Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Tawuran Terus Berulang, Hasil Potret Pendidikan Sekuler.

Wednesday, March 26, 2025 | Wednesday, March 26, 2025 WIB

 


Oleh : Rasyidah (Pegiat Literasi)


Sudah berulang kali, tawuran terus terjadi dan selalu melibatkan kalangan pelajar alias para remaja. Seperti kejadian yang terjadi di Kendari ini terus berulang, meskipun sebelumnya polisi telah mengelarkan jumat curhat, tapi kenyataannya tawuran terus berulang. 


Dilansir KENDARIPOS.FAJAR.CO.ID (23/3/2025) Polresta Kendari menggagalkan pelajar yang hendak tawuran. Empat pelajar yang akan terlibat dalam tawuran diamankan bersama dengan sejumlah alat bukti berupa senjata tajam rakitan.


Kasat Reskrim Polresta Kendari, AKP Nirwan Fakaubun, mengatakan tawuran sudah menjadi kebiasaan di kalangan remaja di Kendari. "Kami harus menghentikan kegiatan ini karena sangat meresahkan masyarakat, terutama pada malam hari, di mana banyak warga merasa terganggu dengan kerumunan anak-anak pelajar yang melakukan aksi kekerasan,".


Sungguh miris menyaksikan tawuran yang kian hari makin parah dan meningkat. kondisi generasi para remaja saat ini, benar-benar sudah jauh dari tabiat mereka sebagai generasi yang baik. Jauh dari moralitas positif. Mengapa demikian,? Karena anak-anak remaja tak merasa takut untuk melakukan tawuran tersebut dan tak memiliki sikap jera jika di berikan sanksi. Dan tak memikirkan apapun konsekuensi dari tawuran pada kekerasan dengan membawa senjata tajam yang berakhir dengan kematian.


Tawuran terus berulang yang dilakukan oleh remaja saat ini tentu, tak akan terjadi dengan begitu saja. Namun ada beberapa faktor yang menjadi pemicu dari kasus tawuran ini terus berulang. Diantaranya sebagai berikut:


Pertama, faktor internal yakni lemahnya kontrol diri pada individu remaja. Meskipun secara fisik remaja ini sudah mencapai tahap mumayiz, yakni sudah pada tahap akil dan baligh. Namun anak-anak remaja saat ini dengan mudah terbawa arus-arus negatif. Mudah terpengaruh oleh lingkungan temannya yang memang sudah toxic. Selain itu mereka juga beranggapan bahwa tawuran ini adalah dalih sebagai bentuk Solidaritas sesama mereka. Artinya mereka dengan rela untuk di ajak melakukan tawuran dan tanpa memikirkan konsekuensi apa yang akan didapatkan.


Kedua, adanya krisis identitas lalu hilangnya fungsi keluarga. Dimana saat ini fungsi keluarga tidak sesuai dengan fitrahnya. Seharusnya keluarga menjadi tempat perlindungan dan tempat pendidikan bagi anak. 


Kedua, faktor ekternal yakni hilangnya fungsi keluarga yang membuat remaja merasakan krisis identitas. Ini juga bagian faktor yang memicu remaja melakukan perbuatan maksiat, disebabkan fungsi keluarga tidak berperan sesuai fitrahnya. Keluarga tak menjadi tempat perlindungan dan tempat pendidikan bagi anak-anaknya.


Misalnya, seorang ibu seharusnya menjadikan dirinya sebagai madrasah pertama bagi anaknya, namun ibu lalai melakukan hal tersebut. Karena harus membantu mencari nafkah demi memenuhi kebutuhan hidup yang di sebabkan adanya himpitan ekonomi yang kian mencekik. Selain itu, seorang ayah pun juga telah lalai dalam tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga tak memberikan contoh dan pembinaan yang baik dan benar dalam rumah tangganya.


Ketiga, faktor ekternal yang berasal dari lingkungan masyarakat yang tidak kondusif dan meninggikan rasa individualisme. Selain itu, hilangnya kontrol sosial dari masyarakat setempat terhadap moral anak-anak.


