Oleh Sri Rahayu Lesmanawaty (Aktivis Muslimah Peduli Generasi)
Saat jumlah penduduk Gaza yang tewas sejak 7 Oktober 2025 dilaporkan mencapai 51.000 orang dan Pengadilan Kriminal Internasional (International Criminal Court/ICC) pun telah mengeluarkan surat perintah penangkapan untuk Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan mantan Menteri Pertahanannya Yoav Gallant atas kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Gaza, semuanya tampak tak membuat Zion*s dengan bantuan Amerika berhenti merusak Gaza.
Obsesi menguasai jalur Gaza sebagai penataan ulang Timur Tengah menjadi Israel Raya terus merajai nafsu mereka. Menguasai wilayah yang membentang dari Sungai Nil di Mesir ke Sungai Efrat yang melintasi tiga negara utama, yakni Turki, Suriah, dan wilayah Irak, menjadi hawa serakah yang terus saja merambah tanpa rasa bersalah.
Kenyataan ini seharusnya menjadi pengingat bahwa harapan penyelesaian masalah Gaza dan Palestina bukan ada pada para penguasa Arab, Turki, Indonesia, dan lainnya. Apalagi ada pada negara-negara adidaya dan lembaga-lembaga internasional yang justru dibuat dan disetir untuk menjadi alat melanggengkan penjajahan mereka atas dunia.
Kesadaran atas urusan Gaza, Palestina, ini ada pada tangan-tangan umat. Merekalah pemilik hakiki kekuasaan. Di tangan merekalah hak untuk memilih penguasa yang siap menjalankan syariat Islam, termasuk yang siap mengurus dan menjaga rakyatnya dari segala bentuk kezaliman dan upaya penjajahan.
Sayang beribu sayang kekuasaan itu telah lama direnggut paksa oleh para penjajah dan diberikan pada para anteknya dengan berbagai cara. Gaza pun terabaikan. Negeri muslim tak bergeming untuk menorehkan pertolongan.
Penerapan sistem sekuler demokrasi di negeri-negeri Islam membuat umat merasa menjadi pemilik kekuasaan, padahal sejatinya mereka hanya dimanfaatkan oleh orang-orang yang haus kekuasaan.
Sungguh tidaklah cukup hanya menuntut penguasa membela Gaza dengan turun ke jalan. Umat harus berupaya mewujudkan kepemimpinan yang benar-benar berlandaskan Islam, yakni seorang khalifah yang berfungsi sebagai rain (pengatur) dan junnah (penjaga) bagi umat dengan menerapkan hukum-hukum Islam.
Khalifah tidak mampu ditundukkan oleh kekufuran karena Islam telah mengharamkan. Khalifah akan memobilisir seluruh kekuatan, termasuk memimpin jihad, mengerahkan tentara dan senjata, demi membela umat dan menghilangkan segala bentuk kezaliman, termasuk membela muslim Gaza.
Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya imam/khalifah adalah perisai, orang-orang berperang di belakangnya dan menjadikannya pelindung. Jika ia memerintahkan ketakwaan kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan berlaku adil, baginya terdapat pahala dan jika ia memerintahkan yang selainnya, ia harus bertanggung jawab atasnya.” (HR Muslim).
Butuh Aksi Bukan Hanya Meditasi
Saat ini umat Islam berada dalam keterpurukan di berbagai bidang kehidupan. Jumlah mereka yang 2,4 milyar jiwa atau sekira 25% penduduk dunia, nyatanya tidak mampu mewarnai, apalagi memimpin peradaban dunia. Kondisi umat Islam di dunia hari ini benar-benar seperti gambaran Rasulullah saw., yakni seperti buih di lautan atau seperti hidangan yang diperebutkan oleh orang-orang yang ada di sekitarnya.
Saat suara pembelaan terhadap nasib warga Gaza masih bergema dimana-mana, saat aksi-aksi bela Palestina terus berjalan di berbagai wilayah dunia termasuk di Indonesia, sekalipun narasinya belum satu suara dan masih banyak yang fokus pada sisi kemanusiaan dengan mengedepankan solusi-solusi parsial yang sama sekali tidak menyelesaikan persoalan, namun pelan tetapi pasti, dakwah ideologis harus tetap mewujud dalam aksi nyata agar mulai berpengaruh di tengah umat.
Saat umat mulai menyadari bahwa masalah krisis Gaza dan Palestina bukan sekadar masalah kemanusiaan, tetapi merupakan masalah politik dan ideologi alias perang peradaban, maka aksi nyata menyingkap kebusukan sistem yang mendunia harus terus digaungkan. Umat harus sadar bahwa krisis Gaza awalnya berpangkal dari masalah/konspirasi politik berupa penjajahan yang didukung oleh kekuatan politik sehingga butuh penyelesaian politik, salah satunya dengan menggunakan kekuatan militer untuk mengusir penjajah dari bumi Palestina.
Seruan pembelaan yang umat sampaikan dalam aksi-aksi yang sudah meningkat eskalasinya, yakni berupa tuntutan pengiriman tentara dan jihad fi sabilillah, harus terarahkan pada peraihan kembali kekuasaan yang harusnya dimiliki umat.
Saat fokus pada ajakan untuk menggalang bantuan logistik, gerakan boikot, dan ajakan melangitkan doa-doa terus membahana, maka menaikkan grade penyelesaian pada kebutuhan adanya kemampuan sistem yang dipimpin khalifah yang dibaiat oleh umat untuk menjalankan hukum-hukum syara termasuk memimpin jihad melawan musuh-musuh yang memeranginya, jangan sampai berhenti.
Seruan pengiriman tentara harus disandingkan dengan seruan penegakkan Khilafah Islam, karena dengannya kedudukan para penguasa khianat akan dilengserkan. Keniscayaan penjagaan terealisasi nyata.
Kembalinya Khilafah sudah Allah janjikan dan merupakan bisyarah (kabar gembira) dari Rasulullah saw.. Hanya saja, umat Islam dituntut untuk memperjuangkannya.
Menapaki jalan dakwah yang dicontohkan Rasulullah saw. bersama sebuah partai politik atau jemaah yang ikhlas berdakwah semata-mata karena Allah dan menjalankan seluruh aktivitas dakwahnya tanpa bergeser sedikit pun dari tuntunan-tuntunan Islam, harus selalu diupayakan, diperjuangkan, ditegakkan. In syaa Allaah dengannya pertolongan Allah Ta'ala pun segera tiba. Gaza yang terabaikan segera terselamatkan.
Wallaahu a'laam bisshawaab.

No comments:
Post a Comment