Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Sistem Pendidikan Islam Pembentuk SDM Unggul

Friday, May 02, 2025 | Friday, May 02, 2025 WIB




Oleh Novita Darmawan Dewi

 (Mahasiswi Jurusan Manajemen, Universitas Terbuka)



Momentum hari jadi Kabupaten Bandung yang ke-384 tahun dimanfaatkan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bandung untuk memperkuat SDM. Pada momentum istimewa ini, Bupati Bandung, Dadang Supriatna menekankan pentingnya peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) sebagai fokus utama pembangunan.


Menurutnya, SDM merupakan pondasi utama di masa depan. Dirinya menyadari bahwa penguatan SDM tidak selalu tampak dalam bentuk fisik, tetapi juga menyasar pada aspek intelektual hingga karakter manusia yang kelak akan menjadi pemimpin bangsa. Pertanyaannya apakah tantangan di atas dapat dilewati dengan kebijakan yang didasarkan asas demokrasi kapitalistik?



Dampak Sistem Pendidikan Sekuler


Berbicara SDM berkualitas maka tidak bisa lepas dari pelaksanaan pendidikan di sebuah negara yang notabene akan membentuk kualitas-kualitas SDM kedepannya di negara tsb. Karut marut sistem pendidikan di negeri ini seolah menjadi potret buruknya wajah SDM kita, mulai dari persoalan tawuran, perundungan, buruknya adab murid ke guru, pelecehan dari guru ke siswa, sampai pada miss manajemen lembaga pendidikan yang hanya berorientasi pada keuntungan materi seraya abai pada pembentukan SDM yang berkualitas. Semuanya itu disadari atau tidak telah berdampak pada lahirnya sumber daya manusia (SDM) yang niradab, culas, bermental lemah, enggan bekerja keras, serta tidak kapabel.


Jika mental generasi sejak awal sudah demikian, bisa dibayangkan kondisinya ketika mereka menjadi pejabat. Ketika dewasa mereka akan menjadi pejabat bermental korup yang menggunakan kekayaan negara dan rakyat untuk keuntungan pribadi dan kroninya.

Ini adalah fakta buram dunia pendidikan kita. Pendidikan yang seharusnya mencetak siswa yang jujur ternyata justru dilingkupi kecurangan. Siswa menghalalkan segala cara demi memperoleh nilai yang bagus dalam ujian. Pola pikir menghalalkan segala cara ini tidak lepas dari proses pendidikan saat ini yang materialistis.

Dalam sistem pendidikan kita, yang terpenting adalah nilai bagus, entah dengan cara apa. Sistem pendidikan materialistis ini tegak di atas asas sekularisme liberal yang memisahkan agama dari kehidupan dan membebaskan manusia untuk bertingkah laku, termasuk bebas untuk berbuat curang.


Kurikulum pendidikan yang sekuler memberi porsi amat sedikit pada materi pendidikan agama Islam. Pada madrasah memang porsinya lebih banyak, meski tidak sebanyak pelajaran umum, tetapi konten materinya makin sekuler seiring dengan arus moderasi pendidikan.



Islam Kunci Pembentuk SDM Unggul


Keunggulan SDM tidak terlepas dari keunggulan sistem yang diterapkan. Ideologi Islam merupakan kunci pembangunan SDM unggul dan telah teruji. Hal ini pernah terwujud dalam institusi Islam bernama Khilafah.


Dalam membangun SDM unggul, Khilafah bertumpu pada penguasaan ilmu pengetahuan dan kemajuan dalam bidang produksi/industri. Firman Allah Ta'ala, “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu.” (QS Al-Anfal: 60).


Departemen Pendidikan dalam Islam menyelenggarakan pendidikan yang mampu menghasilkan para teknokrat dan saintis yang bersyakhsiyah Islam, serta mampu mengelola SDA menjadi senjata canggih, bahkan pesawat tempur modern. Salah satu yang harus dipenuhi negara maju ialah tidak tergantung negara lain dalam memenuhi peralatan berat yang dibutuhkan untuk melindungi keamanan negara.


Khilafah juga akan mencetak SDM bersyakhsiyah Islam untuk menjaga kemaslahatan umum. Mereka pun akan mengelola kekayaan milik umum sesuai aturan Islam.


Sementara itu, sistem pendidikan Islam berisi kurikulum pendidikan yang berlandaskan akidah Islam. Seluruh materi pelajaran dan metode pengajaran disusun dengan tidak menyimpang dari landasan pendidikan tersebut. Biaya pendidikan digratiskan karena salah jaminan yang harus dipenuhi oleh negara.


Salah satu tokoh masyhur yang dikenal dunia adalah Ibnu Sina yang dikenal sebagai Bapak Kedokteran. Ia menghasilkan sebuah karya buku bernama Al-Qanun fi ath-Thibb yang merupakan ensiklopedia ilmu kedokteran dan ilmu bedah terlengkap yang menjadi referensi utama fakultas kedokteran di berbagai universitas Eropa hingga abad ke-14.


Ada lagi ilmuwan Islam bernama Al-Khawarizmi yang berhasil membuat peta bumi sekaligus peta langit ketika bangsa Eropa masih meyakini bahwa bumi datar. Ia juga pakar matematika dan aljabar. Masih banyak lagi ilmuwan Islam yang teruji menjadi pionir dalam berbagai bidang keilmuan dan teknologi. Ini bukan sebatas cita-cita semata, melainkan telah terbukti nyata.


Jika negeri ini bermimpi besar ingin menjadi negara maju serta mewujudkan Indonesia Emas 2045, tidak perlu basa-basi, penguasa negeri ini harus menjadikan ideologi Islam sebagai asas negara. Inilah kunci pembangunan SDM unggul yang telah teruji dan terbukti. Hanya saja, ideologi Islam tidak mungkin bisa diterapkan dalam negara demokrasi. 


Walhasil, mengganti sistem berarti juga mengganti bentuk negara. Dalam Islam, institusi tersebut bernama Khilafah. Wallahu'alam

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update