Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Lonjakan Harga Jelang Lebaran: Buruknya Sistem Ekonomi Kapitalisme

Friday, April 11, 2025 | Friday, April 11, 2025 WIB Last Updated 2025-04-11T12:04:28Z
Lonjakan Harga Jelang Lebaran: Buruknya Sistem Ekonomi Kapitalisme

Farwah Azzahra Tsani, S.Pd


Harga santan kelapa di Pasar Induk Senaken mengalami lonjakan tajam pada bulan Ramadan tahun ini, mencapai Rp 60 ribu per kilogram. Kenaikan harga ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan harga pada tahun lalu yang hanya sekitar Rp 40 ribu per kilogram.


Menurut M. Yani, salah satu pedagang kelapa parut dan santan di pasar tersebut, kelangkaan stok kelapa lokal menjadi penyebab utama lonjakan harga.


"Kelapa lokal habis, jadi kami terpaksa mengambil kelapa dari luar daerah seperti Sulawesi dan Tanjung Jumlai," ujar Yani.


Selain itu, ia menambahkan bahwa kekeringan yang terjadi sebelumnya turut mempengaruhi produksi kelapa lokal, sehingga pasokan berkurang drastis.


Dengan tingginya permintaan santan menjelang Lebaran, Yani memprediksi harga santan akan terus mengalami kenaikan dalam beberapa hari ke depan.


"Biasanya harga santan hanya Rp 40 ribu per kilogram di Ramadan sebelumnya, tapi kini tembus Rp 60 ribu pe kilogram, dan bisa saja naik lagi menjelang Lebaran," katanya.


Permintaan yang sangat tinggi menjelang Lebaran diperkirakan akan semakin mendorong harga lebih tinggi. Tak hanya santan, harga kelapa juga mengalami lonjakan yang cukup signifikan. Pada tahun lalu, harga kelapa per buah hanya sekitar Rp 6 ribu, yang kemudian dijual seharga Rp 10 ribu di pasar. Kini, harga kelapa melonjak menjadi Rp 14 ribu per buah, yang menyebabkan harga jualnya di pasar mencapai Rp 18 ribu hingga Rp 20 ribu per buah.


Yamin, pedagang lainnya, menjelaskan bahwa kenaikan harga kelapa juga dipicu oleh pengadaan kelapa dari luar daerah. "Kami membeli kelapa dari luar daerah, bukan dari lokal lagi, makanya harga kelapa melonjak," ungkapnya.


Meskipun harga kelapa dan santan melonjak, permintaan pasar tetap tinggi, terutama menjelang Lebaran. Yamin menyebutkan bahwa stok kelapa yang kini ada di pasarnya sudah mencapai 1.500 buah dan terus bertambah.


"Permintaan menjelang Lebaran biasanya sangat tinggi, kami terus menambah stok," jelasnya.


Dengan kenaikan harga yang terus berlanjut, konsumen di Pasar Induk Senaken kini dihadapkan pada pilihan sulit. Meski begitu, tingginya permintaan terhadap santan dan kelapa menunjukkan ketergantungan masyarakat terhadap kedua komoditas tersebut, terutama di bulan Ramadan dan menjelang Lebaran.



--

Terus berulang

--


Gejolak harga bahan pokok termasuk bahan-bahan yang di perlukan untuk lebaran, hal ini menyebabkan rakyat semakin tertekan dan mengeluh karna mahalnya bahan-bahan tersebut dan harganya naik drastis dari yang sebelumnya.


Lonjakan harga ini tidak bisa di katakan sebagai fenomena biasa, menjaga stabilitas harga bahan pokok sehingga masyarakat mudah mengakses bahan pokok tersebut adalah tanggung jawab negara untuk menjamin pemenuhan kebutuhan pokok setiap individu rakyat yang berada dalam kekuasannya. Jelas kenaikan harga ini makin menambah penderitaan baru bagi mereka.


Karut marut harga bahan-bahan pokok ini yang selalu naik pada saat lebaran dan memasuki bulan ramadhan, buah dari penerapan sistem kapitalisme yang di terapkan saat ini.


Kebobrokan sistem ini terlihat di dunia dengan makin meluasnya krisis pangan dan kelaparan, jumlah rakyat yang kesulitan mengakses bahan pangan terus bertambah. 


Negara bahkan gagal mengantisipasi kenaikan harga saat jelang ramadhan dan lebaran. Seharusnya negara memudahkan rakyat untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.


Kegagalan sistem ini menjamin pemenuhan pangan karena hilangnya fungsinya politik negara yang sahih sebagai penanggung jawab untuk menyediakan pangan secara berkelanjutan, berkualitas, dan harga yang terjangkau.


Peran negara dibatasi hanya sekadar regulator dan fasilitator. Di sisi lain penguasaan pangan oleh korporasi justru makin menguat. Korporasi diberikan keleluasaan untuk menguasai seluruh rantai pengadaan pangan mulai dari produksi, distribusi, dan konsumsi berada di tangan korporasi yang tentunya berorientasi mencari untung.


--

Islam

--


Sangat dibutuhkan evaluasi secara mendasar dan komprehensif dalam tata kelola pangan kita, yaitu dengan penerapan sistem pengelolaan pangan Islam.


Tata kelola ini berpijak pada dua konsep mendasar, yaitu secara politik, Islam yang mengharuskan kehadiran negara secara penuh sebagai penanggung jawab semua kebutuhan rakyat sekaligus menjadi pelindung mereka. Pemerintahlah yang wajib mengatur semua rantai pangan, yaitu produksi, distribusi, sampai konsumsi rakyat. Negara juga harus menjamin semua individu rakyat mampu memenuhi kebutuhan pangan dengan layak, berkualitas, dan harga yang terjangkau.


Kemudian secara ekonomi,  sistem Islam akan menerapkan sistem ekonomi yang adil dan menyejahterakan seluruh rakyatnya.


Di dalamnya diatur dengan rinci tentang hak kepemilikan harta dan cara bagaimana mendistribusikan kekayaan yang benar sehingga akan terwujud pemerataan ekonomi.


Sistem sanksi dalam islam juga memiliki konsep pengawasan yang ketat dengan adanya kadi muhtasib. Yaitu kadi yang akan mengawasi dan menegakkan hukum secara tegas bagi para pelanggar aturan, seperti mafia, kartel, dan sebagainya.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update