Oleh: Eka Susanti, S. Pd
(Aktivis Dakwah dan Jurnalis Islam)
Keadaan saudara-saudari kita di Palestina semakin mencekam. Blokade total terhadap Gaza diberlakukan oleh Israel sejak 2 Maret lalu. Pemerintah Israel menyatakan kebijakan itu bertujuan untuk menekan kelompok Hamas agar membebaskan para sandera yang masih ditahan. Namun, sejumlah organisasi hak asasi manusia menyebut blokade ini sebagai ”taktik kelaparan” dan menyebutnya berpotensi sebagai kejahatan perang.Di tengah krisis pangan yang memburuk, serangan udara Israel terus berlanjut (Kompas.tv, 25 April 2025). Seluruh Strip, dengan populasi dua juta orang, mungkin berada di ambang kelaparan saat Program Pangan Dunia kehabisan persediaan. Setidaknya 13 warga Palestina telah tewas sejak fajar dan puluhan lainnya tertimbun di bawah reruntuhan bangunan yang hancur akibat serangan udara Israel di Kota Gaza. (BisnisUpdate.com, 26 April 2025). Program Pangan Dunia (World Food Program/WFP) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Jumat (25/4) mengatakan bahwa mereka telah kehabisan stok makanan di Jalur Gaza karena perlintasan perbatasan masih ditutup. (AntaraNews.com, 26 April 2025).
Permasalah Gaza saat ini sejatinya bukan lagi permasalahan satu Negara Palestina saja, tapi sudah menjadi permasalahan bagi seluruh umat. Seluruh mata dunia sudah mengetahui kekejaman entitas Yahudi Israel saat ini, namun kepentingan dan keserakahan individu dan para pemimpin negara-negara muslim masih bergelut tidak ada habisnya. Seharusnya tidak tanggung jawab Gaza bukan hanya menjadi tanggung jawab mereka sendiri, tapi menjadi tanggung jawab umat seluruh dunia. Terlebih kepada umat muslim saat ini, dimana kesadaran umat muslim ini perlu dibangun dalam satu pemikiran agar bersama-sama menyadari akan sebuah solusi tuntas pada akar permasalahan di Gaza saat ini.
Nabi Saw sendiri bersabda: Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, dia tidak menzaliminya dan tidak membiarkannya untuk disakiti. Siapa yang membantu kebutuhan saudaranya maka Allah akan membantu kebutuhannya. Siapa yang menghilangkan satu kesusahan seorang muslim maka Allah menghilangkan satu kesusahan baginya dari kesusahan-kesusahan hari kiamat. Dan siapa yang menutupi (aib) seorang muslim maka Allah akan menutup aibnya pada hari kiamat.” (HR Bukhari No. 2262).
Gaza adalah bagian dari tubuh kita, pun sebaliknya. Kita memahami memang jika bantuan makanan, obat-obatan, dan kebutuhan lainnya sagat mereka butuhkan, tetapi yang paling mendesak untuk mereka saat ini sebenarnya adalah Pembebasan Tanah Suci itu dari penjajahan Zion*s. Dan semua itu membutuhkan kesatuan pemikiran untuk bersatu menolong saudara muslim di Gaza, yakni pengiriman bantuan militer untuk melawan Zion*s. Namun dari berbagai suara kita untuk hal ini, belum ada kesadaran dan keberanian dari para pemimpin negeri-negeri muslim yang bisa memberikan wadah untuk mempersatukan umat muslim dan merealisasikan hal tersebut.
Sampai berapa lama lagi kita menyaksikan Gaza terkoyak oleh genosida rudal dan kelaparan yang dilakukan Zion*s? Peran kita sangatlah penting bagi mereka, sebagai seorang muslim tampak menghinakan rasanya jika kita hanya menonton dan menikmati media yang berisi kebiadaban-kebiadaban Zion*s kepada saudara-i kita di sana. Kelak anak-anak Gaza akan menuntut sikap diam kita ketika mereka membutuhkan pertolongan. Ada para wanita dan orang tua yang bisa saja memberatkan jalan kita ke surga manakala mereka menuntut pertanggungjawaban kita di akhirat kelak.
