(Pegiat Literasi)
Kota Bogor kembali menghadirkan program baru di bidang pendidikan. Program ini adalah sebagai upaya mendukung program Asa Cita Presiden Prabowo Subianto. Ada tiga jenis klasifikasi sekolah dalam program ini, pertama sekolah rakyat dikhususkan untuk anak-anak dari keluarga kurang mampu dan tidak memiliki biaya sekolah dan transportasi. Kedua, sekolah garuda diperuntukkan bagi anak-anak tidak mampu yang memiliki prestasi. Dan ketiga, sekolah prestasi yang ditujukan untuk para calon atlet muda di Kota Bogor.
Pemkot Bogor sedang mencanangkan pembangunan sekolah garuda yang bernaung dalam Kementerian Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi (Kemendikti Saintek). Ada beberapa kriteria siswa yang bisa mengikuti program sekolah garuda, selain dari keluarga miskin tetapi juga siswa tersebut memiliki prestasi dan Intelligence Quotient (IQ) di atas rata-rata kecerdasan. Sekolah garuda ini setara dengan jenjang pendidikan SMA, yang programnya digadang-gadang untuk menunjang siswa untuk melanjutkan ke perguruan tinggi (radarbogor, 22/04/2025)
Pendidikan Berkasta
Sekilas program pendidikan dengan 3 jenis klasifikasi sekolah ini terlihat sangat bagus, dan dapat mendukung cita-cita pemerataan pendidikan di Indonesia. Apalagi masyarakat kalangan menengah ke bawah atau miskin yang sangat sulit untuk mengakses pendidikan dikarenakan biayanya pendidikan yang sangat mahal.
Namun, program pendidikan berkasta ini sangat mungkin terjadi dalam sistem kapitalisme, yang menjadikan sektor pendidikan sebagai ajang bisnis untuk mengumpulkan pundi-pundi rupiah. Jikalau pemerintah membuat program pendidikan sekolah gratis, bisa dipastikan mendapatkan layanan dan fasilitas pendidikan ala kadarnya. Sehingga hal ini memunculkan kesenjangan dalam dunia pendidikan antara sekolah gratis dengan sekolah swasta dengan fasilitas dan layanan berkualitas tetapi dengan harga yang berkelas alias mahal.
Kapitalisasi Pendidikan
Semua program pendidikan yang masih berlandaskan sistem kapitalisme, tidak akan menjadi solusi tuntas bagi dunia pendidikan. Sebab, kapitalisme hanya memosisikan pendidikan sebagai barang dagangan dan menggeser peran negara bukan lagi sebagai pihak yang bertanggung jawab pada pendidikan. Sehingga pihak swastalah yang mengambil peran negara dengan mendirikan berbagai sekolah swasta dengan fasilitas yang sangat bagus.
Kita bisa lihat output dari sistem pendidikan berbasis kapitalisme melahirkan generasi yang hanya pintar diatas kertas, namun mengalami dekadensi moral yang sangat parah. Suka tawuran, pacaran, narkoba, dan terjerumus dalam penyimpangan seksual adalah potret rusak generasi hasil sistem yang menihilkan peran agama dari kehidupan. Padahal, pemerintah memiliki target besar di tahun 2045 unttuk mewujudkan generasi emas. Mampukah target ini terwujud dalam sistem yang rusak dan batil?
Pendidikan Dalam Islam
Berbeda halnya dengan Islam yang memandang pendidikan sebagai hak bagi rakyat dan menjadi kewajiban negara untuk menjamin dan memberikan fasilitas pendidikan terbaik bagi seluruh rakyatnya. Dalam sejarah kekhilafahan Islam, dunia pendidikan menjadi mercusuar pendidikan yang membuat bangsa Eropa mampu bangkit dari masa kegelapannya. Keberhasilan negara Islam dalam dunia pendidikan tak lepas dari asas yang menjadi landasan kurikulum pendidikan berbasis akidah Islam. Yang menjadikan output pendidikannya melahirkan generasi yang berilmu, beriman dan berakhlak mulia (memiliki kepribadian Islam).
Semua individu rakyat mendapatkan fasilitas pendidikan yang sama, dan tidak ada klasifikasi jenis sekolah untuk rakyat miskin seperti yang terjadi dalam sistem kapitalisme. Semua siswa berhak mendapatkan ilmu baik ilmu agama maupun ilmu sains dan teknologi, dari tenaga pengajar yang mumpuni dibidangnya. Dan akan banyak mencetak generasi emas dan unggul yang menguasai berbagai bidang kehidupan. Agar kelak mereka dapat menjadi tulang punggung peradaban di masa yang akan datang.
Pada hakikatnya, kunci lahirnya generasi emas adalah pendidikan. Orientasi pendidikan Islam tak lepas dari paradigma Islam yang menjadikan tujuan pendidikan adalah membentuk kepribadian Islam. Agar hal ini dapat direalisasikan negara yang akan mencover seluruh pembiayaan pendidikan yang diambil dari baitul maal. Sehingga pendidikan dari level TK hingga perguruan tinggi bebas biaya. Hal ini dilakukan sebab agar kebodohan tidak berkembang di kalangan umat manusia akibat terkendala biaya.
Pelayanan negara Islam pada dunia pendidikan telah berhasil mencetak generasi emas dari ilmuan, penakluk, penemu dan polymath, yang keilmuan mereka sangat berkontribusi besar pada dunia pendidikan dan dunia hingga hari ini. Walhasil, khilafah satu-satunya yang mampu menjamin layanan pendidikan berkualitas yang merata untuk seluruh rakyatnya. Dan meniscayakan lahirnya sistem pendidikan terbaik yang akan mencetak generasi emas pembangun peradaban Islam yang mulia. Wallahua’lam

No comments:
Post a Comment