Oleh Rena Malinda
Aktivis Dakwah
Indonesia dikenal sebagai negeri yang subur dan kaya akan sumber daya alam. Julukan "zamrud khatulistiwa" bukan sekadar pujian kosong, melainkan pengakuan terhadap kekayaan alam yang luar biasa. Sawah membentang luas, lautan menyimpan kekayaan tak terhingga, dan hutan menghasilkan beragam komoditas. Namun, sangat ironis ketika di tengah kekayaan ini, jutaan rakyat justru kesulitan memenuhi kebutuhan dasar mereka, termasuk untuk sekadar makan. Harga beras melonjak, daya beli menurun, dan kelaparan membayangi masyarakat bawah. Mengapa negeri yang subur ini tidak mampu memberi makan rakyatnya sendiri? Lalu, apa yang salah?
Fenomena rakyat kelaparan di negeri yang makmur ini merupakan paradoks yang menyakitkan. Di satu sisi, Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam yang seharusnya mampu mencukupi kebutuhan dalam negeri. Di sisi lain, pengelolaan yang buruk, kebijakan yang salah arah, dan dominasi kepentingan pasar bebas menjadikan rakyat sebagai korban. Kita melihat fakta-fakta yang menyayat hati seperti para petani yang tidak bisa makan nasi karena tak mampu beli beras, nelayan yang tidak bisa menikmati hasil lautnya sendiri, dan buruh yang bekerja keras tetapi tetap hidup di bawah garis kemiskinan.
Seperti yang dikutip dari laman ekonomi.bisnis.com (Senin, 16 Juni 2025) Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan harga beras terus mengalami kenaikan di beberapakabupaten/kota pada minggu kedua Juni 2025. Deputi Statistik Bidang Industri dan Jasa BPS Pudji Ismartini mengatakan beras menjadi salah satu komoditas yang mengalami kenaikan harga di bandingkan minggu sebelumnya. Data BPS menunjukkan beras terus mengalami kenaikan harga di 133 kabupaten/kota pada minggu kedua Juni 2025. Padahal, pada minggu pertama Juni 2025 terdapat 119 kabupaten/kota yang mengalami kenaikan harga beras.
Lonjakaan harga pangan, terutama beras, menjadi momok menakutkan bagi masyarakat. Pemerintah menyatakan stok beras cukup, namun kenyataan di pasar berkata lain. Impor beras terus dilakukan, bukan untuk menyejahterakan rakyat, melainkan untuk melayani kepentingan pemilik modal. Ini jelas menunjukkan bahwa sistem ekonomi hari ini gagal menjamin ketersediaan pangan yang adil dan merata.
Kondisi ini tak bisa dilepaskan dari sistem kehidupan yang digunakan yaitu sistem sekuler kapitalis. Sistem ini memisahkan agama dari kehidupan, termasuk dari pengaturan ekonomi. Akibatnya, kebijakan yang diambil tidak berpihak kepada kepentingan rakyat, melainkan kepada segelintir pemilik modal. Tanah dikuasai korporasi, pasar dikuasai importir, dan hasil pertanian tak memberi untung bagi petani. Pemerintah bukannya mengatur dan melindungi, malah ikut terseret dalam mekanisme pasar bebas yang menyengsarakan.
Kapitalisme tidak mengenal keadilan distribusi. Ia membiarkan kekayaan menumpuk di tangan segelintir elit, sementara mayoritas rakyat hanya menjadi objek pasar. Negara abai dalam mengurus kebutuhan dasar rakyat, karena logika kapitalisme mengharuskan rakyat mandiri dan bersaing di pasar yang tidak seimbang. Maka wajar jika yang kuat semakin kuat, dan yang lemah terus terpinggirkan.
Sekularisme sebagai ideologi yang memisahkan agama dari kehidupan, turutmemperparah keadaan. Dalam sistem ini, ajaran agama dikesampingkan dalam pengambilan kebijakan. Padahal Islam memiliki seperangkat aturan yang lengkap dalam mengatur distribusi kekayaan, pengelolaan sumber daya alam, dan kewajiban negara terhadap rakyat. Ketika agama dijauhkan dari kehidupan, maka moral penguasa dan kebijakan publik kehilangan arah. Akibatnya, kemiskinan bukan sekadar akibat kurang pangan, tapi juga kurangnya keadilan.
Sementara, negara dalam sistem Islam tidak boleh membiarkan satu pun rakyatnya lapar. Negara wajib menjamin pangan, sandang, papan, pendidikan, kesehatan, dan keamanan sebagai hak dasar rakyat. Dalam sistem Islam, tanah pertanian tidak boleh dimonopoli, distribusi kekayaan diatur secara adil, dan negara tidak membiarkan harga pangan dikendalikan pasar bebas.
Maka, kelaparan di negeri subur ini bukan karena kekurangan sumber daya, tapi karena kesalahan dalam sistem pengelolaan kehidupan. Sudah saatnya kita menyadari bahwa sistem kapitalisme sekuler telah gagal memberikan kesejahteraan yang hakiki. Kita butuh sistem yang lahir dari wahyu, bukan dari akal manusia yang terbatas.
Islam adalah satu-satunya solusi yang menyeluruh dan adil. Ia bukan hanya agama ritual, tetapi juga sistem yang mengatur seluruh aspek kehidupan, termasuk urusan pangan dan ekonomi. Dalam sistem Islam, kesejahteraan bukan mimpi, melainkan keniscayaan. Hal ini telah terbukti dalam sejarah panjang peradaban Islam. Pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz, misalnya, tidak ditemukan seorang pun rakyat yang mau menerima zakat karena semuanya hidup sejahtera.
Wallahu'alam bissawab

No comments:
Post a Comment