Jangan lagi berharap pada organisasi internasional semacam PBB. Mereka satu jalan dengan AS dan Barat. Posisi PBB jelas lemah dan tidak berdaya ketika berhadapan dengan kepentingan AS dan sekutunya. Sejarah lahirnya PBB pun tidak terlepas dari pengaruh AS sebagai penguasa dunia. Hal ini sudah dijelaskan Syekh Taqiyuddin an-Nabhani dalam kitab Mafahim Siyasiyah li Hizbit Tahrir hlm. 205 yang isinya, “Setelah berdirinya Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), ada keinginan untuk membatasi keanggotaannya hanya pada negara-negara yang terjun dalam peperangan melawan Jerman, yaitu negara-negara Kristen dan negara-negara lain yang mengikutinya. Akan tetapi, karena AS ingin memperluas pengaruhnya di dunia dan memasukkan negara-negara di dunia di bawah naungannya, AS memperluas keanggotaan PBB dan membolehkan negara-negara di dunia untuk masuk ke dalamnya. Namun demikian, AS dan negara-negara Kristen lainnya tetap tidak menoleransi prinsip mana pun untuk masuk ke dalam Undang-Undang Internasional dan peraturan PBB itu. Sebaliknya, prinsip-prinsip negara Kristenlah yang tetap menjadi asas Undang-Undang Internasional–bahkan menjadi Undang-Undang Internasional itu sendiri— dan asas peraturan PBB.
Umat Islam memiliki tanggung jawab terhadap tanah suci Baitul Maqdis dan Bumi Syam hingga negeri tersebut dibebaskan dengan jihad yang akan dikomando khalifah. Hanya Khalifah mampu menjadi perisai hakiki umat sebagaimana dahulu Palestina berada di bawah naungan kekuasaan Islam yang dikomandoi oleh Rasulullah Saw dan para sahabat sepeninggal beliau.
Berkompromi dan mengampayekan solusi dua negara adalah sebuah pengkhianatan dan kezaliman besar. Dan sikap diam dan mendiamkan kezaliman, atau menutup mata dari hal yang terjadi di Palestina juga sebuah dosa yang bebannya tidak akan sanggup kita tanggung kelak di hadapan Allah Swt, mengingat betapa besar tanggung jawab tersebut. Melupakan Palestina adalah sebuah kelalaian yang teramat berat jika di akhirat kita berjumpa dengan Rasulullah Saw.
Perlu kita muhasabah diri dan menilik kembali sejarah, mengapa Rasulullah Saw di utus ke bumi ini? Beliau tidak hanya mengajarkan akhlak mulia dan menyelamatkan satu kaum atau golongan saja, namun juga pergi (hijrah), mengajarkan ilmu kepada para sahabat, membangun sebuah kekuatan pemikiran dengan ketauauhidan kepada Allah Stw, menyebarkan Islam dengan misi dakwah dan menyelamatkan seluruh umat manusia dipenjuru dunia dari berbagai kezaliman yang rusak yakni dengan melalui otoritas kekuasaan yakni Negara Islam (Khilafah). Dan Allah Swt juga telah menjanjikan kemenangan bagi umat muslim yang berjuang di jalan ini. Maka tidak sepatutnya bagi seorang muslim saat ini berputus asa dalam menjalankan misi yang sama seperti yang Rasulullah Saw lakukan dahulu.
Apa yang hendak kita katakan ketika beliau bertanya, bagaimana kepedulian terhadap saudara sesama muslim yang mengalami penderitaan? Sedangkan di antara tanda keimanan seseorang adalah mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri. Dari Anas bin Malik ra. dari Nabi ﷺ, beliau bersabda, “Tidaklah (sempurna) iman seseorang di antara kalian hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR Bukhari Muslim).
Maka yang dibutuhkan Gaza saat ini hanya jihad dan Khilafah yang merupakan sebuah solusi tuntas yang harusnya terus kita suarakan, sebagai kewajiban kita dalam upaya membebaskan tanah suci Baitul Maqdis dari penjajahan Zion*s dan penderitaan umat saat ini. Jangan pernah meremehkan hal kecil yang kita lakukan saat ini untuk membela mereka, karena semua apa yang kita miliki saat ini akan dipertanggungjawabkan kelak di hadapan Allah Swt dan saudara-i kita yang terzalimi saat ini.

No comments:
Post a Comment