Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Palestina Butuh Pembelaan Nyata, Bukan Sekadar Simpati

Tuesday, April 22, 2025 | Tuesday, April 22, 2025 WIB



Oleh: Rumaisha
Aktivis Muslimah

Tragedi kemanusiaan di Gaza belum juga berakhir. Sejak pertengahan Maret 2025, lebih dari 10.000 jiwa telah menjadi korban keganasan militer Israel. Di bulan suci Ramadan hingga Idulfitri, rakyat Gaza menjalani hari-hari dalam kecemasan, di tengah reruntuhan, luka, dan kehilangan. Dunia menyaksikan, tapi nyaris tak ada yang benar-benar bertindak.

Negara-negara Muslim, termasuk Indonesia, memang tak tinggal diam dalam kata-kata. Kecaman dan seruan damai terus dilontarkan. Namun, faktanya, diplomasi tanpa langkah konkret belum mampu menghentikan genosida ini.

Salah satu respons yang kini menuai perbincangan adalah rencana Indonesia untuk menampung 1.000 warga Gaza secara sementara. Di satu sisi, ini tampak sebagai bentuk empati. Namun di sisi lain, banyak pihak menilai pendekatan ini kurang tepat sasaran. Sebab, yang dibutuhkan rakyat Palestina bukanlah relokasi, melainkan perlindungan dan pembebasan dari penjajahan.

Kekhawatiran pun muncul bahwa langkah semacam ini justru bisa membuka celah bagi agenda-agenda terselubung, seperti normalisasi atau bahkan pembiaran terhadap pengosongan wilayah Gaza dari penduduk aslinya. Padahal, mempertahankan tanah air mereka adalah bagian dari perjuangan suci yang harus didukung, bukan dialihkan.

Tentu, membantu korban konflik adalah keharusan. Namun, perlu diingat bahwa solusi jangka panjang tidak bisa sekadar mengatasi akibat—tapi harus menyentuh akar persoalan. Dalam konteks Palestina, akar masalahnya adalah penjajahan yang terus berlangsung tanpa perlawanan sepadan.

Di sinilah pentingnya membangkitkan kembali semangat persatuan umat Islam. Sebuah persatuan yang tak hanya bersifat emosional, tetapi juga politis dan strategis. Persatuan yang terorganisir dalam satu kepemimpinan Islam yang memiliki visi membela umat dan menjaga kehormatan negeri-negeri Muslim.

Kepemimpinan Islam bukan sekadar bagian dari sejarah. Ia adalah sistem yang pernah nyata mengayomi umat, memimpin perjuangan, dan menentang segala bentuk penjajahan. Dalam sistem ini, umat memiliki satu komando, satu suara, dan satu kekuatan.

Oleh karena itu, sudah saatnya kita membangun kesadaran umat—melalui dakwah, pendidikan politik Islam, dan pembinaan yang berkelanjutan. Dibutuhkan partai politik ideologis yang mampu menggugah umat dan mendorong para pemimpin negeri-negeri Muslim untuk mengambil sikap yang lebih tegas, termasuk mengerahkan potensi kekuatan untuk membela Palestina dan menegakkan kembali kepemimpinan Islam yang mengikuti jalan kenabian.

Inilah saatnya kembali pada solusi Islam yang hakiki—bukan sebagai wacana, tetapi sebagai agenda perjuangan.

Wallahu a’lam bishshawwab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update