Oleh: Hasriyana, S.Pd
(Pemerhati Sosial Asal Konawe)
Satu tahun lebih sudah lamanya Palestina terus digenosida oleh zionis Israel tanpa rasa kemanusiaan. Bahkan seluruh wilayah Palestina tidak terkecuali Rafah sudah hampir rata semua dengan tanah. Namun anehnya, para penguasa muslim yang bahkan dekat dengan wilayah Palestina juga tidak bisa berbuat apa-apa untuk membantu saudara muslim di sana. Bahkan berita terakhir beberapa negeri muslim justru mendukung zionis Israel laknatullah.
Sebagaimana yang dikutip dari Sindonews, 05-04-2025, laporan baru mengungkapkan lebih dari 39.000 anak di Gaza telah kehilangan salah satu atau kedua orang tua mereka akibat genosida yang dilakukan Israel. Jumlah korban tewas akibat genosida Israel di Jalur Gaza telah meningkat menjadi 50.523 orang, dengan 114.776 lainnya terluka sejak 7 Oktober 2023. Biro Statistik Pusat Palestina menyatakan Gaza sedang mengalami krisis anak yatim terbesar dalam sejarah modern, dengan puluhan ribu anak kehilangan orang tua mereka karena serangan Israel yang sedang berlangsung.
Dalam pernyataan yang dikeluarkan menjelang Hari Anak Palestina, yang diperingati 5 April, biro tersebut melaporkan 39.384 anak di Gaza telah kehilangan salah satu atau kedua orang tua setelah 534 hari serangan Israel di Jalur Gaza. Di antara mereka, sekitar 17.000 anak telah ditinggalkan tanpa kedua orang tua, menghadapi hidup tanpa dukungan atau perawatan.
Sungguh sangat menyedihkan keadaan rakyat di Palestina yang hingga kini masih mengalami serangan dari Israel. Pun dengan maraknya berbagai aksi demontrasi yang terjadi diberbagai negara seharusnya dimanfaatkan untuk menyadarkan masyarakat, bahwa solusi yang ditawarkan saat ini entah dengan solusi dua negara ataupun solusi lain yang diberikan PBB ternyata bukan solusi yang tepat bahkan bukan pula solusi yang hakiki. Faktanya terbukti meski ada gencatan senjata, zionis Israel laknatullah tetap memborbardir wilayah Palestina.
Pun, dengan diamnya penguasa muslim saat ini di tengah genosida di depan mata menunjukkan bahwa tidak adanya persatuan kaum muslim di tengah umat. Sehingga umat muslim akan selalu jadi mangsa negara-negara kafir penjajah ketika mereka tidak bersatu. Hal ini jelas merupakan strategi para penjajah membagi wilayah-wilayah kaum muslim agar mereka mudah dijajah di negara mereka sendiri.
Bahkan bantuan kemanusiaan yang dikirimkan oleh saudara muslim yang lain tidaklah cukup hanya demikian, karena sebenarnya muslim Palestina juga membutuhkan bantuan militer negeri muslim lain untuk membantu mereka melawan zionis Israel. Bagaimana pun banyaknya bantuan yang dikirimkan jika mereka masih dibantai maka itu pun juga bukan solusi.
Olehnya itu, umat saat ini tidak bisa berharap dengan solusi yang ditawarkan oleh PBB. Karena faktanya genosida masih terus berlanjut sampai hari ini. Bahkan momen inilah yang seharusnya digunakan kaum muslim untuk terus menyuarakan bahwa solusi yang hakiki untuk persoalan Palestina adalah dengan jihad fisabilillah dengan tegaknya kepemimpinan kaum muslim.
Selain itu, dengan kepemimpinan Islam juga akan tercipta kesadaran politik kaum muslim dengan bersatunya kaum muslim di bawah satu bendera kepemimpinan. Bahkan Rasulullah Saw. telah menggambarkan dalam hadisnya berkaitan persatuan tersebut, “Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam saling mencintai, mengasihi, dan menyanyangi di anatara mereka adalah ibarat satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga (tidak bisa tidur) dan panas (turut merasakan sakitnya).” (HR. Muslim).
Di dalam Al-Qur'an surah Ali ‘Imran ayat 103 Allah Swt. juga menggambarkan persatuan yang artinya, “Dan berpegang teguhlahlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliyah) bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara, sedangkan (ketika itu) kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari sana. Demikianlah, Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk.”
Dengan demikian, kita tidak bisa berharap pada sistem saat ini yang solusinya semua berasal dari manusia dengan keterbatasannya, sehingga kita hanya bisa berharap pada sistem Islam yang berasal dari pencipta, yaitu Allah Swt., karena sungguh Allah yang menciptakan manusia, maka Dia pula yang lebih mengetahui mana aturan yang terbaik untuk hambanya. Wallahu a’lam.

No comments:
Post a Comment