Oleh: Ns. Rizqa Fadzilah, S. Kep
Laporan biro statistik Palestina mengungkapkan lebih dari 39. 384 anak Palestina kehilangan salah satu atau kedua orang tua mereka setelah 534 hari serangan Israel di jalur Gaza. Jumlah korban tewas meningkat menjadi 50.532 jiwa, dan 114.776 orang lainnya terluka sejak 7 Oktober 2023 (sindonews.com, 05/04/2025).
Israel menghancurkan perjanjian gencatan senjata dan pertukaran tahanan yg telah disepakati pada bulan Januari. Pada tanggal 18 Maret, Israel memulai operasi udara mendadak di jalur Gaza dan telah menewaskan lebih dari 1.200 warga Palestina dan melukai 2.000 lainnya (sindonews.com, 05/04/2025)
PBB mengatakan sedikitnya 100 anak telah terbunuh atau terluka setiap hari di Gaza sejak serangan tanggal 18 Maret. Hamas dalam satu pernyataannya mengatakan sekitar 1.100 anak telah di tahan tentara Israel sejak 7 Oktober 2023. Selanjutnya Hamas memperingatkan bahwa impunitas Israel mendorong eskalasi lebih lanjut atas kejahatan terhadap anak-anak di Palestina. Pendidikan Israel terus menargetkan anak-anak melalui kejahatan sistematis, termasuk menggunakan mereka sebagai tameng manusia, merampas pendidikan mereka, dan berupaya memutus identitas nasional mereka (erakini.id, 05/04/2025).
Mirisnya, Amerika -sebagai negara adidaya, pemilik gak veto di PBB- justru menggaris bawahi dukungan berkelanjutan bagi Israel (erakini.id, 05/04/2025).
Dunia Bungkam, HAM dan Perlindungan Anak Tak Berlaku untuk Anak Palestina
Fakta kebiadaban Israel terhadap warga khususnya anak-anak Palestina ini terjadi di tengah narasi HAM dan segala peraturan internasional tentang perlindungan anak. Nyatanya banyaknya aturan tersebut tidak mampu menghentikan apalagi mencegah derita nestapa anak-anak Palestina.
Keadaan demikian harusnya menyadarkan umat Islam bahwa kita tidak bisa mengharapkan lembaga-lembaga internasional dan semua aturan yang dihasilkannya untuk menuntaskan permasalahan di Palestina. Karena sekalipun lembaga-lembaga tersebut telah memberi peringatan hingga hukuman bagi Israel, nyatanya Israel masih dengan angkuh terus membombardir Palestina. Pada bulan November 2024 lalu misalnya, Mahkamah Pengadilan Internasional atau International Criminal Court (ICC) mengeluarkan surat penangkapan bagi Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu atas kejahatan perang dan pelanggaran kemanusiaan di Gaza, Palestina. Namun, faktanya hal itu tidak menyurutkan sedikitpun niat Israel untuk melanjutkan genosida di Palestina. Sebab ada Amerika yang senantiasa mendukungnya. Juga penguasa-penguasa negeri muslim yang justru mengkhianati saudara muslim di Palestina. Mereka menjalin hubungan baik dengan Israel, bahkan mereka yg memasok bahan bakar tanki-tanki Israel. Seolah meng-aminkan tindakan genosida kepada warga Palestina.
Maka jelas, masa depan Gaza dan Palestina ada di tangan umat Islam sendiri. Yakni dengan bersatunya umat Islam di bawah satu kepemimpinan daulah Islam, sehingga mampu menghimpun kekuatan seluruh tentara muslim untuk berjihad melawan Zionis laknatullah dan membebaskan bumi Palestina. Persatuan umat inilah yang semestinya diperjuangkan, bukan malah berharap pada lembaga internasional yg sebenarnya juga digawangi oleh Amerika.
Daulah Khilafah adalah Junnah
Daulah Khilafah adalah raain (pengurus urusan umat) serta junnah (perisai atau pelindung bagi umat). Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah SAW “Imam (Khalifah/kepala negara) adalah pengurus rakyat dan ia akan dimintai pertanggungjawabannya atas rakyat yang diurusnya.” (HR al-Bukhari dan Muslim).
Khalifah tidak akan membiarkan kedzaliman menimpa rakyatnya. Hal ini terbukti selama belasan abad khilafah berhasil menjadi benteng pelindung bagi rakyatnya termasuk anak-anak. Khilafah juga memberikan support system terbaik bagi tumbuh kembang anak, sehingga mereka tumbuh menjadi generasi cemerlang pembangun peradaban emas dari masa ke masa. Support system yang dimaksud mencakup pendidikan, kesehatan, serta jaminan keamanan bagi setiap warna negara daulah khilafah.
Maka, semestinya setiap muslim turut andil dalam perjuangan tegaknya kembali 'daulah khilafah ala minhajin nubuwwah' sebagai hujjah kepada Allah kelak di akhirat bahwa kita tidak diam berpangku tangan melihat kedzaliman yg terjadi di Palestina. Bahwa kita tidak pernah ridho dan membisu melihat anak-anak Palestina dan orang tua mereka dibantai oleh Zionis dan sekutu-sekutunya.
Karena sungguh persolan anak-anak Palestina hanya akan selesai jika persoalan Palestina terselesaikan dengan tuntas. Dan solusi tuntas masalah Palestina hanya bisa terwujud dengan jihad dan khilafah. Wallahu a'lam bi ash-showab....

No comments:
Post a Comment