Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Palestina di Bawah Penjajahan: Ketidakadilan di Al-Aqsa dan Jalan Menuju Kebebasan

Friday, March 28, 2025 | Friday, March 28, 2025 WIB

 


Oleh Shabrina Nibrasalhuda

Mahasiswi

 

Ramadan adalah waktu yang istimewa bagi umat Islam untuk meningkatkan ibadah. Masjid-masjid di seluruh dunia dipenuhi dengan berbagai kegiatan keagamaan seperti iftar, salat, zikir, tilawah, dan dakwah. Namun, situasi berbeda terjadi di Masjidilaqsa di Yerusalem, di mana umat Islam Palestina menghadapi berbagai pembatasan dalam beribadah akibat kebijakan keamanan yang diberlakukan oleh otoritas Israel.

Israel hanya mengizinkan laki-laki Palestina berusia 55 tahun ke atas, perempuan berusia 50 tahun ke atas, serta anak-anak berusia 12 tahun ke bawah untuk memasuki Yerusalem. Pemerintah Israel menyatakan bahwa hanya sejumlah kecil jemaah Muslim dari Tepi Barat yang diperbolehkan masuk, sebagai bagian dari kebijakan pembatasan akses ke Masjidilaqsa. Menurut juru bicara Israel, kebijakan ini diterapkan setiap tahun sebagai langkah pencegahan terhadap potensi gangguan keamanan di kawasan tersebut. Ribuan aparat keamanan Israel ditempatkan di gerbang Masjidilaqsa dan Kota Tua Yerusalem untuk memberlakukan aturan ini. Dikutip dari middle east eye (2025).

Kebijakan pembatasan ini menuai kritik dari berbagai pihak. Otoritas Palestina serta organisasi internasional menganggapnya sebagai pelanggaran terhadap hak asasi manusia dan kebebasan beribadah umat Islam. Selain pembatasan, serangan militer juga terjadi. Pada 18 Maret 2025, serangan udara Israel ke Jalur Gaza menewaskan lebih dari 400 orang dan melukai lebih dari 560 lainnya, mayoritas di antaranya adalah anak-anak. Serangan ini disebut sebagai yang terbesar sejak gencatan senjata disepakati pada Januari 2025.

Meskipun menghadapi pembatasan ketat, umat Islam Palestina tetap menjalankan ibadah Ramadan di Al-Quds dengan penuh semangat. Mereka mengadakan sahur dan iftar di pelataran Masjidilaqsa serta menunaikan salat berjemaah, termasuk Tarawih. Pada 18 Maret 2025, sekitar 80.000 jemaah menghadiri salat Jumat kedua Ramadan di kompleks Masjidilaqsa. Namun, jumlah ini mengalami penurunan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya akibat kebijakan pembatasan.

Hamas mendorong umat Islam Palestina untuk tetap datang ke Masjidilaqsa sebagai bentuk perlawanan terhadap pembatasan yang diberlakukan Israel. Dalam pernyataannya pada 1 Maret 2025, Hamas menyerukan agar Ramadan dijadikan momentum untuk memperkuat ibadah, menunjukkan keteguhan hati, serta menolak pendudukan Israel. Mereka juga mengajak warga Palestina di seluruh dunia untuk mendukung saudara-saudara mereka yang berada di Gaza, Tepi Barat, dan Yerusalem.

Berdasarkan data Wakaf Islam, jumlah jemaah salat Jumat pada Ramadan tahun ini adalah yang terendah dalam dua tahun terakhir. Pada Ramadan 2023, sekitar 250.000 jemaah menghadiri salat Jumat di Masjidilaqsa, sementara pada 2024 jumlahnya menurun menjadi 120.000. Penurunan ini disebabkan oleh kebijakan pembatasan yang terus diperketat.

Melihat umat Islam Palestina yang tidak dapat beribadah dengan leluasa di Al-Quds tentu menimbulkan kesedihan mendalam. Pembatasan keamanan serta serangan yang terus berlangsung menunjukkan bahwa penjajahan di wilayah ini masih nyata. Keamanan kaum Muslim Palestina tidak berada dalam kendali mereka sendiri, melainkan di bawah kontrol Israel. Ironisnya, pihak penjajah dapat dengan bebas memasuki kompleks Masjidilaqsa, sementara umat Islam justru menghadapi berbagai hambatan untuk mendekati masjid suci tersebut. Gencatan senjata yang ada pun terbukti rapuh dan tidak mengubah kenyataan bahwa Al-Quds masih berada dalam cengkeraman penjajahan. 

