Nuning Murniyati Ningsih
Aktivis Muslimah
Jamaah calon haji dari berbagai negara melakukan Tawaf di Masjidil Haram, Makkah, Arab Saudi, Jumat (30-Mei-2025). Pemerintahan Arab Saudi menetapkan Idul Adha jatuh pada jum,at (6/6), Sedangkan Hari Arafah (Wukuf di Arafah) sebagai rangkaian puncak musim haji pada 5 Juni 2025 yang akan di ikuti 1,83 Juta muslim dari berbagai penjuru dunia termasuk dari Indonesia yang tahun ini yang memiliki kuota sebanyak 221.000 Jamaah.(www.anataranews..com/30/5/2025)
Namun pada 1446 H/2025, Indonesia menetapkan Iduladha pada 6 Juni 2025, berdasarkan Sidang Isbat Kementerian Agama (Kemenag) pada 27 Mei 2025. Pengamatan hilal di 114 lokasi, termasuk Aceh, menunjukkan ketinggian hilal 3,29 derajat dan elongasi 6,78 derajat, memenuhi kriteria MABIMS, sehingga 1 Zulhijah ditetapkan pada 28 Mei 2025, sejalan dengan wukuf di Arafah pada 5 Juni 2025. Malaysia, menurut pengumuman Jabatan Kemajuan Islam Malaysia (JAKIM) pada 26 Mei 2025, menetapkan Iduladha pada 7 Juni 2025, dengan 1 Zulhijah pada 29 Mei 2025, karena hilal tidak terlihat di 29 lokasi pengamatan, sehingga Zulkadah digenapkan 30 hari. Perbedaan ini bukan fenomena baru. Pada 1443 H/2022, Indonesia merayakan Iduladha pada 10 Juli, sedangkan Malaysia pada 9 Juli. Pada 1444 H/2023, Indonesia menetapkan 29 Juni dan Malaysia 28 Juni. Pola berulang ini menantang klaim MABIMS sebagai alat pemersatu, menunjukkan bahwa organisasi ini kesulitan menjembatani perbedaan nasional.(www.suaramuhammadiyah..id/1/6/2025)
Dan juga perayaan Idul Adha 1446 Hijriah di Indonesia kemungkinan akan mengalami perbedaan, disebabkan oleh perbedaan metode penentuan awal bulan Dzulhijjah antara hisab (perhitungan astronomi) dan rukyat (pengamatan hilal). Profesor Riset Astronomi dan Astrofisika BRIN, Thomas Djamaluddin, mengungkapkan bahwa berdasarkan analisis garis tanggal, saat matahari terbenam (Maghrib) pada 27 Mei 2025, posisi bulan telah memenuhi kriteria penetapan awal bulan yang digunakan oleh negara-negara anggota MABIMS (Majelis Ulama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura), khususnya di wilayah Aceh.(beritanasional..com/16/5/2025)
Hari Raya Idul Adha 1446 H segera tiba. Organisasi keagamaan Muhammadiyah telah menetapkan tanggal pasti Hari Raya Idul Adha. Apakah Hari Raya Idul Adha antara Muhammadiyah, pemerintah dan NU akan sama atau berbeda? Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah telah menetapkan jadwal peringatan Hari Raya Idul Adha 1446 pada Jumat 6 Juni 2025. Penetapan Idul Adha 2025 tersebut tercantum dalam Maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor 1/MLM/I.0/E/2025 tentang Penetapan Hasil Hisab Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah 1446 Hijriah.(nasional..kontan.co..id/25/Mei/2025)
Di berbagai penjuru dunia yang berasal dari latar belakang budaya bahasa warna kulit dan status sosial yang beragam berkumpul di tanah suci Makkah untuk menunaikan ibadah haji sebuah peristiwa spiritual merefleksikan ketaatan individu kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala juga menjadi simbol dari persatuan umat Islam yang dibangun atas dasar Aqidah Islam yang kokoh dan universal yang mempersatukan hati-hati manusia dalam satu ikatan iman.
Persatuan umat Islam yang tidak didasari kesamaan budaya atau etnis, melainkan disatukan oleh aqidah Islam yang menghapus segala perbedaan duniawi. Di dalam ibadah Haji inilah seluruh umat manusia yang melaksanakannya bersatu dan berkumpul di tempat yang sama dengan tujuan yang sama serta ibadah haji adalah simbol tauhid, Di dalamnya ada penegasan pengesaan Allah Swt. dan penafian sekutu bagi-Nya. Selama ibadah haji, para jemaah senantiasa mengumandangkan kalimat talbiah yang berisi seruan tauhid. Kalimat talbiah juga berisi pengakuan bahwa seluruh kekuasaan adalah milik-Nya semata. Tidak ada pemilik yang hakiki selain Allah Taala. (Lihat Ibnu Qayyim, Mukhtashar Tahzib Sunan, 2/335-339).
«لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لاَ شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ لاَ شَرِيكَ لَكَ»
“Aku menjawab panggilan-Mu, ya Allah. Tidak ada sekutu bagi-Mu. Sungguh segala pujian, kenikmatan dan kekuasaan adalah milik-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu.”
Seluruh jemaah haji tidak henti-hentinya memohon segala kebaikan dunia dan akhirat kepada Allah. Mereka pun memohon ampunan atas segala dosa. Mereka mengetahui bahwa momen berhaji adalah saat Allah mengabulkan setiap permintaan dan mengampuni setiap kesalahan hamba-Nya.
«الْغَازِى فِى سَبِيلِ اللَّهِ وَالْحَاجُّ وَالْمُعْتَمِرُ وَفْدُ اللَّهِ دَعَاهُمْ فَأَجَابُوهُ وَسَأَلُوهُ فَأَعْطَاهُمْ»
“Orang yang berperang di jalan Allah, yang berhaji, dan yang umrah, adalah tamu Allah. Jika mereka berdoa, pasti Allah mengabulkan mereka. Jika mereka meminta, niscaya Allah memberi mereka.” (HR Ibnu Majah).
Umat Islam yang berjumlah hampir 2 miliar akan menjadi kekuatan dunia yang disegani jika bersatu, bukan tercerai karena sekat nasionalisme dan golongan. Kekuatan tersebut mencakup dalam berbagai bidang seperti politik, ekonomi, sosial dan lainnya. Namun semua itu tak bisa terlaksana karena saat ini kita di batasi oleh sekat-sekat nasionalisme sempit dan fanatisme golongan yang memecah belah umat saat ini. Sebaliknya kita seharusnya bisa menggunakan persatuan kita aqidah islam untuk membangun peradaan yang adil dan bermartabat di kancah dunia.
Persatuan saat Idul Adha seringkali hanya sesaat; selepas itu, umat kembali tercerai dan bahkan saling bermusuhan, melupakan penderitaan saudara seiman di berbagai penjuru dunia. Tentu patut disayangkan, ibadah haji yang mengumpulkan dan melebur jutaan orang dalam satu tempat dan satu waktu, ternyata belum mampu mengantarkan mereka menuju persatuan yang hakiki. Hal ini terus terjadi setiap tahun. Persatuan umat saat berhaji baru sebatas menciptakan ikatan spiritual tanpa sistem (rabithah ar-ruhiyah bi la nizham). Sama persis dengan ibadah salat berjemaah atau salat Jumat. Umat berkumpul di satu tempat dan satu waktu, kemudian bubar begitu saja. Tidak lagi ada ikatan di antara mereka. Semestinya, ibadah haji menjadi konferensi akbar untuk membangun kesadaran umat bahwa mereka kini telah tercerai-berai. Tidak lagi menjadi umat yang satu. Banyak permasalahan umat yang harus diselesaikan secara bersama.
Persatuan sejati umat Islam tidak akan benar-benar terwujud hanya melalui seruan moral atau momentum ibadah tahunan semata, melainkan membutuhkan institusi politik islam global yakni Khilafah, yang mampu menyatukan umat dalam satu kepemimpinan, satu sistem hukum, satu tujuan hidup berdasarkan syariat Islam sehingga tidak lagi tercerai-berai oleh batas batas negara kepentingan nasional atau buatan manusia yang bertentangan dengan nilai-nilai islam. Persatuan sejati hanya dapat terwujud dalam institusi politik Islam global (Khilafah), yang menyatukan umat dalam satu tubuh dan tujuan.
Allah Swt. berfirman,
«إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
“Kaum mukmin itu sesungguhnya bersaudara. Oleh karena itu, damaikanlah (perbaikilah hubungan) kedua saudara kalian itu dan takutlah terhadap Allah supaya kalian mendapat rahmat.” (TQS Al-Hujurat [49]: 10).
Idul Adha mengajarkan ketaatan mutlak kepada Allah, dan seharusnya mendorong umat untuk patuh sepenuhnya pada syariat Islam, bukan hanya pada aspek ritual, tapi juga dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. pentingnya kepatuhan total terhadap perintah Nya ketaatan yang dilakukan tanpa memilah memilih, menyimpan perasaan kepentingan duniawi. Perintah dari Allah wajib disambut oleh umat Islam dengan penuh kepatuhan dan ketaatan tanpa ragu atau dengan kalimat sami’na wa atau kami mendengar dan kami taat sebagaimana yang ada dalam Quran surah An-Nur ayat 51, lebih dari itu seharusnya menginspirasi umat Islam untuk menerapkan syariat Islam secara menyeluruh.
#opininusantaranews
#opini

No comments:
Post a Comment