Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Program Magrib Mengaji, Mampukan Membentuk Karakter Anak?

Tuesday, July 01, 2025 | Tuesday, July 01, 2025 WIB Last Updated 2025-07-01T07:16:41Z
Program Magrib Mengaji Mampukan Membentuk Karakter Anak?

Nur Inayah


Bupati Bandung Dadang Supriatna akan mengeluarkan Instruksi Bupati terkait Program Magrib Mengaji bagi anak-anak. Instruksi ini menyusul dikeluarkannya Surat Edaran Bupati sebelumnya terkait Program Magrib Mengaji.


“Saya akan keluarkan Instruksi Bupati untuk menindaklanjut SE tentang himbauan diadakannya Program Magrib Mengaji,” kata Bupati Bandung saat menghadiri Haul Muassis Pondok Pesantren Al-Husaeni ke-4 di Desa Ciheulang Kecamatan Ciparay, Selasa 17 Juni 2025.


Sebelumnya, saat pembukaan MTQH ke-39 tingkat Jawa Barat, di Dome Bale Rame Soreang, Kabupaten Bandung, Minggu (15/6/2025) malam, Bupati Bandung Dadang Supriatna mengaku sudah menerbitkan Surat Edaran terkait program Magrib Mengaji di rumah atau madrasah masing-masing.


“Kalau Magrib Mengaji ini diterapkan di rumah atau madrasahnya masing-masing, insya Alah anak-anak Kabupaten Bandung tidak perlu dimasukan ke Barak Militer juga bakal nurut ke Pak Gubernur,” seloroh bupati Kang DS. Ia juga berharap agar Program Magrib Mengaji ini nantinya bisa diimplementasikan di seluruh Jawa Barat.


Seperti yang kita ketahui , Program Magrib Mengaji ini sendiri bertujuan untuk memberikan pendidikan karakter kepada anak-anak melalui kegiatan membaca Al- Qur'an  dan belajar nilai-nilai agama Islam setelah sholat magrib.


Program ini pun disambut berbagai tanggapan, ada yang memberikan respon positif, karena diharapkan dengan program ini bisa meningkatkan minat anak-anak dalam belajar agama. Namun ada juga yang mengkritik karena program ini dianggap tidak efektif dalam meningkatkan minat belajar agama, karena metode pembelajarannya yang dianggap kurang menarik dan kurang inklusif, karena hanya menyasar umat Islam saja.


Selain itu , realitasnya program ini banyak mengalami kendala, seperti kurangnya regulasi yang jelas dan partisipasi masyarakat yang belum optimal, salah satunya terkait anak-anak yang kecanduan gadget yang hilang minatnya pada Al-Qur'an.


Bukan rahasia umum lagi potret kehidupan anak-anak, khususnya remaja saat ini yang  begitu mengkhawatirkan. Banyak anak-anak yang terjerumus kedalam kenakalan remaja, mulai dari tawuran , pergaulan bebas, bullying , tindakan kriminalitas dan masih banyak yang lainnya.


Hal ini tentunya tak lepas dari sistem kehidupan yang diterapkan saat ini, yakni sekuler- kapitalis, yang memisahkan agama dari kehidupan, yang menjadikan anak-anak hari ini jauh dari nilai-nilai agama Islam. Ditambah lagi efek pengaruh gadget yang luar biasa, dengan konten yang tidak mendidik bahkan berbahaya, semisal  pornografi, konten kekerasan dan berbagai konten-konten yang merusak lainnya, dalam berbagai variasinya. Bebas beredar di layar gadget, tanpa ada penjagaan yang serius yang diberikan oleh negara, sebagai pihak yang berwenang.


Semakin parah lagi karena adannya kebebasan berekspresi, apapun bisa dilakukan dan ditunjukan, selama dipandang ada keuntungan dan tidak merugikan orang lain. Hal ini, karena asas yang dipakai dalam sistem sekuler kapitalis ini, adalah asas manfaat. Tanpa memperhatikan dampak yang ditimbulkan, sekalipun  melanggar nilai-nilai sosial dan  agama, selagi tontonan atau konten itu dapat mendatangkan pundi-pundi materi bagi pembuatnya, maka tidak masalah.



Belum lagi sistem pendidikan yang diselenggarakan saat ini, karena Berasas sekularisme, maka jauh dari agama Islam. Pelajaran agama hanya sepekan sekali diberikan di sekolah umum, itu pun dengan waktu yang tidak optimal. Ketika orang tua ingin menyekolahkan anaknya ke sekolah yang mengajarkan nilai-nilai agama lebih banyak lagi, orang tua terkendala dengan biaya yang cukup mahal.


Berbeda dengan Islam, yang mengatur bukan hanya sekedar ibadah ritual saja, namun di dalamnya ada seperangkat aturan yang mengatur segala aspek kehidupan. Begitupun dengan sistem pendidikannya, mampu melahirkan generasi yang memiliki kepribadian Islam, yakni pola pikir Islam dan pola sikap Islam( syaksiyah islamiyah), apapun ilmu yang nanti diperoleh dan dipahami akan dipakai sebaik-baiknya untuk kemaslahatan umat dan semata-mata meraih ridho Allah SWT.


Di dalam Islam pun ,pendidikan merupakan salah satu kebutuhan dasar yang wajib diberikan oleh negara secara gratis, selain kebutuhan dasar lainnya seperti kesehatan dan keamanan. Hal ini dapat diberikan tatkala SDA dikelola oleh negara, dan hasilnya  akan  dipakai untuk kemaslahatan rakyatnya, salah satunya untuk penyelenggaraan pendidikan. Maka dapat dipastikan, orang tua tidak akan bingung dan takut tatkala menginginkan pendidikan yang terbaik untuk putra putrinya.


Sejarah pun mencatat bagaimana kegelimangan sistem pendidikan Islam yang mampu melahirkan peradaban yang menjadi mecusuar dunia kala itu, yakni masa keemasan Islam. Pada masa ini, pendidikan Islam mencapai puncak kejayaannya dengan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya pada masa  Abbasiyah.



Kegelimangan emas ini dapat dirasakan dan diraih kembali , tatkala negara menerapkan syari'at Islam secara keseluruhan untuk mengatur  seluruh aspek kehidupan. Sebagaimana janji Allah SWT dalam firman-nya :

"Dan sekiranya penduduk negeri-negeri itu beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya." Surat Al- A'raf ayat 96.


Maka dapat dipastikan Program Magrib Mengaji, bukan menjadi solusi yang efektif, untuk mencetak generasi yang memiliki Akhlakul Karimah dan pemahaman Islam yang baik , karena agar anak mau lebih mengenal Sang Pencipta dan Kitabnya Al-Qur'an, harus ada peran negara yang menerapkan sistem Islam yang sahih, yang dapat melahirkan generasi yang unggul dan berkepribadian Islam yang tinggi. Cikal bakal generasi unggul ini lahir dari keluarga dan masyarakat yang bertakwa, yang semakin diperkuat dengan hadirnya negara yang memiliki visi dan misi yang sama, yakni melahirkan generasi khoiru ummah (umat terbaik).



Walahu a'lam bish shawab. 

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update