Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

PALESTINA BUTUH KHILAFAH BUKAN GENJATAN SENJATA

Wednesday, April 16, 2025 | Wednesday, April 16, 2025 WIB


Gelombang serangan udara yang mengakhiri gencatan senjata di Gaza menandai eskalasi besar dalam konflik Israel-Palestina. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memperingatkan bahwa serangan ini baru permulaan dan akan terus berlanjut hingga Israel mencapai tujuan perangnya, yakni menghancurkan Hamas dan membebaskan seluruh sandera yang ditahan oleh kelompok militan tersebut.

Negosiasi gencatan senjata lebih lanjut, kata Netanyahu dalam pidato televisi Selasa malam, akan berlangsung di bawah tembakan. Ini adalah pernyataan pertamanya setelah serangan yang menewaskan lebih dari 400 orang dalam satu hari, menjadi hari paling berdarah sejak awal perang pada 2023.


Militer Israel telah mengeluarkan perintah evakuasi bagi wilayah utara dan timur Gaza, mengindikasikan kemungkinan serangan darat dalam waktu dekat.

Otoritas kesehatan Palestina melaporkan 404 korban jiwa akibat serangan tersebut. Namun angka yang diperbarui menyatakan korban tewas mencapai 413 orang. Sementara itu, lebih dari 600 orang lainnya mengalami luka-luka.

Pejabat militer Israel mengklaim bahwa serangan tersebut menargetkan komandan militer Hamas serta pejabat politik kelompok tersebut.

Laporan dari lapangan menyebutkan bahwa serangan udara dan tembakan artileri masih terus berlanjut sepanjang sore hingga malam. Para petugas bantuan di Gaza melaporkan bahwa ratusan hingga ribuan orang mulai mengungsi untuk mematuhi perintah evakuasi Israel.


Hamas juga disebut menolak membebaskan lebih banyak dari 59 sandera yang masih ditahan di Gaza, yang menurut Israel merupakan pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata yang mulai berlaku pada Januari.

Hamas bisa saja memilih jalur lain. Mereka bisa memilih untuk membebaskan semua sandera, tetapi mereka malah memilih penolakan, teror, dan perang, kata Shoshani dalam sebuah pernyataan.

Kantor Netanyahu mengeklaim bahwa Hamas menolak proposal dari utusan Timur Tengah AS, Steve Witkoff, untuk memperpanjang jeda pertempuran. Hamas sendiri menyatakan bahwa pembebasan sandera seharusnya terjadi pada fase kedua yang telah disepakati Israel pada Januari, tetapi Israel sejak itu menolak membahas atau menerapkannya.

Fase pertama dari gencatan senjata yang disepakati Januari lalu melibatkan pembebasan 25 sandera Israel yang masih hidup dan pemulangan jenazah delapan sandera lainnya oleh kelompok militan Gaza, dengan imbalan pembebasan sekitar 1.900 tahanan Palestina dari penjara Israel.

Dalam fase kedua, rencananya akan dilakukan penarikan penuh pasukan Israel dari Gaza, pembebasan seluruh sandera, dan penghentian perang secara permanen.

Namun, dengan dukungan AS, Israel justru mendorong pertukaran sandera dengan lebih banyak pembebasan tahanan Palestina serta jeda pertempuran selama 30 hingga 60 hari, sesuai dengan proposal Witkoff.


Sebenarnya ambisi jahat AS dan Trump untuk mencaplok wilayah Palestina sudah berlangsung sejak pertama kali ia menjadi Presiden Amerika Serikat pada periode 2017-2021. Saat itu, Donald Trump secara tegas mendukung agar Yerusalem menjadi ibukota negara Yahudi. Kemudian untuk memberikan tekanan lebih besar lagi kepada penduduk Palestina, Amerika Serikat memotong semua pendanaan untuk badan pengungsi Palestina PBB, UNRWA pada 2018.


Menurut Ketua Forum Doktor Muslim Peduli Bangsa ( FDMPB ) Ahmad Sastra, akar masalah konflik Palestina Israel ada dua, internal dan eksternal. Secara internal, saat umat Islam terpecah dalam ikatan nasionalisme, maka terjadilah perpecahan umat Islam di dunia. Akibatnya tentu saja umat Islam menjadi sangat lemah dan mudah sekali dikalahkan oleh musuh-musuh Islam. 

"Lantas faktor eksternal adalah adanya penjajahan Israel yang didukung oleh Negara-negara barat penjajah yang sejak dulu telah berhasil memecah belah umat Islam dalam berbagai bangsa dan Negara "

Ahmad mengingatkan, karena itu setiap ada peristiwa internasional yang menimpa umat Islam karena ketiadaan khilafah sebagai tameng harus menjadi momentum kesadaran dan penyatuan pikiran kaum Muslimin seluruh dunia untuk terus optimis membangun kebangkitan politik ideologis menuju persatuan umat Islam seluruh dunia. 


Palestina membutuhkan keberadaan sistem Islam yang secara nyata akan memberikan perlindungan bahkan akan mengusir Israel dari tanah Palestina. Sistem Islam telah secara nyata memberikan perlindungan meski hanya seorang perempuan Amuria yang dilecehkan oleh tentara Romawi. Maka tentu akan memerangi Israel yang telah merampok tanah Islam yang mulia dan menjajah kaum muslim Palestina dengan kejam sejak lama.

Persoalan Palestina adalah persoalan seluruh kaum muslimin. Dengan daulah Islam akan menyatukan seluruh kaum muslimin dan akan memerangi serta mengusir penjajah Israel yang telah merampok tanah Islam yang mulia dan telah menjajah kaum muslim Palestina dengan kejam sejak lama.

Palestina mutlak milik kaum muslimin.Segala solusi yang ditawarkan Barat untuk menyelesaikan konflik Palestina—Israel tidak mampu mengembalikan Palestina menjadi milik kaum muslimin. Pembebasan tanah Palestina jelas mustahil bergantung pada Barat, yang sudah pasti berpihak pada Israel. Suatu hal bodoh jika berharap pada negeri Islam yang tunduk pada kepentingan Barat.


Walhasil, harus ada kekuasaan Islam yang menyerukan jihad fi sabilillah. Tidak ada solusi lain bagi Palestina selain Khilafah. Dengan Khilafah, sekat bangsa akan terurai, persatuan kaum muslim akan terwujud, akidah Islam menjadi pondasi kekuatan Islam.

Khilafah juga akan menyerukan jihad memerangi musuh-musuh Islam. Hanya jihad dan Khilafah solusi tunggal dan fundamental untuk Palestina dan negeri muslim lainnya yang masih terjajah.

Hanya Khilafah, rumah dan tempat aman bagi kaum muslim meminta perlindugan. Dengan Khilafah, maka kehormatan, nyawa, dan harta kaum muslimin bisa terjaga. Oleh karena itu, umat Islam tak boleh lengah dari perjuangan tegaknya bisyarah Rasulullah, yakni Khilafah ala minhajin nubuwwah. Wallahu a'lam!

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update