Oleh: Yati Ummu Hafidz
Anaknya makan gratis, kakanya berhenti kuliah, sedangkan bapaknya kehilangan pekerjaan alias PHK, alasannya efisiensi katanya.
Belum lagi sektor kesehatan soal aturan BPJS terbaru, yang mengurangi kualifikasi jenis penanganan penyakit oleh BPJS. Sehingga terjadi banyaknya pasien pulang dengan tangan kosong bahkan meninggal diruang IGD tanpa penanganan serius, sementara mereka ratarata pasien BPJS kelas atas, tanpa penunggakan sekalipun.
Tak cukup sampai disitu, soal penguasaan lahan para oligarki dan pemilik modal yang terus meluas di negeri ini, dan nampaknya para pemimpin negri justru tidak menunjukkan keseriusan dalam penanganan kasus sampai tuntas.
Ditambah kasus korupsi dana sana sini para petinggi negri semakin merajalela namun hukum tak mampu mengadili dan memberikan efek jera kepada para pelaku.
Belum lagi persoalan yang melanda masyarakatpun kian bertambah; pelecehan, pergaulan bebas, pembunuhan, pinjol dan judol yang terus merajalela.
Aneh bin ajaib, apa yang disuguhkan didepan mata hari ini benar benar diluar nalar.
Kesemerawutan sana sini cukup membuka mata kita, bahwa apa yang diciptakan oleh mesin kapitalis hari ini hanyalah gali lubang tutup lubang. Pasalnya, disetiap kebijakan dan program baru yang dibuat pemerintah selalunya ada hal lain menjadi tumbalnya, bagaikan lingkaran syaitan yang tak akan pernah menemukan ujung penyelesaian masalah.
Masalah itu tak lain karena semua urusan hidup, termasuk politik kita hari ini tak bersandar pada Islam. Islam dipahami sebatas ibadah ritual semata, sementara urusan kehidupan dikembalikan pada pola pikir dan kebijakan manusia itu sendiri. Inilah yang dinamakan pemikiran kapitalisme sekuler. Walhasil, dari paradigma ansurd inilah yang melahirkan rezim khianat, yang tunduk pada kepentingan pemilik modal dan Oligarki. Begitupula masyarakatnya, hidup dalam kubangan sifat hedonisme, individualitas, dan penuh pengabaian pada hukum syara.
Kini sudah saatnya kita melek dengan kondisi diluar diri kita, termasuk urusan negri tercinta kita, bahwa sistem hari ini ( sistem Demokrasi yang berasaskan kapitalis-sekuler) sudah tak layak untuk dipertahankan lagi. Dan saatnya kita kembali pada sistem kepemimpinan Islam (khilafah), yang datangnya dari Sang Maha Pencipta kehidupan, yang memiliki problem-sholving dengan sangat detail dijelaskan dalam alqur'an, hadis dan ijma sahabat juga qiyas, sehingga tidak membuat bingung apalagi kehilangan arah. Kepemimpinan yang telah terbukti 1.300 tahun lamanya mampu memimpin dunia dan memberikan kesejahteraan menyeluruh dalam setiap sendi kehidupan, juga minim kerusakan dan masalah, serta mampu mengeluarkan manusia dari segala keterpurukan menuju kebangkitan yang hakiki.
Dan kembalinya kehidupan Islam ini telah menjadi janji Allah dan telah dikabarkan oleh RasulNya, bahwa kepemimpinan akan kembali ketangan kaum muslim.
Sebagaimana Firman Allah SWT, dalam surah AnNur 55:
وَعَدَ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْ وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَـيَسْتَخْلِفَـنَّهُمْ فِى الْاَ رْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۖ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِيْنَهُمُ الَّذِى ارْتَضٰى لَهُمْ وَلَـيُبَدِّلَــنَّهُمْ مِّنْۢ بَعْدِ خَوْفِهِمْ اَمْنًا ۗ
" ..Dia (Allah) sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka dengan agama yang telah Dia ridhoi. Dan Dia benar-benar mengubah (keadaan) mereka, setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa..". ( An nur:55)
Sabda Rasulullah Saw:
ثُمَّ تَكُونُ خِلاَفَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ ثُمَّ سَكَتَ
"Selanjutnya akan ada kembali Khilafah yang mengikuti minhaj kenabian.” Beliau kemudian diam". (HR Ahmad dan Al-Bazar).
Sekarang pertanyaannya, kitanya mau berada dipihak yang mana?
Apakah sebatas menjadi penonton, pecundang ataukah sebagai pejuang?
life is choice!
Wallaahua'lam bisshowaab.
