Mahasiswi
Pada 9 April 2025, Presiden Prabowo
Subianto mengumumkan rencana pemerintah Indonesia untuk mengevakuasi sekitar
1.000 warga Palestina dari Jalur Gaza. Menurut pernyataannya, evakuasi akan
difokuskan pada korban luka, anak-anak yatim, dan warga yang mengalami trauma
akibat konflik antara Israel dan Hamas. “Kami siap kirim pesawat-pesawat untuk
mengevakuasi siapa pun yang ingin diselamatkan,” ujar Presiden Prabowo (CNN
Indonesia, 2025).
Meskipun terdengar sebagai inisiatif
kemanusiaan, sejumlah pihak menilai rencana ini problematik. Pengamat
geopolitik Timur Tengah, Smith Alhadar, menilai langkah tersebut rawan memicu
polemik, terutama karena kondisi sosial-ekonomi dalam negeri tengah tidak
stabil. Masyarakat sedang dibebani oleh krisis ekonomi dan ketidakpastian
politik. Lebih jauh, Smith memperingatkan bahwa evakuasi ini bisa disalah artikan
oleh komunitas internasional sebagai bentuk dukungan terhadap agenda “pengosongan
Gaza” yang dapat merusak upaya perjuangan kemerdekaan Palestina. Meskipun
Menteri Luar Negeri Sugiono telah menegaskan bahwa evakuasi bersifat sementara
dan bukan relokasi permanen, kekhawatiran tetap muncul karena Indonesia tidak
memiliki hubungan diplomatik resmi dengan Israel, sehingga tidak ada jaminan
hukum atas pemulangan para pengungsi (Kompas, 2025).
Konteks politik global pun turut
memperumit situasi. Pengumuman rencana ini muncul bersamaan dengan kebijakan
Presiden AS Donald Trump yang menaikkan tarif impor hingga 32% terhadap banyak
negara, termasuk Indonesia. Beberapa analis menduga bahwa rencana evakuasi ini
merupakan bentuk strategi appeasement, yaitu upaya meredakan ketegangan agar AS
bersedia menurunkan beban tarif tersebut (CNN Indonesia, 2025).
Jika dugaan ini benar, maka langkah yang
awalnya dimaksudkan sebagai tindakan kemanusiaan justru berisiko memperkuat
strategi pihak Zionis yang ingin menguasai penuh wilayah Gaza dan memindahkan
warganya secara permanen ke luar negeri. Rencana Presiden Prabowo untuk
mengevakuasi ribuan warga Palestina dari Gaza ke Indonesia menuai perhatian
luas. Di balik wacana kemanusiaan tersebut, terdapat dinamika politik global
yang lebih kompleks.
Presiden AS Donald Trump sejak awal 2025
mendorong proyek bertajuk Riviera Timur Tengah, sebuah gagasan untuk
merekonstruksi Gaza menjadi wilayah “modern dan produktif” (The Times of
Israel, 26 April 2025). Namun, prasyarat utama proyek ini adalah pengosongan
total wilayah Gaza dari penduduknya. Untuk itu, AS melobi negara-negara Arab
seperti Mesir, Yordania, dan Turki agar bersedia menerima warga Gaza yang
direlokasi, namun mayoritas menolak.
Sejumlah media internasional, termasuk
Zman Israel dan The Times of Israel, melaporkan bahwa AS dan Israel kemudian
mencari alternatif ke negara lain, termasuk Indonesia. Bahkan disebutkan telah
ada kesepakatan rahasia dengan pemerintah Indonesia, di mana 100 warga Gaza
dipersiapkan untuk bekerja di sektor konstruksi sebagai bagian dari proyek
percontohan relokasi sukarela. Jika berhasil, ribuan warga Gaza lainnya
berpotensi mengikuti langkah serupa (The Times of Israel, 2025).
Meski Kementerian Luar Negeri Indonesia
membantah keterlibatan dalam kesepakatan tersebut (27 Mei 2025), pernyataan
terbuka Presiden Prabowo tentang kesiapan mengevakuasi warga Gaza menimbulkan
pertanyaan. Beberapa pengamat menilai langkah ini sebagai bentuk appeasement
terhadap AS, terutama setelah Trump memberlakukan tarif impor sebesar 32% yang
turut membebani ekonomi Indonesia (Kompas, 2025).
Negara lain, seperti Inggris, juga
mengambil pendekatan serupa. Mereka memberikan insentif kepada miliarder dekat
Trump, seperti Elon Musk dan Mark Zuckerberg, serta membuka pasar bagi produk
Starlink demi meredakan kebijakan tarif AS.
