Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Gaza Menyambut Ramadhan Dalam Bayang-Bayang Aneksasi

Wednesday, March 05, 2025 | Wednesday, March 05, 2025 WIB

Gaza Menyambut Ramadhan Dalam Bayang-Bayang Aneksasi

Oleh; Hafsah Syamsul

(Praktisi Pendidikan)


Ramadhan, bulan penuh berkah dan kemenangan, kembali menyapa umat Islam di seluruh dunia. Namun, bagi saudara-saudara kita di Gaza, Ramadhan tahun ini tetap dibayangi penderitaan yang tak berkesudahan. Alih-alih merasakan kedamaian dan suka cita menyambut bulan suci, mereka harus menghadapi ketidakadilan dan kekejaman yang terus berlangsung di tanah mereka sendiri.


Kondisi Gaza tak beranjak dari keterpurukan dan kesedihan. Setiap hari, masyarakat di sana harus menghadapi realitas pahit akibat kebrutalan Zionis. Gencatan senjata yang seharusnya menjadi secercah harapan bagi mereka, justru terus dikhianati. Sebagaimana dilaporkan oleh (cnbcindonesia.com/23/2/2025), Hamas telah membebaskan sandera sebagai bagian dari kesepakatan, tetapi Israel kembali ingkar janji dan terus melanjutkan serangannya. Peristiwa ini hanya satu dari sekian banyak pengkhianatan yang telah terjadi selama bertahun-tahun.


Tak hanya itu, kebijakan-kebijakan internasional pun terus memperburuk keadaan. Baru-baru ini,mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengusulkan pencaplokan Gaza, yang memicu reaksi dari negara-negara Arab (cnbcindonesia.com/22/02/25). 

Namun, sebagaimana sering terjadi, reaksi tersebut tidak lebih dari sekadar retorika politik yang minim aksi nyata. 


Sejarah telah menunjukkan bahwa solusi dari meja perundingan tidak pernah menghasilkan keadilan bagi rakyat Palestina. Sementara Gaza terus menjadi ladang pembantaian, solusi sejati justru terletak pada kebangkitan umat Islam sendiri.


Gaza Butuh Pelindung Jangan Diabaikan


Salah satu penyebab utama penderitaan berkepanjangan ini adalah tidak adanya pelindung sejati bagi umat Islam. Negara-negara Muslim yang seharusnya bertindak sebagai perisai bagi Gaza justru memilih diam bahkan menjalin hubungan diplomatik dengan Zionis. Alih-alih melindungi saudara seimannya, banyak penguasa Muslim justru menjadi ‘pelindung’ kepentingan Zionis dengan berbagai dalih politik dan ekonomi. Akibatnya, umat Islam di Gaza terus menjadi korban, tanpa ada kekuatan besar yang membela hak-hak mereka.


Ketidakpedulian ini seharusnya menjadi alarm bagi umat Islam di seluruh dunia. Bukankah Rasulullah telah bersabda bahwa umat Islam itu seperti satu tubuh, di mana jika satu bagian sakit, maka seluruh tubuh akan merasakannya? 


Lantas, di mana rasa sakit itu bagi sebagian besar umat Islam saat ini? Apakah kita telah terbiasa melihat penderitaan saudara-saudara kita hingga rasa kepedulian itu terkikis?

Dalam sejarah Islam, umat Islam tidak pernah berada dalam kondisi tertindas seperti ini ketika memiliki junnah, yaitu kepemimpinan Islam yang mampu melindungi kehormatan dan nyawa umat. Konsep junnah ini bukan sekadar teori, melainkan telah terbukti dalam sejarah panjang peradaban Islam. Pada masa Kekhilafahan Utsmani, ketika hanya satu orang Muslim disakiti di sebuah negeri, Khalifah langsung mengirim pasukan untuk membela kehormatannya.


Hari ini, jutaan umat Islam di Palestina disiksa, dibunuh, dan diusir dari tanah mereka, tetapi dunia Islam hanya mampu mengutuk tanpa tindakan nyata.


Ketiadaan junnah ini menunjukkan bahwa umat Islam berada dalam posisi yang lemah. Gaza hanyalah satu contoh dari sekian banyak wilayah Muslim yang mengalami nasib serupa. Uighur di China, Rohingya di Myanmar, dan Kashmir di India juga mengalami penindasan yang sistematis. Semua ini menunjukkan bahwa umat Islam tidak memiliki kekuatan politik dan militer yang mampu menahan agresi musuh-musuh mereka.


Membangun Kesadaran Menuju Kepemimpinan Islam


Untuk mengakhiri penderitaan ini, umat Islam harus menyadari bahwa solusi sejati bukanlah sekadar menunggu belas kasihan dari negara-negara Barat atau berharap perubahan kebijakan internasional yang tidak berpihak kepada mereka. 


Solusi sejati terletak pada tegaknya kepemimpinan Islam yang mampu melindungi umat dan mengusir penjajah dari tanah kaum Muslimin.

Menegakkan kembali kepemimpinan Islam bukanlah perkara mudah, tetapi juga bukan hal yang mustahil. Dalam sejarahnya, Rasulullah telah memberikan contoh bagaimana perubahan besar dalam peradaban terjadi melalui dakwah dan perjuangan yang konsisten. Beliau membangun kesadaran umat, mengorganisasi mereka dalam jamaah yang terstruktur, dan menempuh jalan dakwah hingga Islam menjadi kekuatan global. Inilah metode yang harus diikuti oleh umat Islam saat ini jika ingin keluar dari keterpurukan.


Dakwah yang menyeru kepada Islam secara utuh harus terus berlangsung, mengajak umat untuk memahami ajaran Islam secara menyeluruh, bukan hanya sebagai agama ritual, tetapi sebagai sistem kehidupan yang mencakup politik, ekonomi, hukum, dan pertahanan. Umat Islam harus didorong untuk tidak hanya bersimpati terhadap penderitaan di Gaza, tetapi juga berjuang untuk perubahan mendasar dalam struktur politik dan pemerintahan dunia Islam.

Ramadhan seharusnya menjadi bulan kemenangan bagi umat Islam. Namun, bagi Gaza, Ramadhan kembali hadir dalam suasana derita dan penjajahan. Keadaan ini tidak akan berubah jika umat Islam terus mengabaikan perintah Allah untuk bersatu dan berjuang. 


Tanpa kepemimpinan yang melindungi, Gaza akan terus menjadi sasaran agresi, dan umat Islam akan terus terpecah belah tanpa kekuatan politik yang mampu melawan ketidakadilan global.

Saatnya umat Islam mengambil langkah nyata untuk membangun kembali junnah yang akan melindungi kaum Muslimin di seluruh dunia. Perjuangan ini bukan hanya untuk Gaza, tetapi untuk seluruh umat Islam yang mendambakan kemuliaan dan keadilan di bawah naungan Islam yang sempurna.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update