Keempat, faktor ekternal berasal dari pengaruh negatifnya media sosial. media sosial begitu masif dalam mempengaruhi anak-anak remaja dengan berbagai konten yang mudah dan bebas diakses yang dapat merusak pemikiran mereka.


Faktor ke enam adalah, kegagalan dari sistem pendidikan yang tidak berbasis pada akidah Islam yang tentunya menjauhkan para generasi saat ini dari ketakwaan kepada Allah SWT, yang melahirkan generasi yang rusak, rapuh serta tidak mengetahui antara halal dan haram. 


Sehingga mudah terkontaminasi dengan segala hal-hal yang bersifat negatif dan buruk. Faktor yang keenam, abainya negara yang tidak bisa menyelesaikan dan mencari apa akar masalah dari persoalan tawuran ini.


Ketujuh adalah faktor yang berasal dari sistem sanksi yang lemah tidak bisa memberikan efek jera dalam penerapan dan penegakannya membuat kasus tawuran ini semakin sulit untuk diberantas. Meskipun para aparat tetap melakukan upaya, tapi upaya yang di lakukan hanya menyentuh sebagian kecil tak sampai kepada akarnya.


Semua faktor tersebut adalah buah dari penerapan sistem sekular kapitalis. Sebuah sistem hidup yang memisahkan agama dari kehidupan. Sehingga banyak membuat terjadinya kerusakan dalam segala aspek kehidupan karena sistem ini tidak memanusiakan manusia. Sistem ini merusak pemikiran dan juga budaya dengan berbagai faham yang lahir dari sekularisme yaitu paham kebebasan.



Sistem ini menjadikan negara abai terhadap tugasnya untuk bisa mensejahterakan, membentuk dan nenjaga generasi-generasi cemerlang sebagai penerus peradaban. Yang ada justru sistem sekular merusak dan menyia-nyiakan potensi besar pada generasinya dengan berbagai persoalan-persoalan dekadensi moral yang terus terjadi dalam masyarakat. 


Dalam sistem pendidikan Islam kurikulum berbasis kepada akidah Islam, dengan kurikulum ini akan mampu melahirkan generasi berkepribadian mulia yaitu berkepribadian Islami yang taat kepada Allah SWT. Generasi yang mampu membedakan mana halal dan haram sehingga mencegah dari berbagai perbuatan maksiat dan kriminalitas.


Negara dalam sistem Islam tentunya akan memberikan lingkungan yang kondusif dengan berbagai mekanisme yang sesuai dengan syariat Islam dalam berbagai aspek, baik dari Individu dengan adanya kesadaran akan ketaatan kepada Allah SWT.


Begitu juga dalam sebuah keluarga yang dijaga agar senantiasa fungsi keluarga sesuai dengan fitrahnya. Yakni sebuah keluarga menjadi tempat perlindungan dan juga pendidikan bagi seorang anak dengan ibu sebagai madrasah pertama dan utama.


Begitu juga masyarakat dalam Islam yang senantiasa menjaga dan beramar makruf, masyarakat Islam mempunyai tujuan, peraturan dan pemikiran yang sama dengan negara yang melindungi dan sebagai pembuat kebijakan yang akan memberikan kesehjateraan dan perlindungan kepada rakyatnya dengan berbagai mekanisme dalam segala aspek kehidupan yang sesuai dengan syariat Islam.


Sehingga penerapan syariat Islam secara menyeluruh akan menyuburkan ketakwaan dan juga mendorong para generasi untuk bisa produktif dalam segala aspek kehidupan. Dengan adanya dukungan dari sistem yang benar dan sempurna maka akan mampu melahirkan generasi takwa, tangguh, cerdas dan berkarya dalam segala kebaikan. 


Sungguh hanya dalam aturan Islamlah kehidupan makin lebih cerah dan generasi yang di hasilkan adalah generasi bermartabat tinggi karena akidah dan akhlaknya yang sesuai Islam, wallahualam bissawab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update