Situasi ini tidak akan berubah selama eksistensi Israel tetap bertahan di Palestina. Penjajahan akan terus berlanjut selama struktur kekuasaan yang menopang penjajahan tersebut masih bercokol di sana. Syekh Taqiyuddin an-Nabhani dalam bukunya Mafahim Siyasiyati li Hizb at-Tahrir menyatakan bahwa keberadaan entitas Israel di Palestina menjadi sumber utama ketidakstabilan di Timur Tengah, bahkan berdampak pada situasi global. Barat sendiri mengakui bahwa sebagian besar masalah dunia yang menjadi beban bagi mereka berasal dari keberadaan negara Israel di Palestina, yang merupakan bagian penting dari dunia Islam. 

Meskipun berbagai resolusi telah dikeluarkan oleh Dewan Keamanan PBB dan kecaman datang dari Liga Arab, Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), serta negara-negara Muslim lainnya, tidak ada langkah nyata yang diambil untuk mengusir penjajah dari Al-Quds. Tidak satu pun dari negara-negara ini yang mengerahkan kekuatan militer untuk membebaskan wilayah tersebut. 

Ketidakmampuan penguasa negeri-negeri Muslim dalam menangani masalah ini bukan karena mereka kekurangan kekuatan, tetapi lebih disebabkan oleh paham nasionalisme yang membelenggu mereka. Nasionalisme membuat mereka menganggap persoalan Al-Quds hanya sebagai masalah Palestina, bukan sebagai masalah umat Islam secara keseluruhan. Akibatnya, mereka lebih sibuk mengurus kepentingan politik dalam negeri masing-masing daripada berupaya membebaskan Al-Quds. 

Alih-alih memberikan dukungan penuh kepada Palestina, beberapa negara Arab justru melakukan normalisasi hubungan dengan Israel. Mereka mengikuti skenario solusi dua negara yang diinisiasi oleh Amerika Serikat, yang pada dasarnya berpihak pada kepentingan Israel. Lebih jauh lagi, negara-negara Arab kini bahkan mendukung rencana rekonstruksi Gaza yang digagas oleh pemerintahan Trump, dengan dalih mencapai "perdamaian" antara Palestina dan Israel. Kenyataannya, langkah ini tidak lain adalah bentuk dukungan terhadap penjajahan Israel di Palestina. Akibatnya, Israel tetap eksis dan semakin brutal dalam melakukan penindasan, perampasan wilayah, serta tindakan kejam lainnya, bahkan di bulan suci Ramadan.

Pembebasan Palestina tidak bisa bergantung pada PBB, Liga Arab, OKI, atau negara-negara Barat. Umat Islam, baik di Palestina maupun di seluruh dunia, harus mengambil peran utama dalam perjuangan ini. Mereka tidak boleh menyerah atau terpengaruh oleh propaganda musuh yang bertujuan melemahkan semangat juang. Perlawanan harus terus berlanjut dengan semangat jihad fi sabilillah, sebagaimana diperintahkan dalam Al-Qur'an. 

Meskipun Israel mendapat dukungan penuh dari Amerika Serikat dan sekutunya, umat Islam harus yakin bahwa pertolongan Allah selalu bersama mereka yang sabar. Sejarah telah menunjukkan bahwa makar yang dibuat oleh musuh Islam pada akhirnya akan dibalas oleh Allah dengan rencana yang lebih baik. 

Ramadan bukan hanya bulan ibadah, tetapi juga bulan perjuangan dan kemenangan. Umat Islam harus menjadikan pembebasan Palestina sebagai tanggung jawab bersama dan tidak terjebak oleh narasi perdamaian yang justru menguntungkan penjajah. 

Akar utama persoalan Palestina adalah ketiadaan Khilafah yang berfungsi sebagai perisai bagi umat Islam. Sejarah membuktikan bahwa ketika Palestina berada di bawah naungan Khilafah, umat Islam bisa hidup dengan aman dan sejahtera. Oleh karena itu, solusi hakiki untuk membebaskan Palestina adalah dengan menegakkan kembali Khilafah, yang mampu mengerahkan kekuatan besar untuk mengusir penjajah dari Al-Quds. 

Umat Islam harus menjadikan penegakan Khilafah sebagai agenda utama. Kesadaran kolektif tentang pentingnya Khilafah perlu dibangun melalui dakwah yang bersifat pemikiran dan politis, sesuai dengan metode dakwah Rasulullah saw. Hanya dengan kembalinya Khilafah, umat Islam dapat kembali hidup dalam keadilan dan kemuliaan. Wallahualam bissawab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update