Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

KATAKAN TIDAK PADA MODERASI BERAGAMA

Tuesday, May 27, 2025 | Tuesday, May 27, 2025 WIB
KATAKAN TIDAK PADA MODERASI BERAGAMA


Oleh : Ika Wulandriati, S.Tp


Kawasan Literasi Beragama (Kaliber) 99 di Kecamatan Rowokangkung menjadi teladan moderasi beragama di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, dengan berbagai gerakan inspiratif yang mengintegrasikan literasi keagamaan dengan praktik sosial dan ekonomi lintas iman di wilayah setempat. Kaliber 99 tidak hanya menjadi forum penyuluhan keagamaan biasa, namun juga hadir sebagai ruang edukasi spiritual yang aplikatif dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat.

"Program itu membangun kesadaran moderat antarumat beragama melalui pendekatan yang membumi, bukan hanya dari podium, tetapi juga dari ladang, pasar, dan ruang interaksi harian warga," kata penggagas Kaliber 99 yang juga penyuluh agama Islam Mohammad Mas’ud dalam keterangan tertulis yang diterima di Lumajang, Jumat.


Sebagai warga Lumajang siapa yang tidak kaget membaca kabar diatas, Lumajang sudah dijuluki kabupaten percontohan moderasi beragama, ini sangat berbahaya, umat Islam wajib tahu


Moderasi beragama berbahaya karena merusak keyakinan akan kebenaran Islam. Hal ini karena moderasi beragama mengajarkan prinsip semua agama benar atau semua agama sama.

Penanaman prinsip ini kepada anak anak sudah sejak dini sehingga [akhirnya] tidak masalah berpindah-pindah agama, toh semua agama benar. Toleransi terwujud dengan ucapan selamat Natal, bersama-sama menghias pohon Natal, juga memakai topi Santa Klaus atau atribut keagamaan lainnya. Bahkan, di sebuah keluarga, tidak masalah agamanya beraneka ragam antara ayah, ibu, dan anak karena semua agama menuju Tuhan dan surga yang sama, asalkan saling menyayangi dan saling menghargai.

Jelas ini bertentangan dengan akidah Islam yang mengajarkan hanya Islam agama yang benar, sedangkan agama yang lain salah. Allah Swt. berfirman dalam QS Ali Imran [3]: 19,

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ

“Sesungguhnya agama (yang diridai) disisi Allah hanyalah Islam.”

Kemudian juga Allah Swt. berfirman dalam QS Ali Imran [3]: 85,

وَمَنْ يَّبْتَغِ غَيْرَ الْاِسْلَامِ دِيْنًا فَلَنْ يُّقْبَلَ مِنْهُۚ وَهُوَ فِى الْاٰخِرَةِ مِنَ الْخٰسِرِيْنَ ٨٥

“Dan barang siapa mencari agama selain Islam, dia tidak akan diterima, dan di akhirat dia termasuk orang yang rugi.”


Moderasi beragama telah memperparah krisis identitas generasi muslim dan menciptakan islamofobia (ketakutan terhadap Islam). Sebab khawatir mendapat cap radikal, tidak sedikit orang tua melarang anak-anaknya mengaji. Sebab takut dianggap ekstrem, mereka juga melarang anak-anak berkerudung panjang atau pakaian muslimah seperti jilbab (gamis) yang panjang dan lebar. Tidak jarang pula ada orang tua yang lebih suka anaknya ikut kegiatan-kegiatan seni dan olah raga daripada ikut pengajian.

Bahkan, ada juga yang lebih senang kalau anaknya ikut aktivitas hura-hura dan jauh dari ajaran Islam daripada ikut kajian Islam. “Lebih baik liberal daripada radikal,” bisa jadi demikian yang ada di benak mereka.

Oleh karena itu, lahirlah generasi yang tidak paham hukum Islam dan tidak tahu cara menjadi muslim yang taat kepada Allah Rabb-nya. Akhirnya mereka tidak mau menampakkan identitas diri sebagai muslim yang taat. Tidak mau pakai kerudung panjang, tidak mau kajian apalagi dakwah, serta tidak mau melakukan apa pun yang menunjukkan identitas seorang muslim. Mereka menganggap dakwah Islam sebagai aktivitas radikal karena telah ikut campur urusan (kemaksiatan) orang lain.

Tentu ini tidak benar! Justru setiap muslim harus berdakwah dan menampakkan identitas kemuslimannya. Allah Swt. berfirman dalam QS Fushilat [41]: 33,

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata, ‘Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?'”


