Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Harga Cabai Selangit, Butuh Solusi Konkrit

Tuesday, March 18, 2025 | Tuesday, March 18, 2025 WIB




Oleh: Ummu Munib

Aktivis Muslimah


Cabai merupakan komoditas pertanian yang banyak ditanam dan dikonsumsi  masyarakat Indonesia. Cabai sudah lazim digunakan sebagai bumbu dapur untuk membuat masakan menjadi lebih lezat dan menarik, sehingga menjadi penambah selera makan. 


Diberitakan Ayobandung.com bahwa  di Pasar Soreang, Kabupaten Bandung, harga cabai merah mengalami lonjakan yang cukup signifikan sejak awal Ramadan 2025 hingga menembus Rp 120 ribu/kg. Sebagian masyarakat terpaksa menahan untuk membelinya, karena harganya setara dengan harga daging sapi sehingga terasa berat di kantong para ibu -ibu. 


Menanggapi hal ini, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bandung, Ning Ning Hendasah mengatakan bahwa cuaca ekstrem dan adanya penyakit Fusarium yang  masiff terjadi pada musim penghujan menyebabkan pembusukan pada tanaman cabai, produksi menjadi berkurang walaupun masih aman. Selain itu meningkatnya permintaan sejak di awal Ramadan juga turut menjadi penyebab kenaikan. (Ayobandung.com 4/3/2025).


Faktor alam memang merupakan salah satu penyebab gagalnya tanaman cabai, sehingga ketika permintaan tinggi, barang terbatas secara otomatis harga akan naik sesuai hukum pasar. Namun perlu dicermati ternyata yang mengalami kenaikan bukan hanya cabai yang dipengaruhi faktor alam secara langsung saja, melainkan hampir sebagian besar bahan pokok. Sebagai contoh, beras yang stoknya cukup, juga mengalami kenaikan harga. Padahal secara teori kalau stok cukup pasti harga tidak akan naik. Tetapi faktanya beras tetap naik. Artinya ada hal lain selain hukum pasar yaitu yang disebut distorsi pasar. Ada campur tangan para pelaku bisnis yang ingin mengeruk keuntungan sebesar-besarnya. 


Di sisi lain nampak hilangnya fungsi negara sebagai pengatur distribusi pangan. Apa yang seringkali dilakukan pemerintah biasanya baru sebatas menggelar oprasi pasar dengan tujuan menyeimbangkan harga. Namun sampai saat ini fluktuasi harga terus berlanjut, membuat pusing masyarakat. 


Penyebab semua itu tiada lain karena Indonesia menerapkan sistem ekonomi kapitalisme sekular dengan konsep pasar bebasnya. Negara menyerahkan pengelolaan tata niaga kepada swasta sehingga pengendalian harga dikontrol oleh korporasi swasta dan pedagang besar. Harga ditentukan oleh pihak yang paling besar menguasai stok pangan. Sehingga negara tidak berdaya menghadapinya. Faktor lain yang menjadikan harga melambung adalah suburnya penimbunan. Lagi-lagi pemerintah tidak berdaya menghentikannya atau sekadar mengurangi pelaku kecurangan ini. 


Kapitalisme meniscayakan para kapitallah yang menguasai dan mengendalikan harga. Sekularisme, yaitu meminggirkan peran agama dalam kehidupan termasuk dalam berbisnis, maka yang dikejar semata-mata keuntungan, tak peduli halal haram. Tak peduli apakah bisnisnya diberkahi atau tidak. 


Berbeda dengan sistem Islam di mana negara turun langsung agar distribusi barang sampai ke tengah masyarakat dengan harga terjangkau. Jika terjadi bencana di sebuah wilayah yang mengakibatkan gagal panen, sehingga harga melambung tinggi, maka penguasa dalam sistem Islam akan segera membeli jenis pangan tersebut di wilayah lain untuk dijual ke pasar dengan maksud bukan mencari keuntungan, tapi dengan tujuan menyeimbangkan harga pasar agar rakyat tidak kesulitan. Negara benar-benar hadir memberi solusi bagi rakyatnya. Hal ini pernah dilakukan oleh Khalifah UmarUmar ra. 


Pemimpin seperti ini hanya ada dalam sistem yang menerapkan Islam kaffah, dimana posisi penguasa adalah sebagai raain (penggembala) yang bertanggungjawab terhadap seluruh rakyatnya individu per individu. Jangan sampai suasana kekhusuan ibadah terganggu. 


Selain itu penguasa akan menindak tegas para pelaku kecurangan, baik penimbun ataupun para mafia yang mengendalikan harga, dengan menjatuhkan sanksi sesuai syariah, agar penyimpangan tidak terulang. 


Seperti itulah kemampuan penguasa dalam sistem Islam yang sudah dipraktikkan sepanjang sejarah keemasan Islam. Maka untuk menjaga kestabilan harga yang tekangkau butuh solusi konkrit yang hanya bisa dijalankan oleh seorang khalifah. 


Wallahu’alam bishawab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update