Oleh : Asham Ummu Lailah
Relawan Opini Andoolo, Sulawesi Tenggara
Syawal 1446 H merupakan bulan yang memilukan bagia anak-anak Palestina, bagaiamana tidak di antara jutaan anak muslim berkumpul, bersukacita bersama keluarga besar mereka, bersama ibu bapaknya, sementara sekitar 39.384 anak Palestina telah kehilangan satu atau kedua orang tua mereka akibat dari 500 hari pengeboman brutal. Angka ini dirilis menjelang hari anak Palestina pada 5 April (Media Indonesia, 05/4/ 2025).
Genosida Israel di Gaza telah menciptakan krisis anak yatim terbesar dalam sejarah modern. Anak-anak Gaza hidup dalam kondisi yang memilukan. Berlindung di tenda-tenda robek atau reruntuhan, rumah tanpa akses perawatan sosial, dan dukungan psikologis. Penderitaan mereka mengejutkan nurani. Hampir 18.000 anak tewas, termasuk ratusan bayi, perang ini tidak hanya merenggut nyawa orang tua mereka tapi juga masa kecil, rasa aman, dan masa depan mereka (SindoNews, 05/4/ 2025).
Mirisya semua realitas ini terjadi di tengah narasi soal HAM dan tetek bengek aturan internasional dan perangkat hukum tentang perlindungan dan pemenuhan hak-hak anak. Namun kenyataanya aturan tersebut alih-alih menuntaskan persoalan, yang ada justru penderitaan anak-anak Palestina “semakin memburuk “ dari hari ke hari, karena semakin kurangnya makanan, air, dan obat-obatan yang diperparah dengan serangan Israel yang terus berlanjut dan pembatasan ketat terhadap bantuan kemanusiaan.
Sampai detik ini masih banyak kebiadapan yang dilakukan Israel terhadap Palestina, banyak aturan yang dibentuk oleh lembaga-lembaga yang itu bertujuan untuk menuntaskan masalah Palestina tetapi tidak ada hasilnya, bahkan ada sebagian negeri muslim yang masih menjalin kerjasama dengan Israel. Konvensi PBB tentang hak anak ( United Nations Conbention on the Rights of the Child/ UNCRC), yang katanya akan memberikan kehidupan, kelangsungan hidup dan perkembangan. Namun semua itu hanyalah omong kosong.
Karena sejatinya tidak ada upaya serius dari PBB maupun organisasi negeri-negeri Islam seperti OKI dan Liga Arab untuk menghentikan keburatalan penjajahan Israel ke Palestina. Dapat dipastikan pula selama zionis Israel masih ada di Palestina maka rakyat Palestina termasuk anak-anak mereka akan selalu hidup dalam tekanan dan ancaman. Kenyatan ini harusnya membuka pemikiran dan kesadaran umat bahwa semua aturan yang dikeluarkan oleh oraganisasi internasional notebenenya adalah barat (AS) dan sekutu-sekutunya sudah pasti dirancang agar mereka memperoleh keuntungan yang dapat mendukung dan mengukuhkan kedudukan mereka di tanah umat Islam.
Keselamatan anak-anak Palestina dan seluruh warga Palestina hanya akan terwujud ketika kepemimpinan politik Islam itu ada, kepemimpinan Islam dalam bentuk negara yaitu khilafah lah yang akan mengurusi (raa’in) dan memberikan perlindungan serta perisai ( junnah ) bagi seluruh umat Islam termasuk Palestina. Yang akan mempersatukan seluruh kaum muslim di dunia yang akan menghapus sekat, batas pemisah negeri-negeri muslim di dunia hari ini.
Kehadiran khilafah akan memberikan support sistem bagi perkembangan anak dan generasi sehingga mereka dapat tumbuh sebagai pelanjut pembangunan peradaban Islam yang cemerlang. Yang akan membawa kehidupan sesuai dengan fitrahnya yaitu ketenangan kesejahteraan dan kedamaian, tidak hanya bagi anak-anak Palestina, tidak hanya bagi kaum muslim, tapi melainkan untuk seluruh alam. Sebagaimana firman AllahSWT, dalam Al-qur’an surat Al-Anbiya ayat 107 : “ Dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” Wallahu’alam Bishawab.

No comments:
Post a Comment