Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

ASH SHUFFAH, SEKOLAH RAKYAT YANG MELAHIRKAN GENERASI EMAS

Tuesday, July 08, 2025 | Tuesday, July 08, 2025 WIB Last Updated 2025-07-08T02:40:50Z

 

Oleh: Liza Khairina (Ibu Rumah Tangga)


Pendidikan terus menjadi persoalan bersama dalam sistem hari ini, karena tidak semua lapisan masyarakat memiliki kesempatan yang sama dalam belajar dan menempuh pendidikan yang maksimal. Kesenjangan sosial ekonomi di tengah masyarakat berpengaruh sekali pada tingkat pendidikan individu. Apakah latar belakangnya yang tidak ada keinginan bersekolah atau putusnya masa sekolah karena tuntutan ekonomi. 


Negara yang setengah hati melayani kebutuhan masyarakat  meniscayakan hadirnya solusi alternatif guna meratanya tanggung jawab pendidikan oleh penguasa kepada semua rakyat. Seperti Sekolah Rakyat yang baru-baru ini dicanangkan oleh pemerintah Prabowo Subianto sebagai program prioritas dalam upaya memberikan pendidikan gratis berasrama, khusus keluarga miskin ekstrim yang minim akses.


Ini tentu langkah baik sebagai wujud pelayanan penguasa terhadap rakyat. Hanya ketika menelisik lebih jauh, Program Sekolah Rakyat ini ada beberapa aspek penting yang berbeda dengan sekolah pada umumnya. Aspek guru, murid, fasilitas dan kurikulum. Pada kurikulum contohnya, sekolah rakyat lebih menekankan pada pembelajaran yang berbasis pemahaman. Baik pemahaman karakter kepemimpinan, nasionalisme dan keterampilan hidup.


Pada poin inilah penting kita kritisi. Pemahaman nasionalisme yang dipahami para pengambil kebijakan atau secara umum dipahami masyarakat dunia hari ini adalah kecintaan pada negeri dengan tidak mengaitkannya dengan agama. Sekedar dorongan emosi yang hanya bisa muncul sewaktu-waktu dan sifatnya terbatas. Paham nasionalisme adalah jajakan Barat, alat penjajahan untuk semakin mencengkram negeri-negeri berkembang khususnya negeri muslim, dengan menyempitkan pengertian cinra negeri pada ikatan atau sekat wilayah. Pada akhirnya komponen masyarakat tumbuh tidak peduli pada persoalan saudaranya yang di luar sekat wilayahnya.


Seperti kondisi hari ini yang tengah dihadapi kaum muslimin dunia. Baik penguasa, militer maupun rakyatnya yang bersikap diam atas penderitaan saudara muslimnya di Gaza Palestina, di Rohingya, Uighur dan belahan bumi lainnya. Tidak punya tanggung jawab untuk menolong saudaranya. Dan ini adalah buah dari pemahaman Nasionalisme yang mengakar pada jiwa rakyat terutama kaum muslimin.


Hal ini tentu tidak bisa kita biarkan, karena jelas merusak nilai keimanan, bertentangan dengan pemahaman Islam. Islam yang mewajibkan peduli pada saudaranya dimanapun wilayah tinggalnya. Pelajaran ukhuwah islamiyah adalah pelajaran pokok keimanan yang harus dimiliki kaum muslim dan tentunya harus teraplikasi dalam kehidupan keluarga, masyarakat dan negara. Rasulullah saw bersabda:


المسلم اخو المسلم لا يظلمه ولا يسلمه (الحديث)


"Seorang muslim bersaudara dengan muslim lainnya. Dia tidak menzhaliminya dan tidak (pula) membiarkannya dalam kezhaliman (kesulitan)."


Karena itu, kurikulum berbasis pemahaman Nasionalisme yang diperuntukkan buat Sekolah Rakyat yang sasarannya adalah orang miskin yang minim akses bukanlah solusi, namun justru menjadi ancaman karakter yang berakibat buruk buat generasi masa depan. Mempersempit ikatan dan perjuangan hanya pada kewilayahan akan membuat umat Islam tidak peduli dan bercerai berai, jauh dari ikatan aqidah Islam yang menyatukan.


Lihatlah bagaimana peradaban Islam membangun manusia. Mengatasi problematika pengurusan umat termasuk kemiskinan. Memuliakan dan menempatkan mereka yang miskin pada posisi yang sama dalam dunia pendidikan. Bahkan lebih dari itu, umat Islam tumbuh zuhud dan bermanfaat dengan menyeimbangkan kehidupan dunia dan akhirat.


Ahlusshuffah, penghuni serambi Masjid Nabawi Madinah adalah role model kepemimpinan Rasul saw yang sukses membina, mendidik umat dari kalangan orang-orang miskin, kemudian tumbuh menjadi pecinta ilmu yang bersungguh-sungguh mengamalkannya. Di antara mereka ada yang menjadi duta Islam, ulama, muhadditsin, dan mujahidin yang berkontribusi bagi negara Madinah karena dorongan iman dan takwa. Bukan paham Nasionalisme yang meninggalkan saudaranya karena sekat wilayah.


Maka, seharusnya program prioritas Sekolah Rakyat yang hari ini sedang digarap penguasa mampu mencontoh kepemimpinan Rasul saw. Menampung mereka dengan membentuk pola pikir dan pola sikapnya hanya berlandasksn pada Syariat Islam kaffah, agar tumbuh menjadi generasi pemimpin di masa depan yang nanti akan membawa Indonesia pada cita-cita besarnya, yakni Generasi Emas 2045.[]

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update