Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Palestina Kian Membara, Umat Harus Bergerak Nyata

Wednesday, July 16, 2025 | Wednesday, July 16, 2025 WIB



Oleh Nurul Aini Najibah

Pegiat Literasi


Penjajahan oleh Zionis terhadap Palestina masih berlanjut dan kembali memakan korban jiwa. Serangan udara terbaru yang dilancarkan Israel di Jalur Gaza kembali merenggut nyawa puluhan warga Palestina, termasuk di antaranya orang-orang yang sedang mengantri bantuan makanan, di tengah situasi krisis kemanusiaan yang semakin memburuk. Aksi kekerasan telah merenggut sedikitnya 68 nyawa. (cnbcindonesia.com, 30/6/2025)


Sementara itu, menurut Kementerian Kesehatan Palestina pada Selasa, 1 Juni 2025, sedikitnya 56.647 warga Palestina telah kehilangan nyawa akibat agresi militer Israel di Jalur Gaza sejak Oktober 2023. (tempo.com, 2/7/2025)


Dunia Membisu


Aksi kekerasan yang dilakukan oleh Zionis Yahudi semakin melewati batas nilai-nilai kemanusiaan dan memperlihatkan tingkat kebiadaban yang sangat mengkhawatirkan. Di tengah krisis kemanusiaan yang begitu parah, para pemimpin negara-negara muslim tampak tidak berdaya. Bahkan, sebagian pemimpin negara-negara muslim masih menjalin hubungan dengan pihak penjajah. Kurangnya pemahaman terhadap akar permasalahan Palestina, serta kuatnya ambisi terhadap kekuasaan dan jabatan, telah membutakan hati dan mata mereka, hingga mengabaikan ikatan persaudaraan atas dasar keimanan.


Selain itu, meski kecaman telah disuarakan, tak ada tindakan nyata yang diambil untuk menghentikan kekerasan yang terjadi. Di berbagai belahan dunia, jutaan umat Islam menyuarakan kepedulian, menggalang solidaritas, bahkan menyerukan jihad sebagai bentuk perlawanan yang nyata. Namun, para penguasa tetap pasif, terikat oleh kepentingan politik dan ekonomi, serta diliputi ketakutan terhadap tekanan dari negara-negara Barat.


Tidak mengherankan jika sebagian pemimpin negara-negara muslim tetap menjalin hubungan baik dengan pihak penjajah. Sebab, pada kenyataannya, banyak dari mereka terutama di wilayah Arab berperan sebagai perpanjangan tangan dari kepentingan kekuatan asing. Akibatnya, sikap dan kebijakan mereka cenderung mengikuti arahan negara-negara Barat. Dalam konteks konflik Palestina, Amerika Serikat dipandang sebagai aktor utama yang turut mendorong terjadinya eskalasi kekerasan.


Racun Nasionalisme


Sungguh, nasionalisme telah menjadikan para pemimpin negara-negara muslim terjebak dalam kebanggaan terhadap identitas kebangsaan masing-masing. Dengan memanfaatkan sentimen geografis ini, kekuatan penjajah berhasil memecah belah umat Islam ke dalam berbagai negara-bangsa. Akibatnya, mereka hidup terpisah dalam batas-batas teritorial dan cenderung tidak peduli terhadap kondisi sesama muslim di wilayah lain, dengan dalih bahwa hal tersebut bukan tanggung jawab mereka.


Banyak umat Islam yang tidak menyadari adanya strategi untuk memecah belah, justru tumbuh dan berkembang dengan semangat nasionalisme. Padahal, nasionalisme sering kali menjadi akar melemahnya kepedulian dan kesadaran terhadap persoalan-persoalan yang menimpa dunia Islam, termasuk penderitaan yang dialami rakyat Palestina.


Sementara itu, negara-negara Barat mendorong penyebaran paham nasionalisme di kawasan Arab, sembari mengangkat isu-isu seperti Pan-Islamisme dan Pan-Arabisme. Upaya ini terus digencarkan hingga satu per satu negeri Muslim pada masa itu memisahkan diri dari pemerintahan pusat Khilafah Islamiyah. Akibatnya, hanya Turki yang tersisa sebagai pusat kekuasaan Islam.


