Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Memaknai Hari Kartini: Bukan Menyaingi Dominasi Laki-laki

Friday, May 02, 2025 | Friday, May 02, 2025 WIB
Memaknai Hari Kartini: Bukan Menyaingi Dominasi Laki-laki

Oleh: Siti Marhawa 


Sekprov Kaltim, Sri Wahyuni mengajak kaum perempuan bisa memaknai peringatan Hari Kartini. Itu sebagai titik balik merefleksikan peran dan kontribusi perempuan dalam berbagai aspek kehidupan. 


Sri menyoroti pentingnya perempuan memiliki daya saing, kualitas, dan keberanian untuk mengambil peran penting, termasuk dalam sektor yang selama ini didominasi laki-laki. Perempuan kini sudah bisa menjadi pilot, menteri, bahkan presiden. Itu menunjukkan bahwa kesempatan terbuka lebar.


Perubahan yang paling diperlukan untuk mewujudkan kesetaraan gender di Kaltim adalah perubahan karakter perempuan itu sendiri. Keluar dari bayang-bayang bahwa perempuan itu lemah. Kita harus menjadi sosok yang tangguh, penuh empati, dan siap bersaing secara setara dalam berbagai bidang,” tutupnya.  


Hari Kartini memang selalu dijadikan ajang bagi kaum feminis gender untuk memperjuangkan kesetaraan. Narasi kesetaraan ini sering kali ditarik terlalu jauh dan dijadikan panggung untuk mendorong ide kesamaan mutlak antara laki-laki dan perempuan. Perempuan didorong untuk mengejar keseteraan dan ini didukung oleh sistem demokrasi kapitalis.


Hari Kartini telah berulang kali dimanfaatkan sebagai ajang untuk mendorong agenda kesetaraan gender yang sering kali melenceng dari makna perjuangan Kartini yang sesungguhnya. Ide feminis mendorong perempuan untuk mengejar peran-peran yang sejatinya bukan tanggung jawabnya. Sebut saja kepemimpinan negara atau posisi publik yang menuntut mereka meninggalkan fitrah utama sebagai ibu dan pendidik generasi.


Dalam sistem demokrasi kapitalis, perempuan didorong untuk mengejar peran-peran yang sejatinya diemban oleh laki-laki. Misalnya menjadi pilot, menteri, bahkan presiden. Ini sering dianggap sebagai bentuk prestasi dan keberhasilan perjuangan emansipasi. Namun, jika ditinjau secara kritis, terutama dari sudut pandang agama dan fitrah, peran-peran tersebut sering kali bertabrakan dengan kodrat perempuan sebagai ibu dan pengelola rumah tangga. Dalam banyak kasus, mengejar kesetaraan peran justru menggeser perempuan dari peran penting yang tidak kalah mulia yaitu mendidik generasi dan menjaga nilai-nilai keluarga.


Perlu disadari, perjuangan Kartini tidak pernah bermaksud untuk menyaingi laki-laki, apalagi menghapus batas kodrati antara keduanya. Kartini memperjuangkan pendidikan agar perempuan bisa berpikir, memahami, dan menjalankan perannya secara cerdas dalam ruang yang sesuai dengan fitrahnya. Sayangnya, dalam sistem yang menjunjung tinggi kebebasan individual dan materialisme saat ini, justru menggeser makna emansipasi. Perempuan hanya dianggap berhasil ketika mampu menempati posisi atau peran yang sama dengan laki-laki di ranah publik, bukan saat menjalankan peran alaminya dengan optimal.


Fakta hari ini menunjukkan bahwa banyak perempuan terjebak dalam tuntutan menjadi setara, tetapi kehilangan arah dan keseimbangan dalam hidup. Beban ganda di mana perempuan dipaksa bekerja dan terus bekerja, padahal menurut syariat Islam itu bukanlah kewajibannya sehingga terjadi  konflik peran, serta krisis identitas menjadi konsekuensi yang tidak jarang terjadi.


Memaknai Hari Kartini secara utuh adalah dengan mengembalikan perempuan pada peran mulianya, tanpa harus meniru atau menyaingi laki-laki. Kesetaraan bukan berarti menyamaratakan segalanya, tetapi memberi ruang yang adil sesuai dengan kodrat dan peran masing-masing. Sebab dalam Islam, laki-laki dan perempuan adalah dua pihak yang saling melengkapi, bukan saling bersaing dalam dominasi.


Sudah saatnya kita mengembalikan perjuangan Kartini dalam kerangka Islam, bukan dalam narasi gender liberal yang sering kali menyesatkan. Islam menawarkan solusi yang adil dan seimbang, yakni memuliakan perempuan dengan memberi ruang kontribusi, sekaligus menjaga fitrah dan kehormatan mereka.


Perempuan dalam Islam adalah madrasah pertama bagi generasi. Dari rahim dan tangannya lahir pemimpin, ulama, dan pejuang peradaban. Islam menempatkan perempuan dalam posisi mulia, sebagai ibu, pendidik, isteri, sekaligus sebagai pribadi yang mampu berkontribusi di masyarakat.


Allah SWT berfirman: “Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan, dalam keadaan beriman, maka mereka akan masuk ke dalam surga dan mereka tidak akan dirugikan sedikit pun.” (QS. An-Nisa: 124)


Kesetaraan dalam Islam adalah kesetaraan dalam nilai dan pahala, bukan dalam peran. Islam tidak menyeragamkan fungsi laki-laki dan perempuan, melainkan membaginya secara adil berdasarkan fitrah dan tanggung jawab yang telah Allah tetapkan.


Islam juga tidak melarang perempuan untuk berkontribusi di masyarakat. Perempuan boleh bekerja, menuntut ilmu,  berdakwah, bahkan berperan dalam politik, selama tidak melanggar syariat. Dalam sejarah peradaban Islam, banyak perempuan yang menjadi cendekiawan, guru, pengusaha, hingga penasihat penguasa. Namun, Islam membatasi jabatan kepala  negara (Khalifah) hanya bagi laki-laki, sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW:


“Tidak akan beruntung suatu kaum yang menyerahkan urusan mereka kepada perempuan” (HR. Bukhari).


Meski begitu, kontribusi perempuan tetap besar dalam negara Khilafah. Dalam kitab Struktur Negara Khilafah karya Syaikh Abdul Qadim Zallum (hal. 60), dijelaskan bahwa perempuan memiliki hak politik, termasuk memberi pendapat, melakukan muhasabah (koreksi) kepada penguasa, serta berpartisipasi dalam aktivitas publik lainnya sesuai ketentuan syariat.


Perempuan tidak harus menjadi seperti laki-laki untuk dianggap sukses atau mulia. Cukup dengan menjalankan perannya sebagai ibu yang mendidik generasi, istri yang mendampingi dalam ketaatan, dan muslimah yang menjaga kehormatan, maka ia telah memberi kontribusi besar bagi peradaban.


Inilah semangat perjuangan Kartini yang sesungguhnya, yakni memperjuangkan ilmu, martabat, dan kemuliaan perempuan tanpa meninggalkan nilai-nilai Islam. Sudah saatnya narasi Hari Kartini dibebaskan dari belenggu feminisme liberal, dan diarahkan kembali pada kerangka yang sesuai dengan fitrah dan syariat Islam. Karena sejatinya, perempuan adalah pilar peradaban bukan pesaing dominasi laki-laki, tetapi penopang utama kemuliaan umat. Wallahu a’lam bishawab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update