Oleh : Risnawati
(Pegiat Literasi)
“Tidak perlu menjadi muslim untuk memahami penderitaan warga Gaza, Palestina. Tapi cukup jadi manusia untuk melihat penderitaan mereka.” Narasi ini banyak beredar di media social dan grup-grup komunitas, menandakan bahwa tanpa melihat agama manapun, apa yang dilakukan oleh kebrutalan zionis Israel sudah melampaui batas kemanusiaan.
Mengutip dari The Peninsula, Minggu, 20 April 2025, WFP menyatakan keprihatinan mendalam atas penurunan tajam stok pangan, dengan memperingatkan bahwa Jalur Gaza berada di ambang bencana kemanusiaan.
WFP menekankan bahwa situasi kritis ini diperparah penutupan perbatasan yang sedang berlangsung oleh Israel, yang mencegah pengiriman pasokan pangan penting ke Jalur Gaza. Menurut WFP, Gaza sangat membutuhkan aliran pangan yang tidak terputus dan terus-menerus untuk menghindari keruntuhan total ketahanan pangan.
Meskipun berbagai komunitas internasional tidak mengakui kependudukan Israel atas Palestina dan menentangnya. Namun pada dasarnya tidak ada reaksi yang bisa menghentikan penjajahan Israel terhadap Palestina, bahkan PBB sekalipun.
Padahal, program Pangan Dunia Perserikatan Bangsa-Bangsa (WFP) telah memperingatkan tentang krisis kemanusiaan yang semakin memburuk di Jalur Gaza, dengan menyatakan bahwa setidaknya dua juta orang - yang sebagian besar mengungsi - saat ini hidup tanpa sumber pendapatan apa pun, dan sepenuhnya bergantung pada bantuan kemanusiaan untuk memenuhi kebutuhan pangan utama mereka.
Dalam serangkaian pernyataan yang dirilis selama beberapa jam terakhir, WFP membunyikan alarm atas meningkatnya bahaya bagi ratusan ribu penduduk Gaza.
Namun, penderitaan kaum muslim di Gaza tak juga berakhir. Sementara penjajah Zionis justru makin brutal, berbuat di luar batas kemanusiaan. Kecaman para penguasa negeri Muslim dunia tak dihiraukan. Sungguh menyedihkan.
Telaah Akar Masalah
Patut diapresiasi, berbagai aksi Umat pembelaan terhadap warga Gaza, Palestina masih bergema di berbagai wilayah dunia termasuk di Indonesia. Meski narasinya masih banyak yang fokus pada sisi kemanusiaan dengan mengedepankan solusi-solusi parsial yanag belum berujung pada solusi pembebasan Gaza, Palestina
Saat ini umat Islam Gaza membutuhkan tentera-tentera negeri Islam untuk membebaskan dan melindungi mereka dari serangan biadab pasukan penjajah zionis Israel, karena seruan solidaritas umat terhadap pembebasan Gaza Palestina sudah sampai pada tahap penggerahan tentara yang diseur kepada para penguasa di negeri-negeri Muslim. Penguasa negeri Islam seperti Mesir,Turki, Saudi termasuk Iran dan negeri-negeri Islam lainnya sibuk beretorika membela Palestina. Tidak ada aksi nyata yang membuat Israel jera. Padahal mereka memiliki jutaan tentera yang bisa digerakkan.
Sejatinya, jika kita telaah lebih mendalam bahwa untuk menghentikan kebrutalan zionis Israel tidak bisa dengan diplomasi perdamaian yang tidak berujung. Tidak cukup dengan bantuan logistic, gerakan boikot atau ucapan simpati saja. Zionis Israel hanya memahami bahasa perang. Karena itu jihad fi sabilillah dengan mengirim tentara negeri Islam lah yang akan membungkam kekejian dan kebrutalan zionis Israel.
