Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Penghinaan Nabi Terulang dalam Sistem Kapitalis

Sunday, July 13, 2025 | Sunday, July 13, 2025 WIB


Oleh Sahna Salfini Husyairoh, S. T

Aktivis Muslimah


Majalah Satire asal Turki, LeMan kembali menimbulkan kontroversi besar setelah memuat kartun yang secara terang-terangan menghina Nabi Muhammad saw., sosok mulia yang dicintai milyaran umat muslim di dunia (www.tempo.co).

Tindakan ini segera memicu gelombang kemarahan publik  khususnya umat Islam di Turki. Sekelompok besar demonstran berkumpul didepan kantor LeMan's di Instabul Turki sebagai bentuk protes (www.cnnindonesia.com)

Polisi di Turki menahan 3 karyawan di Satire pada Selasa 1 Juli 2025, hal ini menambah jumlah orang yang ditahan terkait pemuatan kartun yang diduga  menggambarkan nabi Muhammad menjadi empat orang (www.tempo.co).

Penahanan tersebut merupakan bagian dari penyelidikan yang sedang diluncurkan jaksa Istanbul atas kejahatan "menghina nilai-nilai agama didepan umum" meskipun media tersebut menangkal gambar yang dimaksud seorang pria Muslim bernama Muhammad dan dimaksudkan untuk menyoroti penderitaan umat Muslim. 

Pihak otoritas memerintahkan penangkapan terhadap pihak terkait. Kemarahan umat tidak serta mereda. Rakyat Turki sebagai penduduk mayoritas muslim dengan tegas menolak segala bentuk penghinaan terhadap agama Islam. Umat muslim Turki turun dijalan menyuarakan aspirasi menunjukkan penghinaan terhadap Nabi bukanlah sesuatu yang dianggap sepele atau dikompromikan.

Tragedi ini bukan yang pertama, dunia Islam berkali-kali menjadi saksi kebebasan berekspresi di barat, dan kini di negeri muslim sekuler menjadi tameng untuk menyerang Islam seperti halnya karikatur, komik, dan film-film yang melecehkan Nabi Muhammad saw. dan ajaran Islam terus bermunculan. Dilegalkan atas nama kebebasan berpikir dan berkarya. Penghinaan terus terjadi ditengah dunia yang mengaku menjunjung tinggi toleransi dan kemanusiaan.

Namun nyatanya, toleransi seolah hanya berlaku satu arah. Ketika Islam dihina, umat diminta untuk tenang, memaafkan, atau bahkan jangan baper. Padahal sebagai orang muslim mencintai Nabi Muhammad saw. adalah bagian dari iman. Setiap pelecehan terhadap Rasulullah SAW akan melukai batin umat yang paling dalam.

Ironisnya sistem demokrasi justru membuka ruang lebar bagi pelecehan ini. Di bawah demokrasi segala ekspresi dianggap sah termasuk yang menyakiti keyakinan umat Islam. Nilai-nilai liberal mengaburkan batas antara kritik dengan penghinaan antara kebebasan dan kezaliman akibatnya Islam terus dijadikan sasaran penghinaan. Kebencian terhadap Islam bukan hal baru, sejarah mencatat propaganda anti-Islam terus diproduksi oleh mereka yang takut terhadap kebangkitan umat.

Kaum kafir sadar untuk melemahkan Islam, harus menghina simbolnya, Nabi Muhammad saw. sebagai pusat cinta dan keteladanan umat, terus mereka jadikan sasaran. Umat Islam tidak boleh menjadikan ini terus terjadi, sudah saatnya kita menyadari penghinaan ini bukan sekadar ulah segelintir individu. Ini buah dari sistem sekuler yang membuang agama dari kehidupan.

Selama sistem ini terus dipertahankan, umat akan terus menjadi korban, oleh karena itu solusi mendasar bukan sekadar mengecam dan berdemo tetapi kembali kepada kehidupan Islam kaffah, sebuah sistem yang akan menjaga kehormatan agama ini, melindungi kemuliaan Nabi Muhammad saw., dan tidak memberi ruang sedikitpun bagi musuh-musuh Islam untuk melecehkannya. Perisai yang hanya bisa diwujudkan dengan tegaknya Khilafah Islamiyyah.

Wallahualam bissawab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update