Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Anak Tidak Lagi Aman di Rumah: Saatnya Sistem Islam Berbicara

Saturday, July 05, 2025 | Saturday, July 05, 2025 WIB
Anak Tidak Lagi Aman di Rumah: Saatnya Sistem Islam Berbicara

Oleh: Ayu Lestari, S. Pd


Belakangan ini, masyarakat Indonesia kembali dikejutkan oleh berita yang sangat menyedihkan, di mana seorang bayi perempuan berusia dua tahun meninggal dunia akibat penganiayaan yang dilakukan oleh ayah kandungnya sendiri, sementara ibunya merekam tindakan keji tersebut sambil tertawa. Tak lama setelah itu, muncul berita serupa dari Riau, di mana sepasang suami istri menyiksa bayi teman mereka hingga meninggal. Belum lagi kisah tragis anak yang ditelantarkan oleh ayahnya di Pasar Kebayoran Lama. Gambaran kekerasan dalam rumah tangga, terutama terhadap anak-anak, terus menghiasi media massa. Fenomena ini bukan hanya menyayat hati, tetapi juga menjadi sinyal kuat bahwa ada yang sangat salah dalam sistem kehidupan yang kita jalani saat ini.


Berdasarkan data dari Sistem Informasi Gender dan Anak (SIGA) Kementerian PPPA, jumlah kasus kekerasan terhadap anak terus meningkat dari tahun ke tahun. Kekerasan ini tidak hanya berupa fisik, tetapi juga seksual, emosional, hingga penelantaran. Bahkan, kasus inses atau kekerasan seksual oleh anggota keluarga sendiri semakin sering terjadi. Lalu, di manakah peran keluarga? Bukankah seharusnya keluarga menjadi tempat yang paling aman, nyaman, dan menenangkan bagi seorang anak?


Jika diteliti lebih dalam, kekerasan dalam keluarga tidak terjadi secara tiba-tiba. Ada faktor-faktor kompleks yang saling terkait dan memengaruhi. Faktor ekonomi yang sangat menekan, tingkat stres orang tua yang tinggi, lemahnya iman, ketidaktahuan akan peran sebagai orang tua yang sebenarnya, hingga kerusakan moral akibat lingkungan dan media semuanya berkontribusi besar. Namun, akar dari semua ini adalah sistem kehidupan sekuler kapitalistik yang saat ini menjadi dasar tata kelola negara dan masyarakat.


Kapitalisme Menghilangkan Fitrah Keluarga


Dalam sistem kapitalisme, kebahagiaan hidup diukur dari pencapaian materi. Tekanan ekonomi yang berat menyebabkan banyak orang tua kehilangan kesabaran dan ketahanan emosional. Dalam kondisi stres, anak-anak sering kali menjadi sasaran pelampiasan kemarahan. Bahkan, tidak sedikit orang tua yang memandang anak sebagai beban, bukan amanah dari Allah. Akibatnya, muncul tindakan penelantaran, penganiayaan, pemukulan, bahkan hingga pembunuhan.


Kapitalisme juga menjauhkan manusia dari agama. Pendidikan agama dianggap tidak penting, bahkan sering kali hanya diserahkan kepada sekolah atau guru mengaji. Fungsi keluarga sebagai madrasah pertama dan utama pun diabaikan. Akibatnya, orang tua tidak memahami kewajiban mereka dalam mendidik, melindungi, dan mencintai anak-anaknya. Mereka gagal memahami bahwa menjadi orang tua adalah amanah besar yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.


Media yang beroperasi dalam sistem kapitalis juga turut berperan dalam merusak moral masyarakat. Tayangan kekerasan, pornografi, dan gaya hidup bebas yang dipertontonkan terus-menerus membentuk cara berpikir masyarakat, termasuk anak-anak dan remaja.Dalam suasana sosial yang minim empati dan cenderung mementingkan diri sendiri, siapa yang peduli jika tetangga kita memukul anaknya atau jika seorang balita menangis kelaparan di trotoar pasar?


Undang-Undang Tidak Menyentuh Akar Masalah


Di Indonesia, sudah banyak peraturan yang dibuat untuk melindungi anak, termasuk UU Perlindungan Anak, UU Tindak Pidana Kekerasan Seksual, dan program pembangunan keluarga. Namun, kenyataannya kekerasan terhadap anak terus terjadi dan bahkan semakin brutal. Mengapa? Karena regulasi-regulasi tersebut hanya menyentuh permukaan masalah, tanpa menggali akar yang sebenarnya.


