Genosida di Gaza terjadi secara sistematis. Zionis terus meningkatkan kebiadabannya pada Gaza, dunia hanya menjadi penonton. Blokade, pengeboman, pembantaian, dsb menjadi rutinitas kekejian yang dilakukan Zionis. Bahkan yang lebih keji lagi, Zionis menjadikan pelaparan massal sebagai alat perang dan genosida di Gaza. Inilah pelaparan sistematis!!!.
Mesir, sebagai negara yang berbatasan langsung dengan Gaza, justru menekan Imam Besar Al Azhar, Ahmed al-Tayeb, untuk mencabut kecamannya yang menyatakan bahwa pengepungan Israel sebagai biang kelaparan massal penduduk Gaza, Palestina. Mereka seolah buta dan tuli. Bahkan fakta kelaparan massal ini telah memicu kemarahan dunia internasional (SINDOnews, 24/07/2025).
Al-Azhar menekankan bahwa apa yang dilakukan oleh pendudukan ini adalah pelaparan yang mematikan dan disengaja terhadap rakyat Gaza. Bahkan ketika mereka sedang mencari sepotong roti yang sudah menjadi remah-remah, atau sedang mencari secangkir air, pendudukan dengan peluru tajamnya sengaja menyerang lokasi-lokasi penampungan para pengungsi dan pusat-pusat distribusi bantuan kemanusiaan dan pertolongan; sungguh ini adalah kejahatan genosida dalam skala yang penuh.
Pemboman tanpa henti telah menghancurkan infrastruktur sipil, meningkatkan krisis pangan, dan juga meningkatkan krisis kemanusiaan di wilayah tersebut. Otoritas kesehatan di Gaza mengonfirmasi bahwa akibat serangan militer Israel sejak Oktober 2023, tercata jumlah korban tewas 60.430 jiwa, 148.722 orang mengalami luka-luka. Sebagian besar korban disebut adalah perempuan dan anak-anak (Metrotvnews, 03/07/2025).
Dan yang sangat memalukan dan ironis, saat ini negara-negara Arab dan Muslim, termasuk Arab Saudi, Qatar, dan Mesir, yang notabene adalah saudara seakidah, untuk pertama kalinya resmi mendesak Hamas melucuti senjata dan menyerahkan kekuasaan atas Jalur Gaza kepada Otoritas Palestina (PA).
Mereka turut menandatangani deklarasi bersama yang diumumkan dalam konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York, Selasa (29/7/2025). Ditandatangani oleh 22 negara anggota Liga Arab, seluruh Uni Eropa, serta 17 negara lainnya. Dengan adanya deklarasi ini menjadi sinyal perubahan signifikan dalam sikap dunia Arab terhadap kelompok militan yang telah menguasai Gaza sejak 2007 (cnbcindonesia, 31/07/2025).
Meskipun dunia Islam tidak mendukung penuh terhadap kemerdekaan Palestina, namun borok Zionis telah membuka mata dunia.
Prancis akan secara resmi mengaku negara Palestina di Sidang Umum PBB September 2025. Hal ini ditegaskan Presiden Emmanuel Macron dalam pengumuman Kamis waktu setempat (cmbcindonesia, 25/07/2025). Langkah Perancis ini menambah jumlah negara yang akan mengakui Palestina sebagai negara, menjadi 142 negara.
Bahkan, pada awal pekan Agustus 2025, dua lembaga hak asasi manusia terkemuka di Israel, B'Tselem dan Physicians for Human Rights-Israel, secara terbuka menuduh pemerintah Israel melakukan genosida di Gaza. Mereka menyoroti adanya pemusnahan sistematis terhadap masyarakat Palestina, dan merusak infrastruktur kesehatan sebagai strategi militer (metrotv, 01/08/2025).
Para penguasa muslim seakan buta dan tuli atas realita di Gaza, seolah tak ada ikatan iman mereka dengan muslim Gaza. Padahal Allah telah mengingatkan ikatan ukhuwah Islamiyah sebagai landasan hubungan antar muslim. Kepentingan dunia (jabatan dan kekuasaan) telah mematikan ukhuwah Islamiyah dan menjerumuskan mereka pada kelemahan di hadapan musuh Allah.
Jangan terjadi pembiaran terhadap saudara-saudara kita di Palestina, sehingga mereka berdiri sendirian menghadapi kengerian para musuh Islam. Kita harus mewujudkan dan bertindak sesuai gelar yang telah Allah berikan, yakni Khairu Ummah. Umat Islam adalah umat terbaik (QS Ali Imran: 110).
Dan semua pernah terwujud nyata dengan perjuangan Rasulullah SAW , para shahabat, dan para khalifah sepanjang peradaban Islam yang mulia. Kisah khalifah Al Mu’tasimbillah dan sikap tegas sultan Abdul Hamid II adalah potret penguasa yang menjaga kemuliaan Allah dan RasulNya. Sepatutnya kita mengikuti apa yang pernah dicontohkan para pendahulu kita.
Dengan melihat realitas Gaza saat ini, menunjukkan betapa pentingnya persatuan.dan kekuatan umat sebagai solusi yang hakiki. Persatuan hanya mungkin terjadi jika kita bisa mewujudkan dua syarat sekaligus, yaitu institusi pemersatu umat dan pemimpin yang menyatukan umat.
Dengan persatuan umat akan segera terwujud kebangkitan dan kemuliaan umat. Kebangkitan dan kemuliaan umat harus diperjuangkan kembali. Kesadaran umat akan janji Allah harus dibangun kembali, dan didorong untuk mewujudlkannya kembali. Janji Allah SWT haq adanya sebagaimana janji Allah SWT di QS An Nur ayat 55.
Demikian pula halnya dengan perjuangan pembebasan Palestina. Akan terwujud sepanjang menapaki thariqah Rasulullah SAW. Umat harus memnafaatkan momentum ini untuk membangkitkan Umat dan mewujudlkan kemuliaan Islam.
Wallahu'alam bisshowab.

No comments:
Post a Comment