Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Solusi Palestina: Menyerukan Jihad dan Menggalang Persatuan Umat

Friday, May 09, 2025 | Friday, May 09, 2025 WIB





Oleh Umi Lia


Member Akademi Menulis Kreatif


Penjajahan, pembantaian dan genosida di Gaza belum berakhir. Bahkan serangan penjajah Zionis makin brutal di luar nalar manusia. Imbasnya sejak Oktober 2023 sudah lebih dari 60.000 warga Palestina yang meninggal dunia. Ratusan ribu rumah hancur dan jutaan orang terpaksa menjadi pengungsi. Beberapa pekan lalu agresi militer Israel menewaskan jurnalis foto, Fatima Hassona beserta tujuh orang keluarganya. Kementerian Kesehatan Gaza pada Jumat (18/4), memberitakan kejadian tersebut, sementara Palestinian Journalist's Protection Center (PJPC) turut memberi pesan bela sungkawa. Mereka menyebutkan bahwa IDF (Pasukan Pertahanan Israel) telah melakukan "kejahatan" terhadap jurnalis dan melanggar hukum internasional. (CNNIndonesia, 19/4/2025)


Kondisi Gaza makin hari semakin mengerikan. Ketua Umum PBNU, Yahya Cholil Staquf mengatakan bahwa dunia internasional harus menggalang solidaritas untuk mengatasi konflik akibat agresi Zionis ke Palestina. Ia yakin bisa merealisasikan idenya ini karena organisasi yang dipimpinnya memiliki jaringan persahabatan dan kerja sama yang luad dalam dan luar negeri. Namun penggalangan yang seperti apa yang mampu menghentikan kekejaman Israel terhadap warga Gaza?


Dukungan dan kepedulian terhadap perjuangan bangsa Palestina sudah dilakukan di berbagai tempat dari dulu sampai selarang. Yakni melalui aksi kemanusiaan, bantuan makanan, obat-obatan, alat-alat kesehatan dan lain sebagainya. Penggalangan solidaritas ini juga diwujudkan dalam aksi demonstrasi dan penggalangan dana yang tidak hanya dilakukan di negeri-negeri muslim, di negera-negara Barat pun digelar seperti di Prancis, Inggris, Australia dan lain-lain. Bahkan ada satu pernyataan bahwa tidak perlu menjadi muslim untuk peduli pada rakyat Palestina.


Selain itu, dukungan terhadap Palestina juga dilakukan secara politik lewat jalur diplomasi di berbagai forum internasional. Yang terbaru adalah acara diskusi yang dihadiri perwakilan parlemen dunia dengan tema The Group of Parliaments in Support of Palestine di Istambul, Turki (18/4). Indonesia diwakili oleh Puan Maharani selaku Ketua DPR RI. Kemudian ada juga solidaritas global yang digalang melalui  Mahkamah Internasional, yaitu badan hukum yang berfungsi untuk menyelesaikan sengketa antar negara. Namun, sejauh ini penyelesaian konflik di Gaza hanya sebatas wacana, deklarasi yang dihasilkan hanya mengulang kata-kata klise berupa seruan untuk menghentikan genosida.


Faktanya genosida masih terus berlangsung. Usaha penggalangan solidaritas tidak mampu menghentikannya karena solusi yang ditawarkan tidak menyentuh akar masalah. Untuk memahami persoalan yang terjadi harus mengetahui sejarahnya dari awal sampai sekarang. Tanah Palestina dulu merupakan wilayah yang dibebaskan oleh pasukan Khalifah Umar bin Khaththab. Pada saat itu Uskup Agung Safronius menyerahkan kunci Kota Yerusalem kepada pemimpin kaum muslim melalui Perjanjian Umariyah. Sehingga status Palestina adalah tanah kharajiyah, milik kaum muslim selamanya sampai Hari Kiamat. Sementara Zionis datang merebutnya dari penduduk dengan brutal, membunuhi anak-anak dan bayi-bayi yang tidak berdosa. Inilah yang terjadi dan harus segera dihentikan.


Namun, apa yang dilakukan Zionis justru mendapat dukungan dari Amerika Serikat dan negara-negara Barat lainnya. Sementara para penguasa negeri-negeri muslim tidak ada yang menolong Palestina secara militer. Mereka tidak memperhatikan perintah Allah Swt. dalam QS al-Anfal ayat 72: 

"Jika mereka meminta pertolongan kepada kalian dalam (urusan pembelaan) agama, kalian wajib memberikan pertolongan."


Dengan demikian, usaha menggalang solidaritas yang sudah dilakukan belum bisa menghentikan konflik ini karena hal itu bukan solusi yang menyentuh akar masalah. Perundingan, perjanjian damai, gencatan senjata atau bahkan relokasi penduduk Gaza ke negara lain, bukanlah  penyelesaian yang mendasar. Mereka memang membutuhkan bantuan kemanusiaan berupa makanan, obat-obatan dan tenga medis. Namun yang lebih dibutuhkan adalah pasukan militer yang bisa mengusir penjajah Zionis.


Berperang mengusir penjajah atau jihad fisabilillah hukumnya wajib. Banyak dalil yang menunjukkan kewajiban tersebut. Jika penduduk yang diserang musuh ini tidak mampu mengusir penyerangnya, maka kewajiban itu menyebar ke negara di sekitarnya. Mulai dari wilayah yang terdekat hingga yang lebih jauh. Itu artinya umat Islam seluruh dunia harusnya menggalang solidaritas untuk membentuk militer gabungan sampai bisa mengusir Zionis dari tanah Palestina. Namun hal itu hanya bisa dilakukan jika ada satu kepemimpinan politik Islam global yang akan menyatukan dan memobilisasi tentara dari negeri-negeri muslim. Dialah seorang khalifah.


Oleh karena itu, saat ini umat Islam memiliki pekerjaan besar untuk bisa menegakan khilafah. Yaitu negara yang menerapkan hukum Allah Swt. yang dipimpin khalifah. Kerja seperti ini memerlukan jamaah dakwah yang solid yang akan menyerukan al-khair (Islam) dan melakukan amar makruf nahi munkar. Aktivitas kelompok ini adalah berdakwah dan berinteraksi dengan masyarakat mengikuti contoh Rasulullah saw. Mereka lah yang akan memimpin umat menggalang solidaritas global untuk melakukan jihad menolong Palestina. 

Wallahu a'lam Bish shawab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update