UU yang lahir dari sistem sekuler tidak mampu membentuk individu yang bertakwa. Sistem hukum yang ada bersifat represif, bukan preventif. Hanya bertindak setelah kekerasan terjadi, bukan mencegah agar kekerasan itu tidak terjadi sejak awal. Sementara itu, sistem pendidikan dan media massa tidak diarahkan untuk membentuk keluarga yang kuat dan harmonis berdasarkan tuntunan agama. Akibatnya, keluarga yang seharusnya menjadi benteng utama justru sering menjadi tempat pertama bagi anak mengalami kekerasan.


Islam Menjadikan Keluarga Sebagai Lembaga Perlindungan dan Pembentukan Karakter


Islam hadir sebagai solusi untuk berbagai masalah kehidupan, termasuk dalam membangun keluarga. Dalam pandangan Islam, keluarga bukan sekadar institusi sosial biasa, melainkan juga lembaga pendidikan pertama yang bertujuan mencetak generasi yang beriman dan bertakwa. Orang tua berperan sebagai pemimpin yang wajib melindungi dan mendidik anak-anaknya dengan penuh kasih sayang serta nilai-nilai Islam.


Islam mengharuskan setiap individu memahami peran dan fungsinya dalam keluarga. Seorang ayah berfungsi sebagai qawwam (pemimpin) yang bertanggung jawab penuh atas nafkah dan pendidikan anak-anaknya. Sementara itu, seorang ibu adalah madrasah pertama yang penuh cinta dan kelembutan. Anak-anak diajarkan untuk menghormati dan menaati orang tua. Semua ini hanya dapat terwujud jika akidah Islam menjadi landasan dalam membentuk keluarga.


Negara dalam sistem Islam juga memiliki peran penting. Melalui institusi Khilafah, negara akan memberikan edukasi secara intensif kepada masyarakat tentang pentingnya membangun keluarga yang islami. Pendidikan pranikah akan diwajibkan agar setiap calon orang tua memahami hukum-hukum keluarga dan memiliki kesiapan mental serta spiritual. Sistem pendidikan umum pun akan diarahkan untuk membentuk karakter Islam sejak usia dini.


Negara juga akan menyediakan media massa yang mendidik, bebas dari konten pornografi dan kekerasan. Program-program yang disiarkan akan meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menjaga ketahanan keluarga dan melindungi anak-anak. Selain itu, negara juga akan menciptakan sistem ekonomi yang adil dan sejahtera, sehingga orang tua tidak lagi terbebani oleh tekanan finansial.


Hukum Islam Mencegah dan Memberikan Efek Jera


Islam memiliki sistem sanksi yang tegas untuk mencegah terjadinya kekerasan. Dalam kasus penganiayaan anak, pelaku akan dihukum sesuai dengan tingkat perbuatannya. Dalam sistem Khilafah, hukum dilaksanakan dengan cepat dan tegas, bukan sekadar formalitas. Hal ini memberikan efek jera yang kuat dan menjadi pelindung bagi anak-anak dari segala bentuk kekerasan.


Yang lebih penting, sistem Islam mencegah terjadinya kekerasan dengan membentuk individu yang bertakwa sejak dini. Pendidikan akidah yang kuat menjadikan setiap anggota keluarga sadar akan tanggung jawabnya di hadapan Allah. Mereka tidak akan mudah melakukan kekerasan, karena yakin bahwa setiap perbuatan akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat.


Anak Hidup Aman dan Nyaman di Bawah Naungan Islam


Hanya dalam sistem Islam, keluarga akan menjadi tempat yang paling aman dan nyaman bagi anak-anak. Hubungan antara orang tua dan anak dibangun di atas dasar iman dan kasih sayang. Lingkungan masyarakat saling peduli dan aktif menjalankan amar ma’ruf nahi munkar. Negara hadir sebagai pelindung sejati, bukan sekadar penonton atau penegak hukum yang datang setelah terjadinya tragedi.


Sudah saatnya kita membuka mata dan hati. Kasus-kasus kekerasan terhadap anak yang terus terjadi bukan sekadar kesalahan individu, tetapi bukti nyata kegagalan sistem kehidupan sekuler kapitalistik. Sistem ini tidak hanya gagal melindungi anak-anak, tetapi juga menghancurkan institusi keluarga.


Jika kita menginginkan perubahan yang hakiki, maka kita harus kembali kepada sistem Islam. Bukan sekadar menerapkan syariat secara parsial, tetapi secara kaffah dalam seluruh aspek kehidupan: individu, keluarga, masyarakat, dan negara. Hanya dengan itu, anak-anak kita akan tumbuh dalam cinta, keamanan, dan iman. Dan hanya dengan itu pula, tragedi-tragedi memilukan tentang kekerasan dalam keluarga akan benar-benar bisa diakhiri.

Wallahu a’lam bish-shawab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update