat konstitusi Indonesia yang menentang segala bentuk penjajahan di atas dunia.
Kegagalan untuk mewujudkan perdamaian dan keadilan bagi rakyat Palestina dianggap juga sebagai kegagalan kemanusiaan secara keseluruhan.
Dengan demikian, pandangan ini bukanlah didasari oleh kebencian, melainkan oleh rasa cinta terhadap sesama, panggilan untuk menegakkan keadilan, dan keyakinan akan janji keberkahan tanah
para nabi. Perjuangan Palestina adalah perjuangan untuk martabat kemanusiaan yang harus didukung oleh nurani setiap orang yang cinta akan kedamaian dan keadilan.
Untuk mencapai semua itu harus ada jihad fisabillah sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Rasulullah saw. saatnya kita bangkit. Bukan sekadar simpati atau bantuan kemanusiaan. Tetapi dengan sistem Islam yang kafah, di bawah kepemimpinan Khilafah yang akan menjadi pelindung sejati umat, termasuk rakyat Gaza.
Wallahu'alam bishawwab
No comments:
Post a Comment