Oleh: Rahmawati Ayu Kartini
(Pemerhati Sosial)
Tewasnya tiga orang dalam pesta syukuran pernikahan anak Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi di Garut, menjadi potret buram persoalan utama masyarakat Indonesia. Persoalan itu adalah kesenjangan yang kian lebar, serta kultus terhadap pemimpin yang diharapkan mampu mengentaskan kemiskinan masyarakat.
*Kesenjangan ekstrim*
Potret kesenjangan lebar antara pejabat yang mampu menyelenggarakan pesta dengan _flexing_ yang menelan biaya besar. Bagaimana tidak, jika makanan yang disediakan saja untuk lima ribu orang.
Di sisi lain, rakyat hidup dalam kemelaratan dan kesulitan menjangkau untuk hidup layak. Wajar jika rakyat mengharapkan bantuan dan pemberian gratis. Menurut dosen Sosiologi Universitas Gadjah Mada, AB Widyanta, pesta ini menunjukkan wajah kita sebenarnya dengan ketimpangan sosial yang begitu lebar antara rakyat dan pejabat.
Menurutnya, pejabat yang gencar menyuarakan efisiensi justru tidak melakukan efisiensi, karena menggelar hajatan begitu mewah dan meriah. Mungkin alasannya hajatan ini untuk menyenangkan rakyat, namun tidak bisa ditutup-tutupi bahwa seolah-olah semua sumber daya negeri ini dimiliki oleh pejabat publik. Sementara masyarakat harus berbondong-bondong untuk mendapatkan 'sumber daya' tersebut dari pejabat.
Semestinya pejabat-lah yang harus mengantarkan 'sumber daya' itu ke masyarakat. Karena tugas pejabat adalah melayani rakyat. Namun yang terjadi justru sebaliknya.
Menurut Widyanta, masyarakat juga terjebak dalam selebritas dan kultus individu sosok Gubernur Jabar. Menganggap bahwa sosok tersebut mampu mengentaskan kemelaratan mereka. Padahal tidak. Ini akibat efek selebrasi atas sosok gubernur yang melahirkan fans dan berujung petaka. (kompas.id, 19/07/25)
*Bukan sekedar kemiskinan ekonomi*
Tragedi pesta rakyat ini bukan sekedar masalah kemiskinan ekonomi. Hal ini nampak dari rakyat yang menjadi korban yaitu seorang nenek tua dan cucunya yang berusia 8 tahun. Orang tua mestinya mencegah anak-anak ikut dalam acara yang beresiko tinggi tersebut. Karena orang akan datang berkerumun dan berdesak-desakan pastinya.
Namun disini naluri itu tumpul. Bisa jadi kehidupan rakyat yang begitu sulit, sehingga menormalkan risiko yang sehari-hari mereka hadapi. Risiko sudah menjadi bagian dari hidup mereka.
Menurut Wida Ayu Puspitasari, dosen Antropologi Sosial Universitas Brawijaya, rakyat sudah tidak bisa lagi membedakan risiko masuk akal dengan risiko fatal. Kematian tiga orang itu sudah bukan sekedar persoalan kemiskinan ekonomi semata, namun sudah karena kemiskinan kognitif. Kemiskinan kognitif terbentuk sistemik dengan sistem pendidikan yang gagal, media yang mengutamakan sensasi daripada edukasi, hingga struktur sosial yang menghukum pemikiran kritis.
Kondisi ini menurut Wida, menghilangkan kemampuan masyarakat untuk meminimalkan risiko. Karena seluruh hidup mereka sudah menjadi perjudian dengan kematian.
Menurutnya, tragedi Garut adalah hasil yang dapat diprediksi dari sistem sosial yang sudah rusak. Rusak karena manipulasi politik atau degradasi masyarakat yang sudah kehilangan kemampuan untuk melindungi diri.
*Masyarakat sejahtera dalam Islam*
Tragedi Garut membongkar kebobrokan sistem kapitalisme yang diterapkan di negeri ini. Sistem ini meniscayakan terjadinya kesenjangan antara kaya dan miskin karena adanya prinsip liberalisasi ekonomi. Siapapun yang memiliki modal baik itu harta atau kedekatan dengan kalangan penguasa akan menjadi pemenangnya.
Sementara rakyat kecil akan tergilas karena tidak memiliki akses terhadap kekayaan.
Sistem kapitalisme terbukti tidak menyejahterakan rakyat. Bahkan membuat kesenjangan semakin besar. Wajar karena sistem ini dibuat oleh manusia yang memiliki kelemahan.
Sementara Islam adalah sistem sempurna yang Allah turunkan sebagai solusi atas segala persoalan kehidupan. Islam terbukti menyejahterakan masyarakatnya baik itu muslim maupun non muslim. Karena prinsip dasar kepemimpinan dalam Islam adalah melayani rakyat dan hal ini akan dipertanggungjawabkan kelak di akhirat. Tentu ini berbeda dengan sistem kapitalisme yang memisahkan agama dari kehidupan, sehingga membuat para pejabat 'tega' terhadap rakyat.
Tercatat dalam tinta emas sejarah, kegemilangan sistem Islam dalam memakmurkan rakyat. Di masa pemerintahan Khalifah Umar bin Abdul Aziz, rakyat begitu sejahtera hingga tidak ada yang mau menerima zakat. Bahkan khalifah menerjunkan petugas keliling untuk menginformasikan kepada rakyat yang kesulitan untuk menikah, membayar hutang, tidak memiliki pekerjaan, bahwa negara akan membantunya dengan memberikan kemudahan akses.
Bukan hanya kepada rakyatnya, hewan liar pun menjadi perhatian khalifah. Ketika musim salju, khalifah memerintahkan kepada petugas untuk menyebarkan makanan ke jalan-jalan dan gunung-gunung untuk hewan yang kesulitan dalam mencari makanan.
Ini hanya sedikit dari ribuan teladan para Khalifah Islam yang tidak bisa disebut satu persatu. Saat itu non muslim pun hidup aman dan nyaman dalam kekhilafahan Islam. Sebagaimana disampaikan salah satu sejarawan Barat Will Durant: "Islam telah menyatukan berbagai bangsa dan memberikan pengaruh besar dalam membentuk peradaban di berbagai wilayah. Islam telah memberikan harapan dan kemuliaan bagi masyarakat yang dipengaruhinya."
Tidak ada jawaban lain selain Islam, jika menginginkan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat.
Wallahu a'lam bishowab.

No comments:
Post a Comment