Selain itu, wilayah kekuasaan Islam pun terus menyusut, diperparah oleh munculnya pengkhianat dari kalangan umat Islam sendiri. Dalam kondisi tersebut, kekuatan asing dengan mudah berhasil meruntuhkan sistem pemerintahan Islam yang telah berdiri selama kurang lebih 14 abad. Saat ini, Turki telah menjadi negara sekuler yang belum mampu menawarkan solusi konkret terhadap krisis yang terjadi di Palestina. Sebuah kenyataan yang amat memilukan.


Sangat jelas bahwa nasionalisme telah menjadi penghalang serius bagi persatuan umat Islam. Paham ini pula yang terus menghambat upaya kebangkitan umat untuk kembali meraih posisinya sebagai umat terbaik. Nasionalisme menjadikan batas-batas negara tampak lebih penting dibandingkan ikatan akidah, padahal Islam mengajarkan prinsip persatuan dan menolak perpecahan.


Upaya Membangun Kesadaran Umat


Meningkatkan kesadaran umat bahwa Islam merupakan solusi mendasar bagi Palestina dan negara-negara muslim lainnya perlu terus diupayakan melalui dakwah. Upaya ini dapat dilakukan melalui berbagai pendekatan, yaitu:


Pertama, dengan melakukan pembinaan yang intensif, baik secara individual maupun kolektif, melalui pengkajian pemikiran Islam serta pemahaman akan pentingnya menjadikan Islam sebagai pedoman hidup. Islam bukan semata-mata agama yang mengatur ibadah ritual, melainkan juga merupakan sistem kehidupan yang mencakup aspek sosial dan tata kelola negara.


Mengamalkan Islam harus dilakukan secara menyeluruh, bukan dengan sikap selektif yang hanya mengambil sebagian ajaran lalu mengabaikan bagian lainnya. Allah Swt berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, masuklah ke dalam Islam (kedamaian) secara menyeluruh dan janganlah ikuti langkah-langkah setan! Sesungguhnya ia musuh yang nyata bagimu.” (QS Al-Baqarah: 208)


Kedua, mengungkap tipu daya serta propaganda yang dilancarkan oleh penjajah dan musuh-musuh Islam, agar umat senantiasa waspada dan tidak mudah terpengaruh oleh narasi yang mereka sebarkan. Upaya ini dapat dilakukan dengan menyebarluaskan pemikiran dan pandangan Islam melalui berbagai media, seperti tulisan, platform media sosial, interaksi langsung dengan masyarakat, serta beragam konten dakwah yang mampu membangkitkan kesadaran umat akan pentingnya penerapan sistem Islam dalam kehidupan.


Ketiga, menyampaikan dakwah amar ma'ruf nahi mungkar secara damai, tanpa menggunakan kekerasan. Saat ini, sekularisme masih menjadi pemikiran dominan dalam kehidupan umat. Oleh karena itu, penting untuk membangun kesadaran dan menanamkan akidah Islam secara mendalam dalam diri setiap muslim. Hal ini dapat dilakukan dengan mengajak mereka untuk berpikir secara menyeluruh bahwa Islam adalah sebuah ideologi yang memiliki pandangan khas terhadap alam semesta, manusia, dan kehidupan, serta mampu memberikan solusi yang jelas dan tidak bias terhadap berbagai persoalan hidup.


Melalui upaya ini, umat akan memiliki kesadaran yang benar dan pemikiran yang jernih bahwa permasalahan Palestina tidak dapat diselesaikan hanya dengan bantuan kemanusiaan atau sosial semata. Solusi yang mendasar bagi Palestina adalah pembebasan sejati, yang memerlukan kesadaran intelektual dan emosional, serta keberadaan sistem dan negara yang mampu melindunginya dari penjajahan Yahudi dan musuh-musuh Islam.


Dengan demikian, umat perlu membangun kesadaran ini secara berkelanjutan agar tercipta kesadaran kolektif di tengah masyarakat muslim. Kesadaran inilah yang kemudian mendorong terbentuknya perjuangan kolektif untuk menegakkan institusi Islam, yang diyakini sebagai landasan utama dalam usaha membebaskan Palestina. Dengan berdirinya institusi ini, seorang khalifah akan mengerahkan kekuatan militer umat Islam dan mengarahkan pasukan serta kendaraan tempur mereka untuk menghadapi entitas Zionis melalui seruan jihad di jalan Allah. Sesungguhnya, keberadaan Islam merupakan kebutuhan yang sangat mendesak dan fundamental bagi umat Islam dalam membebaskan negeri-negeri muslim dari berbagai bentuk penjajahan oleh kekuatan asing.


Wallahu a'lam bish-shawab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update