Oleh: Ummu Marsa
(Pejuang Dakwah)
Kondisi Palestina makin memprihatinkan. Data Kementerian Kesehatan Palestina pada Selasa, 1 Juli 2025 menunjukkan bahwa sebanyak 56.647 orang telah meninggal sejak 2023. Total kematian warga Palestina di Gaza telah melampaui 57.000 jiwa hingga detik ini, sebagian besar adalah perempuan dan anak-anak. Bahkan dalam satu malam, 3 Juli 2025, sebanyak 82 orang tewas, termasuk 38 di antaranya saat mencari bantuan kemanusiaan.
Sejak akhir Juni, lebih dari 700 orang tewas saat mencari bantuan makanan di titik distribusi GHF (aljazeera.com). OHCHR mencatat setidaknya 613 korban tewas di area distribusi bantuan dalam satu periode (timesofisrael.com).
- Serangan udara 30 Juni di Al-Baqa Café menewaskan 41 orang, termasuk jurnalis dan sejumlah remaja, sementara puluhan lainnya terluka (en.wikipedia).
- Salah satu korban meninggal adalah Direktur RS Indonesia di Gaza, dr. Marwah Al-Sultan. Ia, bersama istri dan anak-anaknya, meninggal dalam serangan Zionis terhadap sebuah bangunan perumahan di Gaza. Ia adalah simbol perjuangan medis di tengah krisis (Metro TV, 3 Juli 2025, 12.28, Riza Aslam Khaeron). Gerakan Hamas mengecam keras serangan udara Israel yang menewaskan Direktur RS Indonesia di Gaza. Hamas menyebut pembunuhan ini sebagai kejahatan perang dan bagian dari rencana pemusnahan brutal yang terus menerus terhadap rakyat Palestina di Gaza. Dalam pernyataan resminya, Hamas menjelaskan bahwa serangan Israel tidak hanya membunuh individu, tetapi juga menghancurkan sistem kesehatan Palestina secara terorganisir. Militer pendudukan terus menargetkan sistem kesehatan, menghancurkan fasilitas, dan membunuh tenaga medis dalam kejahatan yang belum pernah terjadi sebelumnya di era modern (Telegram Hamas, 2 Juli 2025).
Di tengah situasi Gaza yang memprihatinkan, terjadi pengkhianatan para penguasa Muslim. Konflik di Iran semakin menunjukkan bahwa tak satu pun penguasa Muslim yang serius dan tulus menolong Gaza. Mereka dibayangi oleh sistem sekuler-kapitalisme.
Banyak negara Arab (Arab Saudi, UEA, Mesir, Yordania) secara diplomatis menyatakan dukungan terhadap Palestina, tetapi jarang mengambil tindakan tegas seperti sanksi atau intervensi militer nyata. Zionis dan AS tidak akan pernah menerima kemerdekaan Palestina yang utuh.
Kepemimpinan negara-negara Muslim senior lebih mengutamakan stabilitas, kepentingan politik, dan hubungan strategis (dengan AS dan Israel) dibandingkan membela Gaza secara nyata.
Palestina dan tanah yang ditaklukkan secara damai seperti Yerusalem bukan untuk dimiliki secara pribadi, tetapi tetap menjadi milik negara (baitul mal), sebagaimana perjanjian Khalifah Umar bin Khattab, sang khalifah kedua. Tanah tersebut adalah tanah kharaj—tanah milik umat Islam secara kolektif, yang tidak boleh dijual atau diserahkan kepada penjajah. Penduduk Kristen diizinkan tinggal dan menggarap tanah, mereka membayar jizyah dan kharaj. Masjid Al-Aqsha dibangun di atas sebagian wilayah kota, tetapi rumah-rumah dan gereja tidak dirampas.
Perjuangan membebaskan Palestina memiliki dasar kuat dalam prinsip tanah kharaj: bahwa tanah umat tidak boleh diserahkan kepada penjajah.
Dalam Al-Qur’an disebutkan keberkahan Tanah Syam di beberapa ayat. Salah satunya adalah QS Al-Isra:1 yang menceritakan perjalanan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang diberkahi sekelilingnya. Kisah Nabi Ibrahim, Nabi Luth, Nabi Ya’qub, Nabi Ishaq, dan nabi-nabi lainnya yang hidup serta berdakwah di wilayah Syam juga menjadi bukti keberkahan tanah tersebut.
Tanah Palestina adalah milik umat Islam. Orang-orang Yahudi atau siapa pun yang tidak beriman kepada Allah SWT tidak memiliki hak untuk memerintah di sana, sebagaimana disebutkan dalam QS Al-Maidah:21:
" Wahai kaumku, masuklah ke tanah suci (Baitulmaqdis) yang telah Allah tentukan bagimu dan janganlah berbalik ke belakang (karena takut kepada musuh), nanti kamu menjadi orang-orang yang rugi.”
Namun ayat tersebut disalahgunakan Bani Israil untuk membangkang, sebagaimana dijelaskan dalam ayat-ayat setelahnya, yaitu QS Al-Maidah:22–26. Karena pembangkangan itu, Allah mengharamkan tanah suci tersebut bagi mereka selama 40 tahun, dan mereka dibiarkan tersesat di Padang Pasir Sinai.
Tanah Palestina adalah tanah suci yang dijanjikan, sebagaimana disebutkan dalam QS Al-Anbiya:71, QS Al-Isra:1, QS Saba:18, dan QS Al-A’raf:137. Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa wilayah Syam, khususnya Palestina dan sekitarnya, adalah tanah yang diberkahi.
Fokus pada Gaza adalah bagian dari tanggung jawab moral dan spiritual umat Islam. Namun, ini harus disertai dengan tindakan nyata, informasi yang akurat, serta kepedulian terhadap seluruh bentuk ketidakadilan di mana pun berada. Ini bukan soal memilih satu isu dan melupakan yang lain, tetapi menunjukkan bahwa umat peduli terhadap penderitaan sesama dan menjunjung nilai keadilan universal.
Kembali kepada sistem Islam—sistem hidup yang sempurna.
Hanya dengan kembali kepada Islam secara kaffah, dengan syariat sebagai landasan negara dan masyarakat, umat dapat bangkit dari keterpurukan. Islam tidak anti kemajuan, tetapi menolak dominasi sistem kufur atas umat.
- Khilafah: solusi hakiki dari Islam yang terbukti secara historis menyatukan umat lebih dari 13 abad.
- Khilafah memobilisasi pasukan besar untuk membebaskan tanah umat yang dijajah, dengan menerapkan sistem Islam secara kaffah yang adil serta melindungi seluruh warganya—baik Muslim maupun non-Muslim.
Apa yang harus dilakukan umat sekarang?
- Menolak solusi palsu seperti solusi dua negara, normalisasi, atau perjanjian damai yang terus menguntungkan penjajah.
- Menumbuhkan kesadaran politik bahwa hanya Islam yang mampu menyelesaikan permasalahan Palestina dan seluruh persoalan umat.
- Berjuang secara intelektual, dakwah, dan politik untuk menegakkan kembali Khilafah Rasyidah ‘Ala Minhaj An-Nubuwwah.
Umat harus mendukung dan segera terjun aktif dalam perjuangan menegakkan Khilafah bersama kelompok dakwah ideologis. Umat telah terlalu lama terlelap; kini saatnya bangkit dengan menunjukkan bukti nyata keseriusan dalam menolong Gaza—Palestina—serta mengangkat kehormatan umat dari keterpurukan akibat sistem sekuler kapitalisme.
Wallahu a’lam.

No comments:
Post a Comment