Oleh: Vita Ratna, S. Pd
(Aktivis Muslimah)
Bullying bukan sekadar soal kenakalan anak. Ia bisa melukai jiwa, menanamkan trauma, bahkan mematahkan masa depan. Dan sayangnya, perundungan masih terus menghantui kehidupan anak-anak kita, terutama di sekolah—tempat yang seharusnya menjadi ruang aman dan nyaman bagi mereka tumbuh dan belajar.
Data memang mencengangkan. Tahun 2023, KPAI mencatat hampir 4.000 kasus bullying. Separuh lebih terjadi di sekolah. Dan di tahun berikutnya, laporan dari JPPI menunjukkan jumlah kekerasan di sekolah terus bertambah. Tidak hanya jumlah yang memprihatinkan, dampaknya pun dalam. Banyak anak yang mengalami depresi berat, bahkan sampai terpikir untuk mengakhiri hidup. Ini bukan main-main.
Sebagian besar dari kita mungkin sudah familiar dengan berbagai upaya yang dilakukan pemerintah. Ada pelatihan guru, program anti-perundungan, hingga pembentukan kelompok perlindungan anak di beberapa desa. Tapi, mengapa semua itu belum cukup? Mengapa bullying masih terjadi dan bahkan tumbuh lebih diam-diam, lebih halus, dan lebih menyakitkan?
Satu hal yang sering terlupa adalah akar persoalannya bukan hanya di anak-anak. Tapi di sistem yang membentuk mereka.
Islam dan Cara Pandangnya terhadap Anak
Berbeda dengan pendekatan sekuler yang cenderung reaktif—bergerak ketika masalah sudah meledak—Islam sejak awal membangun manusia dari fondasi yang benar. Anak-anak bukan sekadar objek didik, mereka adalah amanah besar. Dalam pandangan Islam, memperlakukan anak dengan baik adalah bagian dari iman.
Bayangkan sebuah masyarakat di mana sejak kecil, anak-anak diajari bahwa menyakiti orang lain itu dosa. Bahwa menghormati teman, menjaga lisan, dan bersikap lembut bukan hanya nilai moral, tapi bentuk penghambaan kepada Allah. Pendidikan dalam Islam bukan hanya soal angka, ijazah, atau prestasi, tapi pembentukan pribadi yang luhur. Dan ini bukan sebatas teori.
Khilafah: Sistem Sistemik Perlindungan Generasi
Dalam sistem Khilafah, setiap anak dibesarkan dengan akidah Islam sebagai dasar hidup. Pendidikan bukan sekadar tempat belajar ilmu dunia, tapi tempat pembentukan karakter. Sejak dini, mereka dipahamkan untuk berkata baik, memperlakukan orang lain dengan hormat, dan menjauhi segala bentuk kezhaliman—termasuk bullying.
Keluarga tak dibiarkan berjalan sendiri. Negara turut hadir, membina orang tua melalui berbagai media, kajian, dan sistem informasi. Tayangan yang merusak karakter anak? Dihapuskan. Tidak ada ruang bagi konten yang mengajarkan kekerasan, ejekan, atau pelecehan verbal. Semua media tunduk pada syariah.
Di lingkungan masyarakat pun, amar ma’ruf nahi munkar menjadi budaya. Ketika ada perilaku menyimpang, masyarakat tidak diam. Mereka saling mengingatkan. Bukan untuk menghakimi, tapi sebagai bentuk kasih sayang dan tanggung jawab bersama.
Negara, dalam hal ini Khilafah, tidak duduk di menara gading. Ia hadir langsung melindungi. Anak-anak tidak sekadar "diperhatikan" lewat regulasi, tapi dijaga sungguh-sungguh. Kasus kekerasan ditangani dengan pendekatan yang adil. Pelaku tidak asal dihukum, tapi dibina. Korban tidak hanya diberi tempat aman, tapi juga dipulihkan jiwanya.
Apa Jadinya Tanpa Sistem Islam?
Realitanya sekarang, kita hidup dalam sistem yang tambal sulam. Saat kasus mencuat, barulah semua sibuk bereaksi. Tapi setelah itu, seolah semua kembali lupa. Ini bukan karena orang-orangnya jahat. Tapi karena sistemnya memang tidak disusun untuk menyelesaikan masalah sampai ke akarnya.
Tanpa Islam sebagai sistem hidup, perundungan hanya akan terus berulang. Pendidikan lepas dari nilai ilahiah. Media bebas membentuk karakter buruk. Masyarakat makin permisif. Negara pun sibuk dengan urusan lain.
Saatnya Kembali pada Islam secara Kaffah
Anak-anak kita tidak butuh janji-janji program sesaat. Mereka butuh sistem hidup yang benar-benar menjamin keselamatan dan kehormatan mereka. Dan Islam—melalui Khilafah—pernah membuktikan itu. Dalam naungan syariat, setiap individu dihormati. Bukan karena status atau kekuatan, tapi karena ia manusia.
Kita tak sedang bicara utopia. Kita bicara sejarah yang pernah ada dan solusi yang bisa dihidupkan kembali. Perundungan bisa dicegah, bukan sekadar ditangani. Tapi itu hanya mungkin jika kita bersedia mengambil jalan perubahan yang hakiki: kembali pada Islam secara total. Wallahu'alam bis shawab.

No comments:
Post a Comment