Oleh: Inge Oktavia Nordiani
Hidup sejatinya alami berjalan dengan baik dengan adanya cinta. Apa yang terjadi bila menjalani kehidupan gersang dari rasa cinta? Dengan cinta seorang lelaki akan memantaskan diri untuk mendapatkan pasangan hidupnya. Dengan cinta seorang ayah akan berjuang mencari nafkah untuk menghidupi anak dan istrinya. Dengan cinta pula seorang ibu rela mencurahkan segala waktunya demi tumbuh kembang anak-anaknya.
Memasuki bulan Dzulhijjah ada pelajaran cinta yang luar biasa diajarkan oleh nabi Ibrahim as. Bukanlah cinta manusia pada umumnya, namun cinta yang dibangun dari iman. Tidak ada muslim yang kosong pengetahuan tentang perjalanan Nabi Ibrahim hingga awal mula terwujudnya ibadah suci Haji dan Qurban.
Pada saat itu Nabi Ibrahim as membawa istrinya Siti Hajar yang baru memiliki buah hati ke padang tandus. Kemudian Nabi Ibrahim pergi meninggalkan istri dan anaknya tanpa sebuah penjelasan dan kejelasan. Siti Hajar hanya berkata, "Wahai Ibrahim, engkau hendak kemana? Apakah engkau akan meninggalkan kami di lembah yang tidak ada siapapun dan tidak ada apa-apa ini?"
Ibrahim tidak menjawab sampai akhirnya istrinya bertanya kembali, "Apakah ini perintah dari Allah?" Ibrahim menjawab, "iya." Siti Hajar berkata, "Kalau begitu, Allah tidak akan menyia-nyiakan kami."
Subhanallah, seakan-akan Allah menjadi kunci atau rahasia ridhanya hati. Siti Hajar tidak marah dan tidak protes karena hakikatnya yang dia taati bukan suaminya, melainkan perintah Allah SWT. Sungguh cintanya pada Ibrahim besar, tetapi cintanya pada Allah jauh lebih besar lagi. Ketaatan seperti ini lahir dari iman yang utuh, dari cinta yang suci pada RabbNya.
Begitu pula setelah sekian tahun Ibrahim meninggalkan Hajar hingga Ismail remaja. Kemudian Ibrahim datang menjemput mereka. Tidak berselang lama ujian keimanan selanjutnya pun datang. Ibrahim bermimpi diperintahkan oleh Allah untuk menyembelih putranya itu.
Ibrahim berkata, "Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu, maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu?" Sebagaimana dalam QS ash-Shaffat ayat 102:
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْ
"Ketika anak itu sampai pada (umur) dia sanggup bekerja bersamanya, dia (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Pikirkanlah apa pendapatmu?” Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu! Insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”
Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Lalu Nabi Ibrahim membaringkan Nabi Ismail. Dia pun bersiap untuk menyembelih anaknya sebagai perintah dari Allah SWT. Ketika Nabi Ibrahim hendak menggerakkan pedangnya, tidak disangka Allah SWT menggantikan tubuh Nabi Ismail dengan seekor domba besar berwarna putih bersih dan tidak ada cacatnya. Sebagaimana dalam QS Ash-Shaffat ayat 107:
وَفَدَيْنٰهُ بِذِبْحٍ عَظِيْمٍ
"Kami menebusnya dengan seekor (hewan) sembelihan yang besar."
Dari sinilah kaum Muslimin mengenal makna ibadah qurban dan merayakannya pada setiap 10 Dzulhijjah.
Ibadah qurban mengajarkan kita bahwa cinta bukan hanya tentang memiliki, melainkan tentang rela melepaskan demi Dia Sang Pencipta. Setiap kita memiliki Ismail masing-masing. Sesuatu yang paling kita cintai bisa istri, suami, dunia, anak-anak, orang tua dan lainnya.
Apabila Allah memintanya, akankah kita serela Nabi Ibrahim? Terkadang Allah tidak benar-benar ingin mengambil dia, hanya ingin hatimu tahu bahwa kehilangan dunia tidak seberat kehilangan keimanan padaNya. Jika kita kehilangan Iman, maka akan goyahlah hidup kita.
Dari ibadah haji ini tersirat pula makna momentum agung menyatukan umat dalam satu tujuan, yaitu ketaatan kepada Allah SWT. Berkumpulnya umat seluruh dunia tanpa memandang perbedaan ras, bahasa atau status sosial. Semuanya sama mengenakan pakaian ihram dan ritual doa yang sama pada Tuhan yang sama.
Namun ketika kembali ke negara masing-masing akan tampak kembali pudarnya semangat persatuan ini. Di negeri masing-masing kita akan kembali menyaksikan umat Islam terpecah-belah oleh batas-batas nasionalisme. Sebagai contoh adalah pembiaran nasib saudara kita di Palestina.
Ibadah haji seharusnya menjadi titik tolak untuk membangun persatuan ideologis umat Islam secara global. Persatuan ideologis ini sangat genting untuk menghadapi tantangan global yang ada saat ini, seperti penjajahan Barat atas dunia Islam, termasuk pendudukan Palestina oleh entitas Yahudi.
Hal ini merupakan cerminan dari keimanan sebagaimana kekuatan cinta yang diajarkan Nabi. Namun penguasa-penguasa Arab belum melakukannya, padahal Rasulullah saw jelas menyatakan, "Kehancuran dunia ini lebih ringan di sisi Allah dibandingkan dengan pembunuhan seorang muslim" (HR an-Nasa'i).
Nabi Muhammad saw juga meencontohkan hal penjagaan atas darah kaum Muslim. Dalam Sirah Ibnu Hisyam, ketika seorang pedagang Muslim dibunuh beramai-ramai oleh kaum Yahudi Bani Qainuqa' karena membela kehormatan seorang Muslimah yang disingkap pakaiannya oleh pedagang Yahudi. Rasulullah selaku pemimpin negara Islam segera mengirimkan para sahabat untuk memerangi mereka dan mengusirnya dari Madinah.
Demikianlah keluhuran sikap Nabi yang diikuti oleh para Khulafaur Rasyidin setelahnya. Dengan begitu, umat dapat hidup tenang dimanapun mereka berada, karena ada yang menjadi pelindung bagi mereka. Inilah pula bagian dari cerminan bukan sekedar cinta biasa yang diturunkan dari bapaknya para nabi, yaitu Nabi Ibrahim as hingga nabi terakhir Nabi Muhammad saw. Yaitu, bukan sekedar cinta biasa, melainkan cinta oleh dorongan iman dan takwa kepada Allah SWT.[]

No comments:
Post a Comment