Oleh : Eliska Sari, S.Pd
“Bukit Kayangan” yang berarti surga, tapi kenyataan hidup warganya seperti di neraka gelap. Langit Sangatta yang dipenuhi debu tambang, tapi di tanahnya, warga Bukit Kayangan menyalakan lilin dan menimba air dari sungai keruh.
Itulah realita yang dirasakan 96 kepala keluarga di RT 28 , Dusun Bukit Kayangan, Desa Singa Gembara, Sangatta Utara. Mereka hidup dalam gelap, tanpa listrik, tanpa air bersih, sejak puluhan tahun lalu. “Tiang sudah ada. Pipa juga. Tapi tidak bisa jalan. Alasannya karena kami di kawasan tambang,” keluh Hadi, Ketua RT setempat, Minggu (18/5/2025). Sebenarnya untuk siapa kekayaan tambang itu dikeruk, jika rakyat sekitar tak kebagian terang?
Sebuah ironi, di tengah kekayaan energi di negeri kita, masih ada daerah yang hidup tanpa aliran listrik dan air bersih. Padahal kedua hal ini adalah kebutuhan yang sangat krusial bagi semua orang. Ditambah lagi Desa Kayangan ini hanyalah satu dari ribuan desa yang belum mendapatkan akses listrik. Wakil Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Wamendes PDT), Ahmad Riza Patria, menyebutkan bahwa desa yang belum teraliri listrik dari PLN saat ini masih terdapat 3.246 desa yang tersebar di seluruh Indonesia. Sedangkan juga terdapat 9,99 juta KK yang saat ini belum mendapatkan penerangan listrik.
Tata kelola SDAE yang dikuasai oleh para kapital (pemilik modal) inilah yang menjadi sebab utama ketimpangan ini. Kita sepakat bahwa pemenuhan listrik dan air bersih adalah kewajiban negara, tapi pada faktanya masih sangat banyak desa yang belum mendapatkan aliran listrik dan air bersih , namun di sisi lain mereka dikelilingi tambang batubara yang megah dengan truk-truk yang kian hari mengelilingi desa mereka.
Dalam Islam , listrik dan air adalah hak umat. Negara hadir untuk mengelola dan dikembalikan untuk dinikmati rakyatnya. Sebagaimana sabda Rasullullah SAW : "Kaum Muslim berserikat dalam tiga perkara yaitu padang rumput, air, dan api". (HR. Abu Dawud dan Ahmad). Seorang pemimpin adalah ra'in (kepala) yang akan bertanggung jawab atas hak-hak rakyat yang tidak terpenuhi. Maka dalam sejarah sistem Islam , kita melihat para pemimpin yang begitu takut mendzolimi rakyatnya.
Banyaknya masyarakat yang belum bisa mengakses listrik dan air bersih ini harusnya menjadi evaluasi besar , bahwa tata kelola sistem kapitalis yang tidak mengutamakan kepentingan rakyat inilah sebab utamanya. Maka selama sistem kapitalis terus dibiarkan, maka kisah Bukit Kayangan akan jadi “kisah biasa” di negeri yang luar biasa kaya.
Wallahua'lam

No comments:
Post a Comment