Telah banyak dilakukan oleh berbagai pemimpin terutama pemimpin-pemimpin negara muslim. Mereka menyatakan kecaman terhadap kekejian dan kebrutalan zionis Israel melalui siaran pers yang diumumkan pada dunia, namun tidak memiliki cukup keberanian untuk mengirimkan tentara bantuan dalam rangka mengusir tentara zionis Israel dari Gaza, Palestina. Kesulitan ini terjadi karena terganjal paham nasionalisme, aturan atau perjanjian internasional, kepentingan politik dan kungkungan barat. Konflik Gaza, Palestina dianggap sebagai urusan dalam negeri Palestina sendiri. Seperti yang memang diharapkan oleh Barat, sehingga zionis Israel tetap berlenggang dengan kejamnya di atas tanah Gaza, Palestina tanpa takut adanya serangan balik dari negara lain.
Tak hanya sampai di situ beberapa negara justru mengadakan normalisasi hubungan diplomatik dengan Israel yang dilakukan oleh empat negara Arab yaitu Uni Emirat Arab (UEA), Bahrain, Sudan, dan Maroko serta satu negara non-Arab Bhutan pada tahun 2020. Hal ini merupakan menciderai hati kaum Muslim di Gaza, Palestina.
Di sisi lain, para penguasa muslim tetap hanya mencukupkan diri dengan narasi kecaman tanpa aksi nyata. Bahkan meski Umat Islam hari ini sudah mulai menyerukan jihad sebagai solusi.
Butuh Perisai
Allah memerintahkan umat Islam memberi pertolongan pada saudaranya sesama muslim. Allah juga menyatakan umat muslim adalah bersaudara. Rasulullah saw. juga bersabda bahwa umat Islam adalah satu tubuh. Oleh karena itu wajib menolong saudaranya.
Selama umat masih terikat pada nasionalisme warisan penjajah, mereka tidak akan pernah benar-benar bersatu, dan jihad pun tidak akan digerakkan. Maka, umat Islam harus mencampakkan nasionalisme, menyadari bahwa penjajahan hanya bisa dihentikan dengan persatuan umat dalam satu kepemimpinan global, yaitu Khilafah (perisai)
Umat wajib menyeru semua muslim di seluruh dunia dengan seruan yang sama. Umat harus terus mengingatkan akan persatuan umat dan kewajiban menolong mereka. Umat harus bergerak menuntut penguasa muslim melaksanakan kewajiban menolong Palestina dengan melaksanakan jihad dan menegakkan khilafah .
Gerak umat harus ada yang memimpin agar terarah. Karena, Palestina sangat butuh pergerakan dunia Islam untuk sama-sama bersatu menyatukan kekuatan. Pertolongan darurat untuk membantu Gaza saat ini, adalah dengan mengirimkan tentara kaum muslim. Itu semua tidak bisa terjadi kecuali dengan adanya persatuan seluruh umat Islam di dunia. Persatuan kaum muslimin akan memastikan hadirnya kepemimpinan yang akan melindungi umat Islam sedunia sesuai dengan syariat Islam, sehingga kehidupan Islam dapat dilangsungkan kembali
Jadi, tidak ada cara lain. Gaza, Palestina dan dunia Islam membutuhkan kembali junnah yang telah hilang. Yakni satu kepemimpinan atas seluruh umat Islam, yakni khilafah. Khilafah yang akan mempersatukan kaum muslimin di seluruh dunia dan khalifah akan memberikan komando jihad membebaskan Palestina.
Walhasil, ketiadaan khilafah saat ini tak lantas membuat kita berdiam diri. Sebagai gantinya, kaum muslimin wajib menyerukan kembali tegaknya syariat Islam dan membangkitkan kembali kehidupan Islam. Solusi yang akan meyelesaikan masalah langsung dari akarnya. Ketika Islam telah ditegakkan, maka Islam rahmatan lil ‘alamiin akan terwujud, Gaza Palestina pun terbebas. Wallahu a’lam.

No comments:
Post a Comment