Namun, langkah ini dinilai berisiko secara
moral dan politik, terutama bagi Indonesia yang selama ini dikenal konsisten
mendukung kemerdekaan Palestina. Ketika sikap Indonesia mulai sejalan dengan
rencana AS dan Israel, banyak yang menilai semangat anti-penjajahan Indonesia
semakin melemah.
Kritik juga datang dari pihak yang menilai
negara-negara Muslim, termasuk Indonesia, hanya terbatas pada retorika
diplomatik dan bantuan kemanusiaan simbolis, tanpa langkah konkret untuk
menghentikan agresi di Gaza. Kondisi ini dianggap sebagai konsekuensi dari
dominasi sistem sekularisme, kapitalisme, dan nasionalisme, yang telah memecah
belah dunia Islam dan melemahkan solidaritas terhadap Palestina.
Alih-alih bersatu dan menggunakan kekuatan
kolektif untuk menekan kekuatan penjajah, para pemimpin negara Muslim justru
dinilai lebih mementingkan kepentingan politik domestik dan hubungan baik
dengan negara adidaya.
Di tengah penderitaan panjang yang dialami
rakyat Gaza—dari serangan militer hingga krisis kemanusiaan yang
berkepanjangan—pertanyaan besar pun muncul: apa cara paling nyata dan efektif
untuk membantu mereka? Salah satu jawaban yang sering disampaikan adalah jihad
fi sabilillah.
Namun, jihad di sini bukan sekadar aksi
angkat senjata tanpa aturan, melainkan perjuangan terarah yang tunduk sepenuhnya
pada hukum syariat, dipimpin oleh otoritas yang sah dan terpercaya. Sayangnya,
dalam kondisi saat ini, jihad semacam ini tampak mustahil dipimpin oleh para
penguasa Muslim yang lebih fokus pada kepentingan kekuasaan atau relasi dengan
negara adidaya.
Dalam Islam, jihad yang terorganisir
secara sah hanya bisa dipimpin oleh seorang khalifah—pemimpin umat Islam
sedunia yang dibaiat untuk menegakkan seluruh ajaran Islam, baik dalam ibadah
maupun dalam sistem politik, ekonomi, sosial, dan hukum.
Namun, posisi khalifah telah lama kosong.
Sejak runtuhnya Khilafah Utsmaniyah pada tahun 1924 akibat intervensi kekuatan
Barat, umat Islam hidup tanpa kepemimpinan tunggal selama lebih dari satu abad.
Padahal menurut syariat, batas waktu hidup tanpa khalifah hanya tiga hari tiga
malam. Melebihi itu, umat rentan tercerai-berai, dijajah, dan kehilangan
keadilan.
Kondisi dunia Islam saat ini mencerminkan
dampak dari ketiadaan Khilafah: krisis multidimensi yang nyaris tak ada
ujungnya. Karena itu, banyak yang mulai menyuarakan pentingnya perjuangan
menegakkan kembali Khilafah sebagai sistem pemerintahan Islam yang pernah
menjadikan umat ini sebagai peradaban unggul dan kekuatan global.
Perjuangan ini dimulai dari
dakwah—membangun kesadaran bahwa Islam bukan hanya agama ritual, tetapi
ideologi yang menyeluruh, menawarkan solusi atas berbagai problematika hidup.
Islam dipandang sebagai satu-satunya sistem yang mampu menggantikan sistem
sekuler kapitalistik yang telah terbukti membawa penindasan dan kerusakan,
sebagaimana terlihat dalam kebijakan Amerika dan sekutunya di Palestina serta
wilayah Muslim lainnya.
Kabar baiknya, kembalinya Khilafah adalah
janji Allah dan bisyarah dari Rasulullah saw. Namun, realisasinya adalah medan
perjuangan yang menuntut kesabaran, ilmu, dan pengorbanan. Bagi mereka yang
istiqamah, Allah telah menjanjikan ganjaran besar: pahala yang agung dan
surga-Nya.
Dengan demikian, perjuangan ini bukanlah
utopia. Ia adalah bagian dari perjalanan panjang umat menuju kembalinya
keadilan Islam, sebagaimana dicontohkan Rasulullah saw. dan para sahabat. Dan
mungkin, dari generasi inilah titik balik itu dimulai. Wallahualam bissawab.

No comments:
Post a Comment