Moderasi beragama adalah cara halus membuat generasi muslim menjadi sekuler. Melalui moderasi, ada penanaman di benak generasi bahwa syariat Islam tidak penting, yang penting adalah esensi ajaran Islam.

Juga mengatakan orang yang moderat adalah mereka yang saleh, berpegang teguh pada nilai moral dan esensi ajaran agama, serta memiliki sikap cinta tanah air, toleran, antikekerasan, dan ramah terhadap keragaman budaya lokal.[15]

Alhasil, anak-anak pun tercekoki pemahaman bahwa tidak perlu membenturkan pemahaman Islam dengan ritual budaya lokal, seperti sedekah laut, festival kebudayaan, atau ritual budaya lainnya. Semua itu adalah keragaman budaya lokal yang harus dijaga demi kerukunan bersama sekalipun itu mengajarkan kemusyrikan yang tentu saja bertentangan dengan Islam.

Mereka juga memaksa anak-anak menerima pemahaman bahwa tidak bisa menerapkan syariat Islam secara keseluruhan dalam kehidupan karena kita berada dalam sistem dan kehidupan masyarakat yang plural (beragam) dalam bingkai negara yang demokratis, maka syariat Islam hanya bisa terterapkan oleh individu, tidak bisa oleh negara.

Demikianlah, moderasi beragama mengajarkan kepada anak-anak untuk mengambil syariat Islam terkait individu, seperti ibadah ritual dan akhlak saja, tetapi meninggalkan ajaran Islam yang mengatur urusan kehidupan bermasyarakat dan bernegara (politik, ekonomi, pendidikan, sosial budaya, dan sebagainya).

Inilah yang disebut dengan sekuler, yaitu memisahkan agama dari kehidupan. Tentu saja ini bertentangan dengan Islam karena Islam memerintahkan setiap muslim untuk menjalankan syariat Islam secara keseluruhan (kaffah) (Lihat QS Al-Baqarah [2]: 208).


Moderasi beragama telah menghalangi generasi muslim dari memahami kesempurnaan agama Islam. Mereka terhalangi untuk belajar syariat Islam kafah. Pada akhirnya, mereka hanya tahu wajibnya salat dan puasa, juga wajibnya bersikap jujur, amanah, dan akhlak mulia lainnya tanpa tahu wajibnya menegakkan kepemimpinan Islam, wajibnya menerapkan sistem ekonomi Islam, wajibnya menerapkan peradilan Islam dan hukum hukum Islam lainnya.

Mereka pun tidak tahu bahwa syariat Islam mampu menyelesaikan semua problem yang menimpa kaum muslim hari ini ketika tegak secara sempurna dalam sebuah institusi negara Islam, yaitu Daulah Khilafah.

Seandainya mereka mendapatkan pengajaran Islam yang benar, yaitu Islam yang mengatur seluruh aspek kehidupan (kafah), niscaya mereka akan memahami bahwa Islam adalah agama sempurna yang tidak butuh hukum, pemikiran, atau konsep lainnya, sebagaimana firman Allah Swt. dalam QS Al-Maidah [5]: 3,

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا ‘…

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridai Islam sebagai agama bagimu …”


Sudah jelas, “katakan tidak pada moderasi” Generasi harus kita lindungi dari bahaya moderasi beragama ataupun pemikiran kufur lainnya. Untuk itu, kita perlu memahamkan bahwa moderasi bukan berasal dari Islam, bertentangan dengan Islam, dan sangat berbahaya karena menjauhkan generasi dari ajaran Islam yang benar.

Moderasi seolah manis, membawa kebaikan dan berbagai kemaslahatan, tetapi hakikatnya ia adalah racun yang merusak generasi. Moderasi adalah racun berbalut madu. Itulah yang perlu kita jelaskan pada mereka.

Hanya saja, upaya melindungi generasi butuh peran serta seluruh komponen umat. Semua pihak, baik negara, masyarakat, lembaga pendidikan maupun keluarga harus berperan aktif dan turut serta dalam melindungi generasi. Semua ini tidak mungkin terlaksana dalam sistem kufur hari ini, saat masyarakat dan negara justru malah berandil besar dalam merusak generasi.

Perlindungan secara menyeluruh terhadap generasi hanya mungkin terlaksana jika syariat Islam terterapkan secara keseluruhan (kafah) dalam sistem pemerintahan Islam, yakni Khilafah ‘ala minhaj an-nubuwwah. Sudah selayaknya perjuangan tegaknya Khilafah menjadi agenda umat Islam hari ini. Wallahualam

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update