Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Spirit Hijrah Umat Islam

Monday, July 07, 2025 | Monday, July 07, 2025 WIB


Oom Rohmawati

Pegiat Literasi


Tahun baru Islam selalu disambut meriah oleh sebagian umat Islam. 1 Muharam kali ini jatuh pada tanggal 27 Juni 2025. Seperti tahun-tahun sebelumnya, beragam acara seperti pawai obor dan tablig akbar semarak dilakukan di tiap masjid. Sayangnya di tengah suka cita itu, kondisi umat masih didera berbagai persoalan yang tiada henti. Kejahatan makin menjadi, seperti pencurian, korupsi, kekerasan fisik sampai pembunuhan, belum lagi pengangguran dan kemiskinan belum teruraikan. Padahal negeri-negeri muslim Allah Swt. karuniakan SDA dan SDM yang melimpah. Namun dari segi ekonomi dan pendapatan masyarakat, Indonesia justru termasuk yang rendah atau katagori miskin. Apalagi menyaksikan penderitaan warga Palestina masih dalam kondisi yang sangat memprihatinkan serta memilukan. Bukan hanya krisis pangan, obat-obatan, infrastruktur, tapi juga hilangnya nyawa tanpa pembela.


Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan data terbaru mengenai jumlah korban akibat serangan Israel. Sebanyak 138 orang dilaporkan tewas dalam 24 jam terakhir. Sementara korban tewas dibawa ke rumah sakit. Sementara 452 orang dilaporkan luka-luka dan tengah mencari perawaatan medis. (detik,com.4/7/2025)


Tahun baru Islam 1447 H kali ini harus menjadi momen yang tepat bagi setiap muslim untuk introspeksi diri. Berusaha mengadakan perubahan juga  penyelesaiannya, baik secara invidu, masyarakat maupun negara agar terwujud 'khaira ummah' (umat terbaik) sebagaimana generasi sahabat dan setelahnya.


Muhasabah/introspeksi diri atas muslim wajib, sebagaimana dalam firman Allah Swt: yang artinya:

"Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah. Hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat).....(QS al-Hasyr[59]:18)


Ayat di atas menekankan wajibnya muhasabah. Ibnu al-Qayyim rahimahulLaah mengatakan: Hendaklah setiap orang memperhatikan amal-amal yang telah dia persiapkan untuk Hari Kiamat; apakah amal salih atau amal salah (dosa) Lalu beliau mengutip perkataan Al-Hasan al-Bashri "Sesungguhnya seorang hamba akan senantiasa berada dalam kebaikan selama memiliki penasehat dirinya sendiri dan muhasabah menjadi perhatian dirinya. Untuk meraih predikat terbaik, introspeksi diri harus dilakukan oleh semua kalangan, terutama penguasa."


Jika ditelaah mengapa umat harus banyak muhasabah karena berbagai problematika yang dihadapi hari ini akar masalahnya adalah diterapkannya sekularisme, yaitu pemisahan agama dari kehidupan. Akibatnya, agama Islam dipandang hanya mengatur urusan ibadah saya. Sementara aturan dalam urusan dunia, seperti pemerintahan, ekonomi, politik, sosial, dan budaya,  diserahkan kepada aturan manusia. Pemberian wewenang kepada manusia untuk membuat peraturan inilah yang menyebabkan berbagai problematika muncul berkepanjangan. Sehingga kesengsaraan dan penderitaan makin lengkap saat sekularisme berkolaborasi dengan kapitalisme, yaitu ideologi yang menjadikan kekayaan SDA dan energi milik umum dimiliki dan dikelola oleh pemilik modal (kapital). Ideologi kapitalisme-lah yang menciptakan kemiskinan akut, kesenjangan sosial yang lebar, dan beralihnya lahan publik ke tangan individu dan kelompok sehingga masyarakat kesulitan mendapat pekerjaan yang layak, tempat tinggal, bahkan sumber kehidupan.


Menyikapi hal tersebut tentu harus ada upaya riil dan solusi tuntas yang dihasilkan dari perubahan totalitas. Ini karena perubahan totalitas meliputi perubahan multidimensi yang menghadirkan solusi menyeluruh untuk seluruh problematika. Dan tentunya harus datang dari aturan sahih dan mewujudkan kemaslahatan yang nyata yakni Islam dan syariatnya.


Sebagai umat Nabi Muhammad saw., tentu harus menjadikan aktivitas Beliau sebagai teladan (uswah) termasuk dalam hal merubah kondisi umat jahiliah menjadi umat cemerlang, beralih dari aturan thagut menuju aturan syar'iy. Sejarah Islam mencatat bahwa perubahan ini dimulai dengan adanya perintah Allah terkait hijrah. Perintah hijrah kepada Nabi saw. pada bulan Muharram ini menjadi awal lahirnya peradaban umat yang gemilang sehingga predikat umat terbaik nyata adanya. Bahkan karena momentum luar biasa ini, Umar bin Khaththab ra. menetapkan  Muharram sebagai tahun baru umat Islam.


Menurut Ar-Raghib al-Ashfahany, makna hijrah adalah keluar dari wilayah yang menerapkan hukum-hukum kufur, menuju wilayah yang menerapkan hukum-hukum Islam.


Oleh karenanya, hijrah Nabi bukan hanya sekedar berpindah tempat, tapi merupakan peristiwa penting. Rasulullah saw mengubah keadaan umat Islam kala itu yang semula beliau dan para pengikutnya mendapatkan penindasan dan teraniaya selama 13 tahun di Makkah, berubah total setelah berada di Madinah. Umat Islam sebagai khaira ummah bisa terwujud dengan sempurna. Mereka berubah menjadi umat yang mulia, kuat dan disegani.


Ibnu Abbas menafsirkan QS Ali Imran ayat 110, “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dengan menauhidkan Allah (tidak menyekutukan) dan mengikuti Nabi Muhammad, serta mencegah dari yang mungkar, yaitu dari kekufuran, kesyirikan, dan menyalahi Rasulullah; dan beriman kepada Allah, kepada Al-Qur’an dan kitab-kitab sebelumnya, serta beriman kepada Rasulullah Muhammad dan rasul-rasul sebelumnya.”


Dengan demikian, momentum Muharram bukan semata sebatas seremonial belaka tapi harus dimaknai secara menyeluruh terutama mengacu pada aktivitas hijrah Rasulullah dan kaum muslimin dalam ketaatan dan kecintaan mereka pada syariat Islam. Inilah makna hakiki yang mestinya dilakukan oleh umat Islam yaitu melakukan perubahan secara totalitas dengan meninggalkan seluruh peraturan yang bersumber dari akal manusia seperti sekularisme dan kapitalisme.


Wallahu'alam bish-shawwab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update