Oleh: Ummu 'Alsiyah
(Aktivis Muslimah)
Pemerintah Kota Medan tengah mempersiapkan sistem pengelolaan sampah yang efektif dan efisien, mengingat volume sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Terjun, Kecamatan Medan Marelan, akan overload pada tiga tahun mendatang (Waspada.id, 5/6/2025).
Masalah sampah adalah masalah klasik. Pengelolaan sampah yang buruk menjadi sumber penyakit untuk wilayah TPA dan sekitarnya. Tak jarang bau tak sedap terasa sampai wilayah lain.
Sikap konsumtif masyarakat semakin meningkatkan jumlah sampah. Masyarakat juga tidak peka terhadap pengelolaan sampah yang baik. Sampah plastik yang tidak bisa terurai juga menjadi biang permasalahan. Bayangkan saja 2000 ton sampah itu bertambah dan berkumpul setiap harinya di TPA Terjun. Ancaman penyakit tentu mereka dahulu yang akan merasakannya.
Pola konsumtif warga dan juga ketidakpekaan warga dalam mendaur ulang sampah juga karena tidak adanya fasilitas daur ulang untuk sampah tersebut seolah dinas kebersihan berpikir sendiri bagaimana menyelesaikan permasalah sampah.
Kalau dilihat masalah sampah ini adalah masalah sistemis. Sistem Kapitalisme yang menciptakan masyarakat fomo dan konsumtif menjadi biang masalah penghasil sampah terbesar. Sampah fashion, plastik kemasan, dan diapers adalah sampah yang terbanyak dan tidak mampu terurai dalam tempo waktu yang amat sangat lama. Namun sampah ini pula yang paling banyak menimbun TPA.
Ketidaksadaran akan ekologi lingkungan pada masyarakat juga menjadi masalah serius. Bukan hanya bau tak sedap, namun berbagai jenis penyakit juga akan menjangkiti wilayah sekitar.
Meski pemerintah daerah menjanjikan akan ada penemuan cara baru untuk mendaur ulang sampah, namun hingga saat ini kondisi TPA sudah overload. Gunung sampah sudah menjulang tinggi. Seperti tidak ada penyelesaiannya karena sampah yang didaur ulang tidak akan terkejar oleh sikap konsumtif warga. Sampah akan ada banyak terus dan terus.
Pepatah yang populer dalam Islam yakni kebersihan adalah sebagian dari iman harusnya sudah melekat pada kaum muslimin. Dalam Islam, thaharah adalah pelajaran pertama ketika kita membahas terkait dengan fiqh Islam. Thaharah menjelaskannya tentang kebersihan. Islam sangat menekankan kebersihan diri setiap muslim. Bukan hanya diri, namun juga lingkungan wajib dijaga kebersihannya. Ketika kita membuang sampah sembarang berarti kita dzalim terhadap yang lain karena dampak dari membuang sampah sembarang akan merusak ekologi lingkungan sekitar.
Allah Maha Mengawasi setiap perbuatan hambanya sehingga pada setiap diri hamba ada rasa takut untuk membuat kerusakan lingkungan. Islam juga mengenal adanya amal jariyah, misal ketika kita menanam pohon yang pasti sangat bermanfaat kepada lingkungan sekitar, kita juga akan mendapatkan pahala jariyah yang tidak akan terputus karena ada manfaat yang diterima oleh manusia lainnya. Sehingga aqidah menjadi motivasi utama dalam menjaga kebersihan lingkungan.
Begitu pun peran negara sangat penting dalam hal ini. Seorang muslim harus senantiasa diingatkan mengenai pemakaian produk seperlunya, bukan semaunya. Sehingga budaya fomo dan konsumtif tidak tercipta dalam sistem Islam.
Negara akan memfasilitasi ruang lingkungan hidup agar pemanfaatan kompos ada tempatnya. Untuk sampah yang tidak bisa terurai maka akan difasilitasi negara dengan inovasi daur ulang.
Negara punya kewajiban dalam menjaga kesehatan rakyatnya. Sampah tidak ditumpuk begitu saja sehingga menjadi sumber penyakit. Tapi meminimalisir sampah dan juga mendaur ulangnya adalah pilihan tepat untuk bisa menyelesaikan persoalan ini.
Negara akan memberikan sanksi yang tegas kepada siapa saja yang melanggar peraturan yang telah dibuat oleh negara yakni terkait dengan pengelolaan sampah. Sehingga rakyat akan tersistem dan bijak dalam hal masalah sampah. Jika sistem berjalan dengan baik, maka ekologi lingkungan hidup yang sehat pun dengan sendirinya akan tercipta dengan baik pula. Wallahu'alam bi shawab

No comments:
Post a Comment