Oleh Fajrina Laeli, S.M.
Siap mengevakuasi warga sipil dari jalur Gaza dan menampung 1000 warganya di Indonesa adalah pernyataan yang dilontarkan oleh Presiden Prabowo kepada pers sebelum bertolak ke Uni Emirat Arab, Rabu, 9 April 2025 (tempo.co, 12/4/2025).
Hal tersebut menuai reaksi kontra dari berbagai kalangan mulai dari DPR, MUI dan NU, kritik tajam disematkan atas pernyataan tersebut. Selain itu, apa yang disampaikan Presiden Prabowo juga tidak sejalan dengan fatwa seruan jihad yang disuarakan oleh para ulama dunia.
Menurut Wakil Ketua MUI Anwar Abbas, ada indikasi kuat bahwa relokasi warga Palestina ke luar wilayahnya akan memuluskan strategi dan keinginan Israel dan Amerika Serikat untuk mengosongkan jalur Gaza.
Bahkan sampai hari ini pun, warga Gaza sedang mati-matian bertahan melindungi tanah airnya tanpa berpindah ke mana pun, bertahan dari brutalitas Zionist untuk tetap berpegang teguh pada pertolongan Allah. Jadi pernyataan Presiden terkait relokasi juga mungkin tidak sejalan dengan keinginan rakyat Gaza itu sendiri.
Di sisi lain, naiknya tarif impor yang ditetapkan Amerika Serikat (AS) ke Indonesia yang naik sampai 47 persen (cnnindonesia.com, 18/4/2025), bisa menjadi salah satu alasan untuk mengevakuasi warga Gaza sebagai bentuk negosiasi dengan AS.
Sejatinya, tidak ada solusi lain yang bisa mengobati duka Gaza selain jihad. Berkaca dari berbagai upaya individu yang diterapkan tidak berdampak terlalu besar pada ancaman genosida yang diterima. Evakuasi rakyat Gaza bukankah justru menjauhkannya dari tujuan yang hakiki? Di sisi lain, jika ini benar-benar terjadi, Zionis yang melakukan perampasan wilayah akan bertepuk tangan tanpa perlu menghabiskan lebih banyak senjata.
Seharusnya, negara dengan mayoritas rakyat Muslim bersatu di bawah komando pemimpin. Dengan pengumpulan kekuatan militer dari berbagai negara sejatinya sangat cukup untuk membantu Palestina untuk merdeka. Sayangnya, tidak mungkin hal tersebut terkabul karena hari ini masyarakat Muslim tersekat-sekat oleh nation state yang menjadikan sebuah negara independen tanpa menganggap Muslim di negara lain sebagai saudara.
Negeri-negeri Muslim seharusnya menjadi negara adidaya yang memimpin dunia sama seperti masa kepemimpinan Rasulullah. Khilafah sebagai negara adidaya akan menerapkan syariat Islam sehingga menjadi rahmat bagi seluruh alam dan membela setiap muslim. Sayangnya, hari ini khilafah belum tegak, nasib umat Islam pun makin sengsara.
Sungguh hanya dengan pemerintahan Islam yang dapat mematahkan sekat-sekat nasionalisme negara dan keegoisannya. Di bawah komando jihad Daulah Islam tentunya dapat dipastikan dan dijamin kesiapan militer untuk membantu Gaza. Maka kesejahteraan kaum Muslim hanya dapat diterapkan dengan tegaknya khilafah sebagai obat luka bagi perihnya penderitaan di dunia ini. Khilafah sebagai solusi pasti yang wajib kita usahakan bersama. Wallahu'Alam bissawab.
.jpg)
No comments:
Post a Comment