Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Menyontek Jadi Budaya, Hasil Sistem Demokrasi Kapitalis

Sunday, May 04, 2025 | Sunday, May 04, 2025 WIB

 



Oleh: Ulif Fitriana

 

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) merilis laporan Survei Penilaian Integritas (SPI) Pendidikan 2024. Dalam laporan tersebut dikemukakan tingkat kejujuran akademik siswa di sekolah dan mahasiswa di kampus. Dalam kejujuran akademik, masih ditemukan kasus menyontek pada 78% sekolah dan 98% kampus. Ketidakjujuran akademik ini ternyata lebih banyak ditemui di kalangan mahasiswa. Kasus menyontek dilaporkan sebanyak 57,87%. Pada mahasiswa bahkan ditemui plagiarisme dan tindakan menyontek karena melihat teman. Sebanyak 51,57% mengaku menyontek atau plagiat saat melihat rekannya melakukan hal demikian. Lalu, 44,59% mahasiswa mengaku telah melakukan plagiarisme. Memprihatinkan, di saat negara tengah mencanangkan Indonesia emas 2045 nyatanya kualitas peserta didiknya demikian.

 

Namun demikian hal tersebut sejatinya bukan hal yang baru. Di saat negara dibangun atas fondasi sekulerime maka halal dan haram bukanlah tolok ukur utama. Kemanfaatan akan dipandang sebagai tujuan yang hendak diraih. Dalam dunia pendidikan misalnya, di mana akidah Islam tidak dijadikan asas, tujuan pendidikan dimaksudkan hanya sebatas meraih nilai-nilai yang bersifat materi. Di sisi lain hasil penilaian akademik lebih dipandang daripada proses belajar itu sendiri yang pada akhirnya mendorong para siswa untuk berbuat kecurangan.  Dalam dunia kerja juga demikian, seringkali ijazah dijadikan tolok ukur yang mencerminkan kemampuan seseorang, bahkan menentukan besaran upah yang diterima. Maka tak heran kecurangan dalam dunia akademik pun tumbuh subur.

 

Dalam Islam, pendidikan dimaksudkan untuk mencetak generasi yang memiliki pola pikir dan pola sikap Islami. Memiliki pola pikir Islami artinya menjadikan hukum syara’ sebagai standar dalam menimbang segala permasalahan yang ada. Baik dan buruknya tidak dinilai dari kemanfaatan yang akan didapatkan akan tetapi dilihat dari halal dan haram. Sedangkan memiliki pola sikap Islami bermakna dalam melaksanakan aktivitas-aktivitas di dalam kehidupan harus sesuai dengan apa yang telah diatur oleh hukum syara, sebagaimana Rasulullah contohkan.

 

Salah satu contoh pola pikir Islami adalah menjadikan rida Allah sebagai orientasi dalam segala aktivitas yang dilakukan. Salat, belajar, bekerja, dsb semua dilakukan dengan niat mencari rida Allah. Maka cara dan metode yang ditempuh pun tidak akan menyelisihi apa yang telah ditetapkan hukum syara’. Seseorang yang bekerja dalam memenuhi kewajiban mencari nafkah tidak akan melakukan suatu keharaman jika orientasinya adalah rida Allah. Demikian pula seorang pelajar yang menjadikan rida Allah sebagai tujuannya akan belajar dengan sungguh-sungguh serta menjauhkan diri dari melakukan hal-hal yang membuat Allah murka seperti menyontek. Karena dalam Islam perkara hasil adalah perkara yang berada di wilayah Allah, yang tidak akan dihisab atau menjadi pertanggungjawaban di yaumil hisab kelak. Sedangkan upaya atau aktivitas yang mengantarkan kepada hasil merupakan perkara yang dapat dikuasai manusia, yang dapat dipilih manusia. Sehingga kelak akan ada pertanggungjawaban atasnya.

 

Dalam Islam pemerintah akan memberikan perhatian yang penuh terhadap pendidikan, karena menuntut ilmu hukumnya fardu. Pendidikan  adalah kebutuhan pokok seluruh warga. Menjadikan akidah Islam sebagai asas pendidikan, memenuhi fasilitas pendidikan, memberikan kemudahan akses, menyediakan guru-guru yang berkualitas, memberikan gaji yang layak bagi guru dst adalah hal yang harus dipenuhi pemerintah.

Sedangkan dalam dunia kerja pemerintah berkewajiban menjamin keberadaan lapangan kerja bagi warga. Dalam dunia kerja,  seseorang akan diupah berdasarkan jasa yang dia berikan. Ini juga yang menjadikan seseorang pada akhirnya tidak terpaku pada nilai-nilai akademik melainkan kemampuan dan etos kerjanya.

 

Ini semua menunjukkan bahwa persoalan pendidikan erat kaitannya dengan sistem pemerintahan yang melingkupi. Sistem ddemokrasi kapitalis hanya mencetak generasi dengan orientasi materi yang tinggi, sedangkan sistem pemerintahan Islam atau yang dikenal dengan sebutan khilafah akan mencetak generasi dengan kepribadian yang islami dan berakhlakul karimah.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update