Hujan deras yang mengguyur Kabupaten Bekasi sejak Senin, 7 Juli 2025 sore, menyebabkan dua desa di Kecamatan Cikarang Utara, Tanjungsari dan Karangraharja terendam banjir hingga mencapai ketinggian 150 sentimeter atau 1,5 meter. Banjir merendam kawasan permukiman sekitar pukul 23.00 WIB. Air yang meluap dari Sungai Kaliulu secara tiba-tiba mengepung rumah-rumah warga di Kampung Kaliulu. Dalam waktu singkat, ratusan kepala keluarga harus kehilangan tempat tinggal mereka untuk sementara waktu.(okezone).
Banjir juga merendam sejumlah wilayah di Kota Mataram dan Lombok Barat (Lobar), Nusa Tenggara Barat (NTB), menelan korban jiwa. Dua orang dilaporkan meregang nyawa akibat tersetrum. Kedua warga yang tewas itu adalah Tomi (30) dan Tutik Suryani (50).(detikbali).
Bencana alam merupakan bagian dari ketetapan Allah SWT yang wajib diimani atas seluruh umat muslim dimanapun berada. Banjir, tanah longsor, gunung meletus, kebakaran hutan, kemarau panjang adalah salah satu kondisi yang dihasilkan oleh perubahan iklim yang makin hari intensitas kegentingannya makin sering dirasakan oleh penduduk dunia termasuk Indonesia. Padahal secara letak geografis negri ini sebenarnya mempunyai keistimewaan, disebabkan memiliki empat iklim tropis. Dari situlah,seharusnya edukasi terhadap mitigasi bencana bisa diberikan secara lebih dini agar dapat meminimalisir adanya korban lebih besar lagi.
Kapitalisme biang kerusakan iklim
Melansir laman Emissions Database for Global Atmospheric Research, China menjadi penghasil emisi karbon dioksida (CO₂) terbesar pada 2022 dan 2023. Negara ini menyumbang lebih dari 30 persen emisi global. Sementara Amerika Serikat, menduduki urutan kedua penghasil emisi terbesar di dunia setelah China. Hal ini yang sangat mempengaruhi percepatan perubahan iklim yang menyebabkan panas bumi semakin meningkat dari tahun ke tahun. Belum lagi deforestasi hutan besar-besaran yang dilakukan oleh korporasi dalam rangka membuka hutan lindung menjadi hutan industr yang berakibat pada pergeseran lempengan tanah yang berdampak pada longsor juga likuifaksi. Tidak hanya itu, tata ruang kota yang semrawut juga ikut berkontribusi menutup lalu lintas air serta minimnya resapan air sebagai dampak dari pembangunan jalan maupun perumahan yang pada akhirnya banjir bandang tidak terelakkan. Kondisi tersebut sangatlah mendominasi intensitas bencana alam semakin sering terjadi.
Dari keseluruhan fakta diatas, sistem kapitalismelah yang menjadi pangkal kerusakan yang melanda. Mengapa demikian? Oleh karena sistem ekonomi kapitalisme mendorong manusia untuk berperilaku serakah karena memberikan kebebasan pada individu untuk mengeksploitasi SDA tanpa batas. Kapitalisme juga mengeliminir peran negara dari memelihara urusan umat berubah peran hanya sekedar menjadi regulator bahkan fasilitator bagi kepentingan cukong asing yang hendak menguras kekayaan dengan cara liar dan justru mengorbankan keselamatan rakyat banyak. Hal tersebut dibuktikan dengan terbitnya kebijakan yang memberikan kelonggaran bagi investor asing untuk menjarah kekayaan negri ini seperti UU MINERBA dan UU PMA. Negri ini telah lama mengadopsi sistem kapitalisme, dan selama itu pula rakyat terus menjadi korban dari keserakahan dari para oligarki yang bersekongkol dengan korporasi.
Mitigasi bencana dalam sistem Islam
Allah SWT berfirman; "Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)".(As.Arrum; 41)
Dari ayat diatas dapat dijadikan pelajaran berharga bagi orang-orang yang mau berfikir waras, bahwasannya sistem kehidupan yang diterapkan akan sangat berpengaruh pada pembentukan paradigma berfikir bagaimana cara mengelola sumber daya alam.
Sesungguhnya,mitigasi bencana tidak hanya berkaitan tentang bagaimana menindaklanjuti dalam menghadapi kemungkinan terjadi bencana, akan tetapi lebih dari itu, komponen yang terstruktur dan tersistematis harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari tata ruang kota yang memberikan jalan lalu lintas air menjadi lancar, kebijakan yang mensejahterakan, serta serta perlindungan terhadap seluruh kekayaan negara.
Berkebalikan dengan sistem kehidupan ala kapitalisme yang senantiasa menjadikan asas manfaat untuk meraih segala sesuatu walaupun harus mengorbankan banyak nyawa dengan eksploitasi SDA yang melampaui batas, justru Islam hadir untuk melakukan penyelamatan dunia dengan mekanisme yang sangat menakjubkan. Sistem ekonomi Islam telah membagi kepemilikan dalam tiga hal, yakni ; Pertama. Kepemilikan individu yang didapatkan dari cara bekerja, waris, hadiah, hibah dari negara, dll. Kedua. Kepemilikan umum yakni api (batubara, gas alam, tambang, dll), air (yang keberadaannya menjadi penopang hajat hidup orang banyak) dan padang rumput (hutan lindung, hima,dll) . Ketiga. Kepemilikan negara diantaranya didapat dari harta rampasan perang, harta korupsi, kalalah, dll. Pada akhirnya eksploitasi alam akan diterapkan sesuai dengan hukum syari'ah tanpa mendatangkan kemudharatan bahkan kerusakan bumi. Negara dalam sistem Islam (khilafah) juga akan menerapkan kurikulum pendidikan yang salah satunya adalah mahabbah atau mencintai alam semesta yakni dengan menjaga supaya tetap berada pada keseimbangan alam yang dapat melahirkan kondisi iklim yang kondusif. Negara juga akan menerapkan sanksi hukum yang membuat jera kepada siapa saja yang melanggar ketentuan hukum yang sifatnya memberikan efek jera bagi setiap pelaku tindakan yang non prosedural seperti deforestasi hutan secara ilegal yang dilakukan oleh investor nakal yang akan pabrik diatas lahan tersebut. Dan ketika memang bencana tidak bisa terelakkan, maka negara akan mengerahkan seluruh kemampuan untuk segera melakukan tindakan perbaikan, mulai dari evakuasi warga yang terdampak, memenuhi kebutuhan primernya, memperbaiki seluruh infrastruktur yang rusak, dan yang lainnya.
WAllahu a'lam bi Ash-Showwab.
Penulis; Miratul Hasanah (Pemerhati masalah kebijakan publik)

No comments:
Post a Comment