Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Kurikulum Cinta: Pembonsaian Ideologis yang Sistematis

Saturday, August 16, 2025 | Saturday, August 16, 2025 WIB

 Oleh: Qoulan Sadida 

(Aktivis Muslimah)


Kementerian Agama (Kemenag) meluncurkan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC). “Kurikulum ini hadir sebagai respons terhadap krisis kemanusiaan, intoleransi, dan degradasi lingkungan yang semakin mengkhawatirkan,” kata Menteri Agama Nasaruddin Umar saat peluncuran di Makassar pada 24 Juli 2025 (kemenag.go.id). 


Kemenag menawarkan solusi, yaitu sebuah kurikulum yang katanya lebih humanis, spiritual, dan inklusif. Namun, siapa sangka, di balik kata-kata indah itu tersembunyi racun deradikalisasi yang terstruktur, sistematis, dan masif—ditanamkan sejak taman kanak-kanak, dibungkus cinta, disemai dalam jiwa polos anak-anak Muslim.


Di tengah krisis identitas generasi muda Muslim, Kementerian Agama (Kemenag) meluncurkan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC)—sebuah proyek yang sekilas terdengar manis, tapi sejatinya pahit dan berbahaya. Inilah wajah baru pendidikan Islam yang justru mengikis militansi akidah, menjinakkan semangat penegakan syariat, dan mengaburkan batas antara haq dan batil. Siapapun yang mencintai Islam, pasti tersentak dengan apa yang sedang dirancang negara atas nama cinta. Kurikulum ini tidak netral. Ia sarat agenda. 


KBC adalah turunan dari proyek global deradikalisasi dan moderasi agama, yang menargetkan generasi Muslim agar kehilangan semangat kaffah dalam berislam. Anak-anak diajari untuk menjauhi dakwah penegakan syariat Islam dan khilafah, karena itu akan dicap "radikal". Dakwah syariat dianggap ancaman. Sementara narasi kebebasan, toleransi tanpa batas, dan pluralisme dijadikan standar moral baru. Ini bukan cinta, ini adalah kolonialisasi ideologis dalam balutan edukasi.


Sekilas memang tampak indah. Siapa yang menolak cinta? Tapi bukankah iblis juga pernah berkata manis? Bukankah racun juga kadang disimpan dalam gelas kristal? Faktanya, yang dicintai kurikulum ini bukanlah Islam kaffah, tapi Islam yang dikerdilkan. Mereka yang menyerukan penerapan Islam secara total akan diberi label radikal. Pengajiannya dibubarkan, tokohnya diawasi, dan ucapannya dibungkam. Sebaliknya, rumah ibadah non-Muslim dijaga, hari raya mereka dirayakan bersama, bahkan terkadang lebih meriah dari milik umat Islam sendiri. Apakah ini keadilan? Atau justru pengkhianatan ideologis?


Lebih jauh lagi, KBC menyuntikkan nilai-nilai sekuler ke dalam nadi pendidikan Islam. Akal dijadikan rujukan tunggal, agama didegradasi jadi urusan privat, dan syariat dicabut dari ruang publik. Anak-anak diajari untuk berpikir: cinta itu universal, semua agama sama, dan Islam jangan dibawa ke politik. Inilah sekularisme gaya baru—dalam kemasan lokal, dengan istilah manis, tapi ruhnya tetap asing dan batil.


Padahal, Islam tidak mengenal netralitas dalam pendidikan. Kurikulum dalam Islam wajib berbasis akidah. Rasulullah ﷺ bersabda:

"Barang siapa yang di antara kalian melihat kemungkaran, hendaknya ia mengubah dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Jika tidak mampu juga, maka dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemahnya iman." (HR. Muslim)


Lantas, di mana posisi kurikulum ini? Bukankah KBC justru menghalangi generasi Muslim untuk bersuara? Mereka diajari mencintai semua tanpa batas, bahkan terhadap kemungkaran. Mereka dibentuk menjadi generasi penurut, bukan pengoreksi. Padahal, aktivitas amar makruf nahi munkar adalah sebab utama keutamaan umat Islam sebagaimana ditegaskan dalam firman Allah SWT: "Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah." (QS Ali Imran: 110)


Pendidikan dalam Islam bukanlah sekadar tempat bermain dan bernyanyi. Ia adalah tempat mencetak rijalul ummah—pembawa dakwah, penjaga akidah, dan penegak syariah. Sayangnya, KBC justru menjauhkan itu semua. Ia menanamkan kompromi, bukan keberanian. Ia mengajarkan cinta semu, bukan loyalitas kepada Allah dan Rasul-Nya. Ia menghapus garis pemisah antara haq dan batil, lalu menyebut itu sebagai toleransi.


Dalam konteks lokal, kita sudah melihat dampaknya. Di banyak sekolah negeri, pelajaran fikih mulai dikurangi. Narasi jihad dihapus. Sejarah Islam dipelintir. Guru yang kritis terhadap kurikulum akan dibina, bahkan ditindak. Sementara konten-konten Islam liberal dan pluralis justru masuk melalui lomba, seminar, dan pelatihan guru. Ini bukan lagi perang pemikiran, ini sudah menjadi pembantaian ideologis secara sistematis!


Apakah solusi Islam untuk semua ini? Islam tidak anti cinta. Justru Islam adalah agama yang penuh cinta: kepada Allah, Rasul, sesama Muslim, bahkan kepada manusia seluruhnya. Namun, cinta dalam Islam bukanlah bebas nilai. Cinta dalam Islam adalah loyalitas pada kebenaran. Cinta yang membela tauhid, bukan pluralisme. Cinta yang menumbuhkan keberanian menyampaikan kebenaran, bukan kompromi terhadap kemungkaran.


Pendidikan Islam seharusnya berbasis akidah Islam. Ini bukan pilihan, tapi kewajiban. Allah SWT berfirman: "Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka..." (QS At-Tahrim: 6)


Negara bertanggung jawab untuk memastikan kurikulum di sekolah Muslim mencetak generasi beriman dan bertakwa secara kaffah, bukan sekadar ramah dan toleran tanpa arah. Pendidikan harus mencetak pemikir Islam, bukan pengikut Barat. Harus melahirkan mujahid dakwah, bukan buzzer pluralisme. Harus menumbuhkan semangat perubahan, bukan rasa nyaman dalam kebatilan.


Kurikulum cinta ini bertentangan dengan prinsip pendidikan Islam yang dibangun di atas akidah Islam dan syariat yang sahih. Solusi tuntas adalah dengan mengembalikan sistem pendidikan kepada sistem Islam secara menyeluruh. Negara yang menerapkan Islam kaffah akan menjadikan akidah Islam sebagai asas kurikulum. Ilmu akan diajarkan dalam kerangka syariah. Generasi dididik untuk menjadi pemimpin, bukan boneka globalisasi. Hanya dalam sistem Islam kaffah, cinta sejati akan mekar: cinta kepada kebenaran, kepada umat, dan kepada perjuangan menegakkan kalimatullah.


Wahai para orang tua, guru, dan pencinta Islam! Jangan terbuai oleh kata cinta. Waspadalah terhadap racun manis ini. Mari bangun kesadaran dan perjuangan ideologis untuk merebut kembali masa depan anak-anak kita—bukan dengan cinta semu yang lahir dari sistem sekuler, tapi dengan cinta hakiki dari Islam yang sempurna. Wallahu'alam bis shawab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update